Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Melacak IC Spidometer Elektris Rusak

Editor - Jumat, 29 Januari 2010 | 09:03 WIB
No caption
No credit
No caption

OTOMOTIFNET - Waduh, spidometerku mati, bagaimana ini? Seru seorang awak redaksi sambil kebingungan. Bagaimana tidak, panel indikator Suzuki Aerio miliknya tak mau mau bergerak di bagian angka spidometer digitalnya. Langsung terbayang macam-macam, termasuk repotnya berurusan dengan spidometer digital itu.

Uniknya, Wira Santosa belum menemukan satu kerusakan pun yang bisa bikin spidometer itu rusak. "Semua fungsinya normal saja kok, mudah-mudahan hanya karena soketnya yang kotor," ujar pemilik gerai SACS di Pondok Gede, Jaktim ini.

Ternyata, kerusakan spidometer digital bisa diklasifikasikan menjadi beberapa sektor. "Lebih pas kalau disebut spidometer elektris, karena ada juga yang tampilannya analog dengan jarum. Tetapi sistemnya sudah elektris semua," bilang ayah satu anak ini.

Dijelaskan Wira, spidometer elektris umumnya punya otak berupa IC di belakangnya. Tidak ada lagi hubungan mekanis seperti kabel spidometer (Gbr.1). Nah, seiring perkembangan teknologi IC yang dipakai pun berkembang. Misalnya sebagai pembanding, spidometer Toyota Great Corolla memiliki masing-masing satu IC buat tiap indikator. Satu buat spidometer, satu untuk takometer, satu lagi menggerakkan meter bensin, suhu dan seterusnya.

No caption
No credit
No caption

Gbr 1
No caption
No credit
No caption

Gbr 2
No caption
No credit
No caption

Gbr 3

Gbr 4

Mobil keluaran anyar, pakai sistem yang lebih canggih. Hanya ada satu IC sebagai otak yang mengontrol semua indikator (Gbr.2). "Satu saja IC, lalu di setiap indikator hanya ada motor penggerak," ulas pembesut Honda Jazz biru ini.

Maka, perbaikannya relatif berbeda dengan panel indikator elektris yang lawas. Misalnya buat yang lawas, satu indikator rusak paling hanya Rp 750 ribu. Atau mau ganti satu unit, milik Great dibanderol Rp 1.250 ribu. Tetapi buat Nissan Terrano, tidak bisa diobati sebagian. "Harus ganti utuh. Saya masih ada yang baru beberapa unit, kebetulan dapat yang murah," tambahnya seraya menyebut harganya di atas Rp 2 jutaan per unit, padahal banderol aslinya bisa di atas empat juta perak! Demikian juga onderan cukup banyak buat Toyota Altis.

Buat Terrano, biasa rusak di spidometer. Sedangkan Altis di takometer. Menurut Wira, takometer rusak bisa karena penggantian busi yang tidak sama dengan spek standar. Busi mobil sekarang pakai yang ada tahanannya (Gbr.3). Jika pakai yang tidak ada tahanan, bisa ada feedback ke spidometer.

Harap bedakan juga rusak spidometer dengan kerusakan di sensor kecepatan. Kalau rusak di sensor kecepatan (Gbr.4), spidometer dan odometer akan mati. Namun kalau rusak di panel instrumen, bisa hanya spidometer saja, sedangkan odometer tetap menyala. Atau spidometernya hidup tetapi tertahan di angka tertentu, misalnya tetap di angka 40 padahal mobil sudah digeber di atas 100 km/jam.

Demikian juga kerusakan di sensor temperatur atau sender pelampung bahan bakar. Misalnya di pelampung, kalau sender rusak, pasti akan mati total. Triknya, perhatikan kala isi penuh, kalau sesekali jarum masih bisa menunjukkan penuh, sementara di lain waktu mati, atau tertahan di posisi tertentu meski bensin penuh, berarti yang rusak adalah indikatornya. Gimana, sudah bisa menebak kalau IC rusak?

Penulis/Foto: Manut / Reza

Editor : Editor

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa