Analisis Safety Kecelakaan Ducati 1000S, Efek dari Salah Antisipasi

billy - Sabtu, 8 September 2012 | 07:53 WIB

(billy - )


Kegagalan antisipasi kondisi jalan diduga kuat menjadi penyebab kecelakaan Ducati Sport 1000S yang dikendarai almarhum Andre Mamuaya. Faktor human seperti kelelahan, melamun atau tidak konsentrasi turut menyumbang sehingga estimasi mampu melewati yang diperkirakan ‘dapat’ menjadi gagal.

Jusri Pulubuhu, Training Director, Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) memberikan analisis terkait kecelakaan yang terjadi pada H+2 Lebaran 2012 lalu di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. “Perlu diketahui, kecelakaan di jalan raya disebabkan oleh faktor perilaku yang tidak aman juga lingkungan yang tidak aman,” bilang Jusri.

Di antara faktor itu, faktor lingkungan tidak aman merupakan elemen yang tidak dapat dikontrol pengendara. “Seperti misalnya, mobil tiba-tiba berbelok tanpa sein atau binatang yang tiba-tiba lewat. Ini di luar kekuasaan pengendara. Sedangkan faktor perilaku tak aman seluruhnya berada dalam diri si pengendara,” kata instruktur yang beralamat di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Dalam kejadian itu, menurut Jusri, berdasarkan keterangan dari 4 orang saksi mata menyebutkan Toyota Kijang Innova yang dikendarai Mahendra Tarigan sudah melakukan perlambatan, dengan kecepatan sekitar 10 km/jam. Lampu sein juga sudah hidup. Jarak antara mobil dan trotoar sekitar 1 meter.

“Patut diduga pengendara memprediksi bisa melalui mobil dengan menambah kecepatan. Sebab, Ducati Sport 1000S dengan power yang besar, memiliki akselerasi kuat. Namun faktanya, si pengendara gagal melewati mobil dan malah menabraknya,” analisis Jusri.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan ini. “Pertama kondisi pengendara fatique alias kelelahan, atau sedang melamun atau kurang konsentrasi. Sehingga perkiraan pengukuran yang dilakukan melesat,” jelas Jusri lebih jauh.

Kelelahan dan tidak konsentrasi atau melamun ini menyebabkan koordinasi antara otak yang memberikan sinyal ke gerakan jadi tidak sinkron. Jusri menilai penyebab fatal kecelakaan ini karena benturan di tulang leher atau whiplash. “Saat terjatuh bagian belakang korban membentur pembatas hidran yang ada di sisi jalan,” ungkapnya.

Dari sisi safety gear yang digunakan menurut Jusri, juga sudah cukup memenuhi standar keselamatan dengan helm dan jaket yang baik. Namun sekali lagi, ia mengingatkan safety gear yang baik tidak memberikan jaminanan keselamatan optimal. Begitu pula dengan skill berkendara yang mumpuni hanya nomor ke sekian. Penting untuk diingat bermotor merupakan aktivitas dengan potensi bahaya paling tinggi.  (motorplus-online.com)