Biaya Perawatan Transmisi Otomatis Vs Manual Mahal Belum Tentu Merugikan

billy - Jumat, 15 Juni 2012 | 10:03 WIB

(billy - )

 
JAKARTA - Bicara tentang biaya perawatan transmisi otomatis, memang tak bisa dipisahkan dengan servis berkala yang mencakup penggantian cairan pelumasnya.

Sebab kinerja dan performa pada drive train atau transmisi, juga akan memengaruhi efisiensi pemakaian bahan bakar. Artinya semakin Anda rajin merawat mobil, budget yang harus dirogoh untuk perbaikan bagian penerus daya ini dapat lebih ditekan.

Untuk jangka waktu perawatan berkala transmisi matik, tak dapat disamakan dengan perlakuan pada versi manual. Sebab selain punya masa tenggat lebih panjang, biaya servis yang dibutuhkan pun tidak bisa dibilang lebih mahal.

KUALITAS PELUMAS
Lantaran transmisi otomatis sangat bertumpu pada sistem hidrolis yang membutuhkan oli sebagai media penyalur tekanannya, maka sangat disarankan untuk selalu memeriksa kualitas pelumas yang sudah terpakai.

Beda dengan transmisi jenis manual, yang membutuhkan oli hanya untuk melumasi bagian jeroan girboks agar tak lekas aus atau korosi.

Untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, pemilik mobil matik mesti memerhatikan dengan baik kualitas oli transmisi pada kendaraannya.

"Sebab kebersihannya harus terjaga untuk menghindari gejala abnormal seperti slip kopling, yang akan berdampak pada efisiensi pemakaian bahan bakar," saran Ibnu, kepala mekanik Auto Graha di daerah Bintaro Jaya, Tangerang.

Jika kualitas oli transmisi menurun drastis akibat jarang diganti, dapat membuat tekanan hidrolis berkurang. Kondisi ini disebabkan kotoran yang terkandung dalam pelumas yang bisa menyumbat saringan yang membuat sirkulasi oli tak lancar.

Selain itu, para pemilik mobil matik disarankan selalu mengecek kondisi ATF (Automatic Transmission Fluid), agar selalu dalam kondisi prima.

Menurut Sarto Rombe, Service Manager bengkel resmi Honda Pondok Pinang, idealnya setiap kelipatan 20 ribu km atau satu tahun sekali selalu mengecek level ketinggian oli transmisi. "Lihat tanda huruf H (Hot)-nya saja, sebagai batas maksimum pelumas dalam kondisi mesin panas. Jika level oli transmisi di bawah H sampai mendekati garis terbawah, pertanda ada kebocoran karena minimnya perawatan," beber Sarto.

Memang umumnya ongkos penggantian oli transmisi matik termasuk servis berkalanya terbilang lebih mahal dibanding versi manual. Misal pada Honda New Jazz.

Merujuk buku panduan servis berkala, penggantian oli transmisi M/T setiap 40 ribu km termasuk penggantian suku cadang sesuai ketentuan, menghabiskan dana sekitar Rp 1,3 jutaan.

Sementara New Jazz A/T, penggantian oli transmisi setiap kelipatan 60 ribu km. Total dana yang dibutuhkan termasuk biaya servis berkala sekitar Rp 1,4 jutaan.

Sama halnya Toyota Avanza. Untuk transmisi manual dengan periode ganti oli transmisi setiap kelipatan 40 ribu km, butuh total dana perawatan sekitar Rp 2 jutaan.

Sedangkan Avanza matic yang juga punya durasi penggantian oli transmisi per 40 ribu km, perlu budget sekitar Rp 2,1 jutaan.

Jika dibandingkan antara mobil matic dan manual, selisihnya tak terpaut terlalu besar. Jika dikonversikan dengan keawetan suku cadang serta efisiensi bahan bakar akibat kondisi transmisi yang bagus, bisa jadi perawatan mobil matic lebih terjangkau ketimbang yang manual.

So, enggak perlu takut lagi pakai matic, kan?  (mobil.otomotifnet.com)