Penghapusan Bensin Premium Ditargetkan Tuntas Akhir Tahun 2017

Parwata - Selasa, 11 Oktober 2016 | 08:28 WIB

(Parwata - )

“Kemarin saya sudah konsultasi dengan Menko Perekonomian lagi, apakah kita sudah bisa tanda tangan. Ternyata belum, karena kasihan Gaikindo juga, mati terjepit di antara dua jenis bahan bakar. Dia (Gaikindo) bikin produk sudah Euro 4 tapi bahan bakarnya masih Euro 2,” sebutnya lagi. • Harryt/otomotifnet.com

Produksi Mulai Dikurangi

Saat ini produksi Premium RON 88 mulai dikurangi. Sehingga jangan kaget kalau label Premium di SPBU mulai menghilang. “Kilang-kilang kita itu produksinya banyak RON 88 sehingga butuh waktu dan dana yang cukup besar. Tahap awal kita mengaktifkan kilang TPPI di Tuban, Jatim,” ungkap Joko Siswanto, Direktur Teknik dan Lingkungan Direktorat Jenderal MIGAS, Kementerian ESDM.

Masih menurutnya, pengurangan produksi BBM RON 88 dilakukan secara bertahap. “Jadi ini dilakukan secara bertahap, Pertamina mengambil langkah upgrade kilang secara bertahap. Bahkan kita juga programkan pembukaan kilang baru, kita mengundang investor swasta.

Di Tuban kalau tidak salah Rosnev, serta ada lima perusahaan minyak besar lainnya, di antaranya Saudi Aramco, juga perusahaan migas asal Tiongkok Sinopec,” lanjutnya. Joko juga menegaskan tidak masalah BBM Premium dihapuskan. “Kesedian RON 88 dipasaran hampir enggak ada. Sehingga kalaupun harus impor bahan baku BBM RON 88 itu harus di-blending dulu, diturunkan speknya jadi RON 88, maka perlu biaya lagi.

Dihapus enggak masalah, kendaraan sekarang juga kebutuhannya tidak lagi RON 88,” sambungnya lagi. Terlebih tren harga minyak dunia sedang turun, maka inilah kesempatan untuk memperbaiki kualitas BBM. “Penurunan harga minyak mentah berkah tersendiri bagi Indonesia, bensin dengan kualitas lebih bagus maka ongkos produksinya cukup terjangkau. Ini kesempatan yang baik untuk shift pemakaian produksi bensin Premium ke Pertalite bahkan hingga Pertamax Turbo,” papar Ahmad Fathoni Mahmud. • Harryt/otomotifnet.com

Tabel

Tanggapan Hiswana Migas

Jika Premium tak lagi dipasarkan apakah mengganggu kinerja bisnis SPBU? Hal ini dijawab oleh Juan Tarigan, Ketua Dewan Pimpinan Daerah III (Jawa Bagian Barat), Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Dan Gas Bumi (Hiswana Migas). “Intinya kami pengusaha SPBU siap melaksanakan apa yang menjadi kebijakan Pemerintah dalam hal ini Pertamina.

Adapun mengenai pandangan dari sisi bisnis tentunya kami lebih menyukai penjualan BBK (Bahan Bakar Khusus) jenis Pertalite dan Pertamax series hal ini dikarenakan margin yang diberikan oleh Pertamina jauh lebih tinggi dari BBM jenis Premium,” terang Juan, dihubungi 4/10. Apakah jika dilihat berdasarkan pola beli konsumen di Jawa Bagian Barat, Premium sudah mulai ditinggalkan?

“Dari data yang kami miliki bahwa pola konsumsi BBM yang dilakukan oleh konsumen di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten sudah drastis beralih ke BBK. Terjadi penurunan konsumsi premium sebesar kurang lebih 45 persen,” jawab pria ramah ini. • Harryt/otomotifnet.com