Wacana Pembatasan Tenaga Mesin Di Balap Mobil

billy - Selasa, 18 Januari 2011 | 08:23 WIB

(billy - )


Jakarta - Pemerhati balap seperti Sidarto SA paham betul pasang surut balap mobil Tanah Air. Itu sebabnya, ketika persaingan tampak monoton dengan peserta dan kompetisi yang tak berkembang, ia mencetuskan sebuah wacana kelas baru dengan pendekatan pembatasan kapasitas mesin dan tenaga maksimal. Diyakini, kian banyak peserta dapat berpartisipasi dan bersemangat untuk terjun ke kelas ini. Seperti apa kelas dimaksud?

MENARIK ATPM

Idenya, yakni membuka kelas yang berpatokan pada kapasitas mesin maksimal 1.600 cc dan tenaga tertinggi 150 dk. Sedan atau hatchback maksimal 3 tahun boleh ikut. Yang penting, tenaga dan kapasitas hanya boleh segitu. Lebih lanjut nantinya juga dipikirkan soal bobot yang disamakan.

Untuk itu, mobil-mobil yang bakal ikut berlaga bakal melewati dynotest, sebelum lomba dan sesudah balap bagi para peraih podium. "Nanti kita bicarakan dengan pihak (sirkuit) Sentul, supaya dikasih tempat untuk menaruh alat dyno," tuturnya seraya bilang sudah ada pihak yang menyediakannya.


Sidarto SA. Membuka partisipasi lebih luas
Ide ini memang muncul dari pengama­tan Sidarto melihat balap mobil kelas Super  GT yang sepi peserta dan GT Car yang sudah seperti one make race Honda Jazz. Untuk itu, ia berharap dapat menarik peserta dari pabrikan lain dengan kondisi yang lebih menguntungkan. "Saya punya gagasan, tapi enggak tahu mau dilempar ke mana nih," akunya.

Jika gagasan terwujud, ia berharap peserta enggak melulu datang dari pembesut Jazz, melainkan juga dari merek lain seperti Ford, Hyundai, Nissan, Proton, Toyota dan lainnya. "Jadi ATPM bisa ngumpul semua," ungkap praktisi balap berusia 57 tahun ini.

Nah, bicara ATPM, jika pabrikan selain Honda tertarik untuk turun berlaga, maka hitung-hitungan jumlah pesertanya cukup lumayan. Setidaknya jika satu merek menurunkan tiga mobil saja, maka tinggal lihat hasilnya setelah dikali sekian merek. "Selama ini ATPM males turun (karena dikuasai Honda Jazz, red)," lanjutnya.

Sisi plus dari gagasan ini, ia melihat mekanik akan lebih bebas dan berkembang memodifikasi mobil untuk memenuhi regulasi. Apalagi jika peserta mengandalkan mobil 1.400 cc yang sah-sah saja dimodifikasi mendekati 1.600 cc.

Modifikasinya sendiri bebas, namun enggak boleh mengganti mesin. Girboks juga harus standar lantaran enggak semua merek mobil tersedia ‘girboks racing' yang punya rasio rapat. Di luar modifikasi, sebenarnya balap dengan regulasi tenaga setara antarkompetitor ini bukan hal asing. Di British Touring Car Championship (BTCC) dan Deustche Tourenwagen Meisterschaft (DTM) aturan serupa dilakukan untuk menekan biaya.

Di luar gagasan, ide ini pun mendapat beragam respon dari pihak-pihak yang berhubungan dengan balap mobil nasional seperti berikut ini. (otosport.otomotifnet.com)

Alvin Bahar (Honda Fastron Racing Team)

Alvin menentang gagasan ini, menurutnya ide tersebut pernah disuarakan dan tak berhasil. "Pembatasan ini tidak efektif. Kalau memang diharapkan ada yang masuk dari merek lain karena pembatasan ini, lebih baik dibiarkan dulu masuk. Coba langsung di lapangan.

Setelah benar-benar dinilai tidak kompetitif, baru dijalankan pembatasan dan adanya kompromi. Kalau belum pasti ada merek yang akan masuk tapi sudah diberlakukan ketentuan ini berarti mengorbankan lebih banyak pembalap. Privateer yang paling merasakan dampaknya," ucapnya panjang lebar.

