“Tentunya ini jadi peringatan keras bagi kami di Yamaha dan tim-tim yang membawahi pembalap berbakat lainnya. Dimana pembalap mengambil keputusan sepihak dan mengenyampingkan kesepakatan yang sudah disusun sejak awal musim,” terang Supriyanto, Manajer Motosport Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).
“Untung skalanya masih nasional, coba kalau si Topan itu sedang bertarung di level Asia dan ia mengambil keputusan seperti ini, bisa berabe! Jelas ini adalah pukulan telak bagi kami. Nah tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi, kami ingin ada sanksi yang keras pada pembalap agar pembalap yang memang punya bakat tidak semaunya saja mengambil keputusan,” kesal Supriyanto.
Kekesalan orang nomor satu Yamaha di ajang motorsport nasional itu memang cukup beralasan. Pasalnya mereka sudah punya program penjenjangan untuk Topan ke ajang yang lebih tinggi.
“Intinya ya paling tidak ia harus punya langkah tepat, jangan sampai hanya malu-maluin di ajang balap dunia. Kita kan sama-sama tahu pembalap di Indonesia basisnya masih cukup kuat di motor bebek. Jadi untuk bertarung di level dunia menggunakan motor batangan, harusnya melalui jenjang yang jelas,” ulasnya.
Dari paparan Supriyanto ini, jelas Yamaha punya program jelas untuk para pembalapnya. Hanya saja memang mereka harus punya talenta dulu kemudian permohonan untuk naik ke kelas yang lebih tinggi seperti di level Asean, lalu ke Asia. Berharap saja Topan mampu melakukan yang terbaik dan tidak membuat kecewa pihak yang telah membawanya ke level dunia. (otosport.co.id)
| Editor | : | Bagja |
KOMENTAR