| |
OTOMOTIFNET - Musim mudik sudah tiba, setumpuk rencana dan persiapannya sudah Anda siapkan. Bagi yang memilih berkendaraan pribadi serta menuju kota-kota di pulau Jawa tampaknya agenda kemacetan juga sudah masuk sebagai bahan pertimbangan.
Belum lagi soal pemenuhan perbekalan untuk ‘teman’ di perjalanan. Mulai dari makanan, minuman, sampai ‘buah tangan’ untuk sanak saudara yang hendak dikunjungi.
Nah dibalik kesibukan persiapan dan perjalanan mudik ada hal yang acap tak begitu dihiraukan, pendanaan yang dikeluarkan dalam menjalan prosesi mudik. Boleh saja menganggap perjalan mudik sebagai ‘ritual tradisi’ sehingga besaran dana tak perlu dipusingkan.
Namun potensi pembengkakan anggaran sudah makin pantas untuk dipertimbangkan. “Apalagi jika ada macet, pasti biaya BBM tidak murah,” sebut Eko Endarto.
| Waktu seminggu tapi habis buat macet bisa 3 hari sendiri |
| Untuk sewa bis reguler bisa diandalkan untuk kebutuhan antar jemput saja |
Namun secara spesifik, Eko yang merupakan konsultan keuangan dari Finansia Consulting ini menyebut bahwa unsur penghematan bisa dicapai cukup signifikan buat yang tadinya memilih motor buat mudik ke moda lainnya. Karena penghematan tak hanya berupa dana tapi juga potensi pembiayaan jika terjadi kecelakaan.
Hal itu menurutnya juga pantas dinilai sebagai risiko yang bisa memakan biaya. “Jika ada 3 keluarga yang berangkat naik motor untuk mudik pasti risiko mereka lebih tinggi bila dibandingkan berangkat bersama dengan nyewa kendaraan,” jabarnya lewat surat elektronik pekan lalu.
Bagaimana jika mengalah untuk mudik setelah masa puncak arus mudik? Ini susahnya tradisi yang sudah mengakar. Eko jelaskan, harus diganti dengan kunjungan akhir pekan sesudah masa mudik yang sama-sama makan waktu 3 sampai 4 hari, banyak menganggap kurang afdol jika tak bersilaturahmi saat hari raya Idul Fitri.
Bisa dibayangkan jika jutaan orang punya pola pikir soal afdol serupa, daya tampung jalan dan moda-moda transportasi tampaknya akan selalu berbanding terbalik dengan hasrat mudik.
Padahal jika dilihat efektivitas perjalanannya, terutama dari segi waktu serta kenyamanan, ikut serta dalam puncak arus mudik sudah 'membuang' begitu banyak potensi tenaga dan biaya.
Jika tetap tak ingin kehilangan esensi silatutahmi, perubahan jadwal kunjungan boleh juga dicoba. "Tahun ini mudik, tahun depan yang di daerah datang ke kota, biar bisa ada keseimbangan," kata Eko.
Boleh juga!
Penulis/Foto: eRIE / Dolok