Pembalap veteran asal Italia, Loris Capirossi harusnya merayakan akhir karir di ajang balap MotoGP dengan penampilan spesial dan pesta perpisahan meriah. Namun insiden maut Marco Simoncelli benar-benar membuat semuanya berubah drastis. Dari semua hiruk-pikuk dan glamournya dunia MotoGP, berubah jadi kesedihan. Capirossi pun harus mengorbankan pesta terakhirnya di MotoGP.
“Sulit rasanya berada di paddock tanpa kehadiran Marco, karena semua orang merasa kehilangan. Seri Valencia adalah seri penutup karir saya di MotoGP, saya juga tidak tahu mau berbuat apa. Saya hanya berharap segalanya berjalan dengan baik,” jelas Capirossi.
Selama menjalani karir di kelas para raja, Capirossi hanya meraih 7 kali kemenangan, 26 kali naik podium dan belum pernah meraih titel juara dunia. Walaupun sangat sulit meraih kemenangan, namun Capirossi tidak pernah patah semangat menargetkan finish di posisi podium lagi. Tujuannya agar total podium yang diraih selama berkarir di balap Grand Prix motor, bisa mencapai 100 kali podium.
“Seri terakhir di MotoGP Valencia adalah seri yang luar biasa bagi sejarah perjalanan karir Capirossi di MotoGP. Sebab seri Valencia adalah akhir dari perjalanan panjang di ajang balap motor tertinggi di dunia. Harusnya ini jadi pesta perpisahan terbesar bagi Capirossi. Tapi kondisi sangat tidak memungkinkan melakukan pesta apapun,” sedih Fabiano Sterlacchini, direktur teknis di kubu Capirossi.
Wah, sepertinya pesta perpisahan gagal dilakukan. Tapi apa boleh buat, situasi sulit bagi komunitas MotoGP harus dimaklumi semua pihak. (otosport.co.id)
“Sulit rasanya berada di paddock tanpa kehadiran Marco, karena semua orang merasa kehilangan. Seri Valencia adalah seri penutup karir saya di MotoGP, saya juga tidak tahu mau berbuat apa. Saya hanya berharap segalanya berjalan dengan baik,” jelas Capirossi.
Selama menjalani karir di kelas para raja, Capirossi hanya meraih 7 kali kemenangan, 26 kali naik podium dan belum pernah meraih titel juara dunia. Walaupun sangat sulit meraih kemenangan, namun Capirossi tidak pernah patah semangat menargetkan finish di posisi podium lagi. Tujuannya agar total podium yang diraih selama berkarir di balap Grand Prix motor, bisa mencapai 100 kali podium.
“Seri terakhir di MotoGP Valencia adalah seri yang luar biasa bagi sejarah perjalanan karir Capirossi di MotoGP. Sebab seri Valencia adalah akhir dari perjalanan panjang di ajang balap motor tertinggi di dunia. Harusnya ini jadi pesta perpisahan terbesar bagi Capirossi. Tapi kondisi sangat tidak memungkinkan melakukan pesta apapun,” sedih Fabiano Sterlacchini, direktur teknis di kubu Capirossi.
Wah, sepertinya pesta perpisahan gagal dilakukan. Tapi apa boleh buat, situasi sulit bagi komunitas MotoGP harus dimaklumi semua pihak. (otosport.co.id)