Mengenal Eco Mode, Eco Climate dan Eco Power (3)

Otomotifnet - Senin, 22 Juni 2015 | 10:09 WIB

(Otomotifnet - )



Jakarta - Kalau bicara go green, biasanya yang terbayang langsung menanam pohon atau bahkan penggunaan energi yang terbarukan sebagai pembangkit listrik. Kalau sebelumnya pembangkit listrik memakai batu bara atau minyak fosil, kini sudah mulai dibangun pembangkit tenaga  angin, panas bumi bahkan air terjun.

Bahkan kabarnya nih, Indonesia saja menghabiskan 100 milyar kantong plastik untuk kebutuhan sehari-hari. Walau  banyak kantong plastik sekarang sudah dibuat degradable alias bisa terurai hanya dalam waktu 1-2 tahun. Terus apa hubungannya sama dunia otomotif dong?

Enggak perlu repot-repot pergi ke hutan atau lari ke pantai. Keren deh, pabrikan sekarang juga sudah banyak yang ikut program go green loh. Memang, bahan bakarnya masih pakai minyak fosil, walau ada juga versi hybrid atau motor listrik murni. Namun, untuk membuat mesin tersebut bekerja lebih efisien, banyak yang menanam fitur Eco.

Tak hanya eco mode aktif yang akan membuat mesin langsung bekerja lebih irit, ada yang hanya menampilkan indikator  supaya pengemudi bisa berkendara ekonomis. Kalau pun belum dilengkapi, tenang saja. Masih ada kok perangkat aftermarket yang bisa memaksimalkan kinerja mesin.

Mau kan ikut program go green Indonesia. Yuk simak dulu fitur dan cara pakai beberapa eco mode di kendaraan masa  kini. • (otomotifnet.com)



Eco Climate


Bukan hanya mesin, perangkat pendukung lain juga bisa mendukung Eco mode misalkan saja AC.Terdiri dari kompresor, kondensor, evaporator dan blower. Untuk berputar, kompresor perlu disambungkan ke puli  crankshaft. Ini yang jadi beban untuk mesin.

Canggihnya, fitur Eco juga mencakup sistem ini. Contohnya, ada D-Mode dari Nissan Juke, ECON dari Honda Accord dan ECO PRO pada BMW Drive Select Switch yang masing-masing mengubah karakteristik AC saat diaktifkan.

"Syarat untuk menggunakan fitur Eco dari AC ini harus ada Auto Climate Control dulu, jadi suhu dapat diatur secara  ideal oleh ECU, disesuaikan kerja mesin yang paling efisien," jelas Sugihendi, Product Knowledge PT. Nissan Motor  Indonesia.

"Ketika diaktifkan, kompresor AC akan lebih cepat mati setelah mencapai suhu ideal, kecepatan kipas juga dijaga tidak berlebihan," tambah pria yang biasa dipanggil Hendi itu. Tentu penghematan seperti ini ada resikonya, yaitu suhu yang diinginkan akan lebih sulit tercapai jika temperatur di luar sangat panas maupun sangat dingin.

Jadi harus bersabar kalau mau irit, apalagi suhu di Jakarta kalau siang hari bisa melebihi 34°. •




BMW ECO PRO


Meski banyak dikenal dengan divisi M Motorsports, produsen asal Jerman ini ternyata juga ikut ambil peran dalam membuat mobil hemat dengan fitur ECO PRO. Pertama kali lahir di BMW Seri 1. "Mode ECO PRO dapat mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 20% dengan menyesuaikan beberapa hal teknis seperti  responsivitas akselerator di pedal dan manajemen mesin.

Di 320d misalnya bisa mencapai 46,8 km/l saat dites di Eropa," jelas Dennis Kadaruskan, Product Planning Manager BMW Group Indonesia.Menariknya, mode ECO PRO juga memanfaatkan sebuah bar digital di bawah takometer yang akan menjadi berwarna biru ketika diaktifkan.

Semakin dalam pedal gas diinjak, maka bar akan menjadi semakin panjang. Tantangannya harus menjaga agar bar tetap pendek.Selain mengajak pengemudi berhemat, ECO PRO juga mengatur beban mesin. Saat diaktifkan, pedal gas akan terasa lebih berat.

Wastegate juga lebih jarang membuang tekanan turbo untuk menghasilkan semakin banyak energi.Transmisi otomatis 8-percepatan juga akan berpindah lebih cepat dan menjaga sebisa mungkin putaran mesin di bawah 2.000 rpm. Begitu juga AC yang lebih cepat memutus kompresor setelah mencapai suhu yang ingin dicapai. •