Minimalisir Kecelakaan, Jakarta Perlu Jalur Khusus Motor

Senin, 7 Januari 2013 | 07:34 WIB

Sebuah truk trailer bernopol B 9740 WV yang dikemudikan R (44 tahun) terlibat kecelakaan maut dengan sebuah sepeda motor bernopol B 3617 TNM yang dikemudikan AR.

Motor yang ditumpangi kedua perempuan itu terjatuh dikarenakan menghantam jalan yang rusak. Nahasnya, dalam waktu bersamaan datang sebuah truk trailer di ruas yang sama menuju arah Cilincing. Dua perempuan yang berboncengan itu terjatuh, salah satunya satu ke kanan, langsung ke kolong truk dan terlindas, yang satunya ke kiri bersandar di trotoar.

Kecelakaan maut di jalur tengkorak, Jalan Raya Cilincing, Jakarta Utara baru-baru ini bukan cerita baru. Hampir setiap minggu terjadi kecelakaan hingga menelan korban jiwa dengan modus serupa : pengendara sepeda motor terlindas truk trailer.

TERLINDAS TRUK

Neta S Pane, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mencatat jumlah pengendara sepeda motor yang tewas dilindas truk kontainer di jalur Cilincing - pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara terus melonjak. Setiap bulan rata-rata dua pemotor tewas dilindas kontainer.

Bahkan bulan Oktober dan November 2012, setiap minggu satu pemotor tewas dilindas kontainer. Ironisnya, tidak ada upaya maksimal dari Ditlantas Polda Metro Jaya maupun Polres Jakarta Utara untuk mengantisipasi dan menekan angka korban tewas tersebut.

Data IPW mengungkapkan sepanjang 2012 ada 27 pemotor yang tewas dilindas truk kontainer di kawasan menuju pelabuhan itu. Padahal tahun 2011 hanya ada 15 orang yang tewas.

Secara umum memang jumlah korban kecelakaan lalulintas di Jakarta Utara tahun 2012 menurun, yakni 130 orang tewas dibanding 2011 yang korban tewasnya mencapai 158 orang. Namun untuk pemotor yang tewas dilindas kontainer justru meningkat.

Bahkan, saat operasi Zebra Jaya dilakukan pada November 2012, setiap satu minggu satu pemotor tewas dilindas kontainer. Hari rawan kematian bagi pemotor adalah Kamis. Pada hari tersebut frekuensi kontainer yang menuju Pelabuhan Tanjung Priok memang meningkat, seiring pengiriman peti kemas ke luar negeri.

Sedangkan kawasan rawan bagi pemotor dilindas kontainer adalah Jl Raya Cakung-Cilincing, Jl Raya Cilincing, Jl RE Martadinata, Jl Pelabuhan, dan Jl Yos Sudarso.

“Dari berbagai peristiwa yang ada sebenarnya Ditlantas Polda Metro dan Polres Jakut bisa memetakan masalah, untuk kemudian membuat langkah-langkah antisipasi agar para pemotor tidak terus menerus tewas dilindas kontainer. Sayangnya langkah-langkah tersebut tidak dilakukan dengan maksimal sehingga korban tewas dilindas kontainer terus berjatuhan,” ungkap Neta.

JALUR KHUSUS

Darmaningtyas, wakil ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebut kecelakaan serupa akan terus terjadi kalau tidak ada langkah kongkrit dari pemerintah. “Soalnya itu kan jalur truk trailer sama dengan jalur untuk kendaraan umum, terutama sepeda motor. Akan tetap jadi ladang ‘pembantaian’ di Cilincing itu kalau terus dibiarkan,” kata Tyas.

Putra Gunung Kidul ini tidak mau menyalahkan pihak trailer atau pemotor. “Sama-sama salah. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa manusia di ruas Cilincing itu ya dengan membuatkan jalur khusus sepeda motor. Kalau mahal buat pelebaran jalan, cukup dengan membuat separator untuk pemisah saja,” sebutnya.

Sementara itu Ir Udar Pristono MT, Kepala Dinas Perhubungan DKI meminta baik pengemudi trailer maupun pemotor mematuhi peraturan berlalu-lintas. “Kalau dari pihak kami, ya menunggu sampai ring road di situ rampung pada 2014. Kalau sudah selesai, seluruh truk besar dan trailer akan masuk tol,” ujar Pristono.

Jadi harus menunggu hingga 2 tahun ke depan untuk menghindari jatuh korban meninggal pak? (mobil.otomotifnet.com)