Pasar Mobil Bekas, Rindu Order Stok Melimpah

billy - Sabtu, 17 Desember 2011 | 14:06 WIB

(billy - )

 
JAKARTA - Kalau Anda ingin membeli mobil bekas, sekarang inilah saatnya. Harga mobil bekas menjadi terpuruk karena berbagai hal. Yakni mobil baru dijual dengan DP sangat ringan, munculnya generasi baru Xenia-Avanza yang dikenal sebagai mobil murah sejuta umat, dan kebijakan perusahaan leasing yang tidak berpihak kepada penjualan mobil bekas.

MOBIL BARU SEDANG ‘MURAH’
Aang Arwana, pedagang mobil bekas Deva Motor di Kalimalang, Jakarta Timur, menyebut peminat mobil bekas sangat menurun. “Ini karena orang lebih suka memilih mobil baru. Apalagi mendapatkan mobil baru sekarang bisa dengan sangat mudah dan murah. DP 5 persen saja sudah bisa pulang bawa mobil. Bandingkan dengan mobil bekas, di mana perusahaan leasing malah menaikkan DP dari 20 menjadi 25 persen sekarang ini,” ujar Aang.

Dia mengambil contoh, mengambil Daihatsu Xenia baru hanya dengan Rp 12 juta. Itu karena showroom ataupun dealer membuka DP murah dan ditambah lagi dengan discount spesial. Malah untuk mendapatkan Mazda2 gres hanya perlu mengeluarkan Rp 7 juta saja. “Orang Indonesia itu kan unik dan mengutamakan gengsi. Enggak masalah kalau 3 bulan kemudian mobilnya ditarik leasing. Cicilan dan DP selama ini dianggap biaya pakai saja,” ungkap pria 36 tahun ini.

Belum lagi, ada lembaga leasing yang membuka program “balon cannon” terhadap pembeli mobil baru. Yakni mengangsur semampunya selama tenor 3 tahun. Setelah selesai, pemilik ditawarkan program mengangsur lagi selama 2-3 tahun atau trade in yang sangat memudahkan calon pemilik mobil baru.

Hendrik, bos gerai mobil bekas lainnya di Kalimalang menyebutkan cobaan bagi  pedagang mobil bekas memang seperti bertubi-tubi. “Yakni  mulai diberlakukannya pajak progresif bagi pemilik kendaraan kedua dan seterusnya, wajib memakai Pertamax untuk kendaraan tertentu, dan leasing yang semakin ketat dalam mengeluarkan dananya untuk pendanaan mobil bekas,” sambung Hendrik.

Padahal para pedagang mobil bekas ini telah menurunkan margin keuntungannya hingga menjadi sangat tipis. Aang maupun Hendrik memberi ilustrasi, Toyota Avanza V-VTI 2010 pada sebelum puasa berani mengambil Rp 137 juta, sekarang diturunkan hingga Rp 130 juta mereka harus berpikir keras. Ambil contoh lagi Avanza keluaran 2007, dulu berani mengambil stok dengan harga Rp 122 juta sekarang pasarannya menjadi Rp 112–Rp 115 juta.

BANYAK STOK MOBIL IRIT
Untuk bisa survive, para pedagang lalu harus putar otak. Selain menurunkan margin, mereka memilih kendaraan yang irit bahan bakar dengan model yang masih aktual. Selain Xenia dan Avanza, yang banyak dipajang di showroom seperti Hyundai Accent, KIA Picanto, Hyundai Atoz, hingga Suzuki Karimun.

Yudi Setiawan, dari Ithocu Auto Finance (IAF) yang banyak bermain membiayai mobil bekas mengakui memang ada pengetatan terhadap pembiayaan mobil bekas.  Misalnya menaikkan minimal DP 20 persen menjadi 25 persen. “Memang harus diakui, sangat riskan kalau membiayai mobil bekas dengan DP rendah. Ini juga kami akui ikut menghambat penjualan pasar mobil second hand ini,” ujar Yudi.

Lalu bagaimana merangsang penjualan mobil bekas? Yudi menyebut dengan membuat iming-iming souvenir bagi calon pembeli dari aksesoris mobil  hingga barang-barang elektronik. “Di luar urusan gengsi dan prestise, sebenarnya mengambil mobil bekas yang baru2-3 tahun itu jauh lebih murah dibanding beli mobil baru yang harganya selangit dan angsuran tinggi. Inilah sebenarnya kekuatan dari mobil bekas itu. Namun memang butuh pemahaman yang baik dari calon pembelinya,” tambah bagian marketing perusahaan leasing asal Jepang itu. (mobil.otomotifnet.com)