Pembatasan 150 dk menurutnya juga masih abu-abu. Apakah outputnya saja yang dibatasi 150 dk atau ada aturan lain yang ikut membatasi. Menurutnya, lebih baik mobil dibatasi pada tiga hal, yakni kapasitas mesin, besarnya throttle body (TB), serta putaran mesin. Jika hanya output yang dibatasi tapi komponen lain dibebaskan, ia menjamin balap akan sangat mahal.

Cara lainnya, merek yang akan masuk dipersilakan ‘mengejar' tenaga mobil Honda Jazz. "Jangan pembalap privateer yang saat ini sudah banyak diminta berkorban menurunkan tenaga bagi mobil-mobil yang belum pasti masuk," ucap pengguna Honda New Civic ini.

Jonfis Fandy (Marketing and After Sales Service director PT Honda Prospect Motor)

"Permintaan yang aneh," seru Jonfis. Menurutnya, tenaga yang hanya 150 dk belum menunjukkan kekuatan mobil. Tenaga segitu membuat tantangan ketika balap dinilai belum terjadi.

Senada Alvin, menurutnya lebih baik merek yang akan masuk dibiarkan dulu masuk. Jika sudah berada di dalam baru mencari celah supaya bisa kompetitif. Jangan belum-belum sudah mengorbankan pembalap yang saat ini sudah berpartisipasi.

Pembatasan dinilainya juga akan membunuh kreativitas para tuner. "Jika banyak dibatasi lebih baik bikin one make race saja. Terbukti mampu menyedot peserta banyak," lanjutnya. Paling benar menurut Jonfis dibatasi kapasitas mesinnya saja (1.500 cc). Tinggal bagaimana tuner memaksimalkan pada limit tersebut.

Rudy Sumawiganda (Bintang Sobo Racing)

Rudy mendukung adanya pembatasan tenaga mesin, namun dengan berbagai catatan. "Kalau memang diterapkan, apakah bisa konsisten di 150 dk? Apakah tidak ada toleransinya? Selain itu bagaimana kesiapan sumberdaya yang ada selama dalam batas pengetatan tersebut," tanya pengusaha minuman teh kemasan ini.

Menurutnya, kalau semua bisa dijalankan, sumberdaya juga kompeten, pasti hasilnya akan bagus. Pehobi bersepeda ini menyarankan jika perangkat rem juga dibatasi. "Supaya kekuatan dari perangkat rem juga merata sehingga balap jadi lebih seru," ucapnya.

Memet Jumhana (Manajer Toyota Team Indonesia)

Memet menyambut baik sekaligus mewanti agar dipikirkan matang. "Jangan sampai penetapan tenaga hanya bisa dicapai oleh beberapa merek saja, berarti misi untuk meramaikan balap tak terpenuhi," ucap Memet di kantornya di Jatikramat, Bekasi (31/12).

Seperti Alvin, ia juga menyarankan agar bukan hanya tenaga, komponen yang dipakai juga dibatasi. "Kalau komponen dibebaskan, hanya tim besar yang bisa ikut. Privateer lama-kelamaan akan habis karena tak kuat berjuang dengan tim besar," seru Memet yang ‘memegang' TTI sejak 1989 sambil mengingatkan pemberlakuan tenaga mobil tak langsung berdampak, namun lama-kelamaan akan memancing merek-merek lainnya.

Taqwa SS (Garda Oto Racing Team)

Kepala mekanik tim Garda Oto Racing Team menyambut baik wacana pembatasan tenaga. Kelas yang pas menurutnya kelas yang ramai, GT Car. "Batasan ini harusnya membuat merek-merek mobil lain bisa ikut balap tanpa harus takut tidak kompetitif," serunya.

Peserta diharapkan bukan hanya dari ATPM, tapi juga perorangan. Ia menunjuk jika penetapan tenaga bikin penggemar balap menikmati hasilnya. Yang fanatik satu merek tapi enggak kompetitif, bisa terangsang ikutan. Gedenya tenaga sebaiknya didiskusikan.

Mobil yang memang standarnya bertenaga lebih besar tidak terlalu banyak keluar uang untuk mencapai batasan regulasi. "Tapi kalau jadi ketentuan, pembalap dan tim tidak boleh mengeluh karena keluar dana lebih banyak (bagi yang tenaga standarnya lebih kecil," ucap mekanik papan atas ini.