Transjakarta Pakai Bus Mesin Diesel Lagi, Pilih Tinggalkan BBG, Ini Alasannya

Shafly,Ignatius Ferdian - Rabu, 11 Maret 2020 | 21:30 WIB

Transjakarta (Shafly,Ignatius Ferdian - )

"Kalau (pasokan bahan bakar) gasnya sih gak ada masalah, jadi (problemnya) lebih ke SPBG-nya, stasiun pengisiannya," lanjutnya.

Secara matematis, biaya operasional bus BBG disebut Yoga jauh lebih hemat ketimbang bus berbahan bakar solar.

"Tapi ya itu tadi, saat ini suplainya susah dan mengganggu operasional armada kami," jelasnya.

Pada akhirnya, mulai tahun 2015 Transjakarta memutuskan untuk secara bertahap kembali menggunakan bus berbahan bakar minyak.

"Kami mix antara BBG dan BBM, kedepannya juga akan kami tambah dengan armada listrik. Kalau tidak salah, dari total keseluruhan armada kami, presentasenya itu 30-35 persen menggunakan BBG, sisanya diesel," tutup Yoga.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Jika sobat Otomotif ingin plesiran dengan moda transportasi darat, enggak ada salahnya menjajal sleeper bus. Bus model ini menawarkan kenyamanan mewah layaknya 'hotel berjalan', karena kursi pada bus diset dengan model rebahan seperti kasur. - Nah di video #OtomotifTraveling kali ini, kami akan sedikit mereview sleeper bus garapan Laksana yang bernama SR2 Suite Class. Jika sebelumnya di GIIAS 2019 Laksana meluncurkan SR2 Suite Class di atas sasis Hino RN285, kali ini di ajang GIICOMVEC 2020 Laksana menggunakan sasis Mercedes-Benz OH 1626. Mau tau bagaimana kenyamanan di dalamnya? Simak video ini sampai habis ya! - #MobilGedeID #Sleeper #SleeperBus #Laksana #SR2 #SR2SuiteClass #BusMania #BisMania #HinoRN285 #MercedesBenzOH1626 #OtomotifGroup #OtomotifWeekly #GridNetwork Via @patarisme

A post shared by Tabloid OTOMOTIF (@otomotifweekly) on