Serat Karbon Untuk Fashion

Rabu, 30 November 2016 | 17:10 WIB

Penggunaan motif karbon telah menjadi salah satu pilihan yang menarik untuk melakukan dress up pada kendaraan. Sejatinya kemunculan serat karbon di dunia awalnya adalah untuk kepentingan industri. Seiring perkembangan zaman, dunia otomotif pun mulai mengaplikasikannya.

Dunia balap menjadi referensi untuk memanfaatkan kelebihan serat karbon. Tujuannya adalah reduksi bobot yang signifikan untuk menghasilkan performa maksimal. Sifat carbon fiber yang kokoh dan kuat namun ringan adalah poin penting yang menjadi nilai jualnya.

Kini penggunaan serat karbon tak lagi terbatas pada kompetisi saja, sebab motifnya yang berbentuk anyaman memiliki keindahan sehingga fungsinya kemudian digiring ke arah fashion. Selain itu, harga jualnya yang masih tergolong tinggi mengangkat nilainya sebagai salah satu material aksesori berkelas.
Jika diperhatikan pemasangan panel karbon pada tuning atau dress up mobil umumnya ada yang memang mempertimbangkan fungsinya untuk mengurangi bobot, namun ada juga yang hanya mengedepankan sisi fashion saja.

Untuk keperluan balap, kap mesin, fender, dan tutup bagasi adalah panel bodi yang paling sering diganti dengan carbon fiber. Penggantian ini berefek pada pengurangan bobot yang signifikan – bisa mencapai 50 persen dari berat komponen aslinya. Tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap performa.
Sementara dari sisi fashion dapat dilihat penggunaan panel serat karbon pada panel-panel kecil sebagai aksesori. Misalnya panel pada lubang ventilasi AC, head unit di dasbor, door trim, hendel pintu, dan lain-lain.

“Di dunia industri serat karbon termasuk dalam golongan fiber, hanya saja memiliki kelebihan terutama dari sisi kekuatan dan bobot yang lebih ringan jika diaplikasikan. Karakternya kuat jika mendapat tekanan tegak lurus, nyaris menyamai kekuatan baja. Namun kelemahannya, tidak dapat menerima twist atau puntiran, tidak seperti plastik yang lentur dan fleksibel jika diputar,” jelas Steven Piponk, jebolan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang kini membuka workshop spesialis serat karbon, Aeromotive Industry di Bandung.

Aplikasinya bisa tunggal artinya murni serat karbon saja atau dikombinasi dengan material serat lainnya, seperti fiberglass. Karena peruntukannya yang mulai bergeser ke sisi fashion, motif serat karbon yang beredar pun menjadi lebih bervariasi. Jenis anyaman model baru tampak lebih renggang sehingga masih jelas terlihat motifnya jika dilihat dari jauh.

Berbeda dari motif lama yang umumnya memiliki anyaman lebih rapat, sehingga tidak terlalu kontras jika dilihat dari jarak agak jauh. Untuk warna produk berbahan serat karbon sendiri kini banyak pilihannya, tidak lagi monoton di warna hitam saja karena sudah dikombinasikan dengan material serat lainnya.

 
PEMBUATAN

Serat karbon sendiri tidak lain hanya berbentuk lembaran-lembaran ‘kain’ dengan rongga yang agak jarang. Untuk membuatnya menjadi kokoh hanya dengan melekatkannya menggunakan bahan kimia resin. Terdapat dua metode untuk mengolahnya, ada yang disebut wet carbon dan ada juga yang dikenal dengan istilah dry carbon.

Wet carbon adalah cara konvensional yang umumnya dilakukan manual dengan kuas. Di mana lembaran karbon diolesi resin menggunakan kuas hingga terserap merata dan menutup lembaran karbon.

Editor : andy
loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA