“Kandungan nabati ini punya unsur FAME, yaitu Fatty, Acid, Methyl dan Ester. Bahasa sederhananya seperti lemak kelapa sawit,” bilang Sumarno, mantan trainer mekanik di pabrikan Suzuki.
Unsur-unsur nabati tersebut kata Sumarno bila bahan bakar lama tak digunakan, akan cepat membusuk, sehingga makin memperparah kualitas dari bahan bakar tersebut.
Selain itu, kandungan ethanol yang tinggi masuk taraf berbahaya bagi kebanyakan diesel modern.
Ethanol memiliki kecenderungan rantai karbon yang mengikat air, sehingga bukan tidak mungkin air dapat menyebabkan korosi pada sistem pembuangan maupun komponen mesin lainnya yang tentu berakibat pada kerusakan.
Bahaya tidak berasal dari campurannya saja, tapi juga kadar sulfur dan particulate tinggi yang berpotensi untuk merusak.
“Kandungan sulfur yang tinggi ini bisa mempercepat timbulnya deposit pada saluran bahan bakar hingga ruang bakar,” jelas pria yang juga punya bengkel bernama Masmun Sukses Motor ini.
Sementara mesin diesel common-rail ini kata Sumarno rata-rata tekanan bahan bakarnya sangat tinggi.
Bayangkan bila deposit ini lama-lama menumpuk di saluran bahan bakar dan menyumbat injectornya, tentu dapat merusak mesin.
Mungkin awal-awal pakai BBM diesel berkualitas rendah tidak langsung terasa ke mesin, tapi lama kelamaan ada saja muncul berbagai penyakit.
Mulai dari knalpot keluar asap, emisi gas buang jelek, mesin sulit hidup saat dingin, suara mesin kasar dan sebagainya.
Itu lah kenapa banyak pabrikan mobil di Indonesia yang tidak memasukkan pilihan mesin diesel pada varian produknya.
Baca Juga: Kenapa Mur Roda Mobil Eropa Ada Satu yang Beda Bentuknya
Baca Juga: Kenapa Mesin Mobil Modern Bila Overheat, Cylinder Headnya Rentan Melengkung
Posted : Jumat, 20 Februari 2026 | 17:22 WIB| Last updated : Jumat, 20 Februari 2026 | 17:22 WIB
| Editor | : | Grid Content Team |
KOMENTAR