Ada 'Anak Klub' Yang Mau Pindah ke Angkutan Umum

Parwata - Jumat, 29 Juli 2016 | 14:07 WIB

(Parwata - )

Jakarta - Angkutan umum di Jakarta saat ini sedang sibuk berbenah ke arah yang lebih baik untuk menunjang kebutuhan masyarakat. Sebelum adanya Transjakarta dan angkutan umum berbasis online, mobilisasi warga Jakarta sering terhambat akibat jarangnya angkutan umum yang memadai dan sesuai dengan keinginan penumpang.
 
Kini harapan warga Jakarta untuk memiliki transportasi umum yang lebih baik sekarang ini sepertinya mulai terlihat. Meski begitu, bagaimana ya komentar rekan-rekan pengendara yang pastinya lengket banget sama besutan mereka? Kami pun mengumpulkan beberapa komentar dari mereka.

David Muflihano Derwanto, Ketua Umum Kawasaki Z250 Owners: Perbaiki Manajemen Pelayanan

Menurut David Muflihano Derwanto, Ketua Umum Kawasaki Z250 Owners, perusahaan angkutan umum memang perlu melakukan perbaikan, khususnya dari segi manajemen pelayanan. “Perusahaan angkutan umum perlu memperbaiki manajemen pelayanan dari segi sumber daya manusianya, di mana kompetensi keahlian dan manajerial sangat diwajibkan,” ujar David.

David juga mengharapkan kendaraannya pun harus didukung dengan standar yang baik, seperti standar kualitas, ketahanan dan faktor keamanan. “Komposisi jumlah bus dan penumpang harus seimbang dan masa pakai bus juga menentukan. Termasuk perawatan berkala dan penggunaan suku cadang asli,” lanjutnya.

David sehari-hari memang lebih memilih untuk naik angkutan umum dari rumahnya di Tanggerang ke kantornya di daerah Gandaria, Jakarta Selatan, ketimbang kendaraan pribadi karena lebih efektif, tidak membuang banyak energi dan simple. Kebetulan rumahnya juga dekat dengan terminal bus, jadi tidak perlu repot untuk naik-turun angkot atau ojek. “Jadi langsung naik dan turun aja,” katanya.

Yudho, Komunitas Wagon-R Jakarta: Masyarakat Harus Berubah

Berbeda dengan David, Yudho dari komunitas Wagon-R Jakarta mengatakan bahwa memang sudah seharusnya Jakarta menambah jumlah bus dengan standar kenyamanan yang baik dibarengi dengan kualitas dari pengemudinya. “Misalnya dari Bekasi mau ke Kebon Jeruk, bisa dengan mudah menggunakan angkutan umum,” ucapnya.

Saat ini Yudho terpaksa menembus kemacetan dengan menggunakan mobil pribadi karena pengalaman yang kurang enak saat naik angkutan umum, serta jarak yang cukup jauh dari rumah ke halte Transjakarta.

“Pernah nyoba waktu itu naik angkutan umum dari Cibubur ke Kampung Rambutan, ribet. Itu harus naik angkot 2 kali untuk sampai ke depan kompleks.

Belum lagi kalau ada penumpang yang asal-asalan, seperti merokok di dalam mikrolet,” jelasnya.

Yudho berharap agar mindset dari sebagian masyarakat Jakarta dapat berubah karena menurutnya angkutan umum tidak akan menjadi lebih baik jika hal tersebut tidak didukung oleh masyarakatnya sendiri.

“Kalau angkot bagus aku akan naik angkutan umum karena aku sayang mobil dan motor. Jadi kalau sayang mendingan disimpan daripada kenapa-kenapa,” katanya.

Kurangi kendaraan pribadi

Djati Iman Waluyo, Komite Pocket Bike Indonesia: Berebut Penumpang

Senada Yudho, Djati Iman Waluyo dari Komite Pocket Bike Indonesia juga sependapat dengan hal tersebut. Ia mengatakan angkutan umum identik dengan supir yang ugal-ugalan sehingga membahayakan pengendara lain dan penumpang. Djati mengatakan, selain ugal-ugalan, angkutan umum saat ini juga masih belum tertib dan mengganggu pengguna jalan lain.

Seperti mangkal di pinggir jalan, menurunkan dan menaikkan penumpang sembarangan, serta banyaknya trayek yang bentrok dengan Transjakarta sehingga membuat angkutan umum berebut penumpang. “Armada Transjakarta sekarang sudah banyak, tetapi juga trayeknya banyak yang bentrok dengan yang lain jadi saling rebutan,” ujar Djati yang lebih memilih mengendari motor daripada naik angkutan umum untuk aktivitas sehari-hari. Ia berharap angkutan umum Jakarta dapat menjadi lebih baik agar aktivitas para penumpang dapat berjalan dengan lancar. “Yang penting jangan ugal-ugalan,” tambahya.

Syakur Usman, Pengurus Pusat AvanzaXenia Indonesia Club:Siap Pindah Di 2018

Sedangkan menurut Syakur Usman, Pengurus Pusat AvanzaXenia Indonesia Club, saat ini proses pembenahan angkutan umum Jakarta sudah menuju arah yang lebih baik. Tetapi, ada baiknya pembenahan tersebut juga memperhatikan segi koneksi antar angkutan. “Misalnya dari angkutan umum ke public area, ke perkantoran, masih tidak nyambung.

Akibatnya angkutan umum tidak optimal dan tujuan dari angkutan umum tersebut untuk menekan tingkat kemacetan Jakarta tidak terjadi karena belum terintegrasi dengan baik.” terangnya. Setelah itu, perawatan dan jumlah armada juga harus menunjang kebutuhan masyarakat, karena menurutnya masih ada di beberapa rute yang menggunakan armada lama.

Jadi, ada baiknya perawatan angkutan publik lebih ditingkatkan untuk menjamin kenyaman juga keamanan penumpang. Sekarang ini, Syakur sudah mulai berpindah menggunakan angkutan umum untuk sehari-hari, walaupun ada beberapa alasan yang memang masih membutuhkan kendaraan pribadi.  misalnya untuk menjangkau daerah yang tidak dilalui angkutan umum atau menjangkau daerah yang belum memiliki angkutan umum yang terintegrasi dengan baik.

“Kalau saya prediksi momentumnya (berpindah menggunakan angkutan umum) ada di 2018 ketika subway beroperasi dan banyak perbaikan menuju 2018. Mengoneksikan angkutan publik juga bisa (membuat masyarakat berpindah ke angkutan umum) dan angkutan umum menjadi primadona di Jakarta,” terang Syakur.

Markes Tambunan, Ford Laser Community Jakarta (FLOCK): Kurangi Kendaraan Pribadi

Hampir sama dengan Syakur, Markes Tambunan dari Ford Laser Community Jakarta (FLOCK) berpendapat bahwa keadaan angkutan umum di Jakarta harus memiliki kualitas yang baik. Terutama kualitas dari bentuk fisik angkutan dan juga driver angkutan yang teredukasi sehingga menunjang keamanan penumpang.

Lalu, fasilitas yang disediakan juga harus nyaman, seperti tempat duduk, pendingin udara, halte, serta kebersihan interior kendaraan pun juga harus diperhatikan. “Terutama Transjakarta, jumlah penumpang di dalam bus harus dibatasi sehingga mengurangi resiko kejahatan seperti copet atau bahkan pelecehan seksual karena berdesak-desakan,” jelasnya.

Setelah itu, Markes juga menyayangkan sikap pemerintah yang membiarkan penjualan kendaraan pribadi, mobil ataupun motor dengan menawarkan promosi seperti uang muka dan cicilan yang murah. “Mungkin jalan keluarnya adalah pemerintah harus mengurangi atau membatasi penjualan kendaraan pribadi dengan cicilan atau uang muka yang murah agar masyarakat dapat berfikir untuk beralih ke kendaraan umum.

Tapi dengan syarat kendaraan umum tersebut layak pakai. Jadi harus diimbangi dengan fasilitas yang baik dan pengendara yang profesional sehingga menunjang kenyamanan dan keamanan penumpang,” tegas Markes.

Target Sejuta Penumpang

Sekarang ini transportasi umum Jakarta memang dalam proses pembenahan. Transjakarta misalnya, seperti dikutip dari website berita resmi Pemprov DKI Jakarta, rencananya tahun ini Transjakarta akan menambah jumlah bus sebanyak 1.000 unit agar dapat mencapai target 1 juta penumpang setiap harinya. Sebagai informasi, jumlah armada Transjakarta yang beroperasi saat ini sebanyak 1.233 unit dan melayani sebanyak 320 ribu penumpang setiap harinya.