Peugeot Speedfight 4 Dipakai Harian, Tampang Beda Jadi Perhatian

Sukandi - Minggu, 24 Februari 2019 | 11:16 WIB
PEUGEOT SPEEDFIGHT 4
Rian / OTOMOTIF
PEUGEOT SPEEDFIGHT 4

Otomotifnet.com - Skutik Rp 39,4 juta ini bikin penasaran, bagaimana jika dipakai sehari-hari.

Hal utamanya yang dirasakan karena bentuknya yang beda dari skutik Jepang kebanyakan, jadi Peugeot Speedfight 4 ini selalu jadi pusat perhatian di jalan.

Lalu apa kelebihan lain dan kekurangannya? Simak ulasannya berikut ini.

RIDING POSITION & HANDLING

Posisi duduk nyaman buat harian maupun perjalanan jauh
Rian / OTOMOTIF
Posisi duduk nyaman buat harian maupun perjalanan jauh


Pengendara berpostur sekitar 170 cm dijamin tidak sulit untuk menapakkan kaki saat duduk di joknya, karena tingginya cuma 780 mm.

Terlebih lagi sisi samping joknya ramping, sehingga paha tidak terganjal ketika ingin menapakkan kaki.

Joknya nyaman diduduki karena busanya tebal, yang mana dibalut kulit kasar di bagian untuk pengendara dan halus yang untuk pembonceng, bentuknya meruncing seperti single seat.

Joknya nyaman diduduki karena busanya tebal
Rian / OTOMOTIF
Joknya nyaman diduduki karena busanya tebal

Jarak antara dek dan jok cukup tinggi, jadi kaki cukup rileks karena tak terlalu menekuk.

Didukung juga legshield yang ramping, jadi lutut tidak mudah membentur.

Hanya saja deknya tak sepenuhnya rata karena ada tangki bensin di tengahnya, tapi bagi ukuran sepatu 42 kaki masih leluasa maju dan mundur.

Meski beraliran sporty, ternyata posisi berkendaranya masih terbilang nyaman. Karena setangnya tidak terlalu rendah jadi badan bisa tegak.

Juga ditunjang sudut setang yang lebar alias tidak terlalu menekuk ke dalam.

Geser ke bagian kaki-kaki, peleknya lebar banget khas skutik Eropa.

Menggunakan ring 13 inci lebarnya depan 3.00x13 dan 3.50x13 belakang.

Keduanya dibekali lebar ban serupa yaitu 130/60-13 dari CST.

Jika bicara handling, selain dipengaruhi racikan sasis dan berat kosong 113 kg, tentu juga efek ban berprofil tipis hanya /60 juga.

Bentuk ban jadi agak mengotak, memberikan kestabilan saat berkendara lurus dan pengereman, karena kontak ban dengan jalan lebih lebar.

Tapi ketika diajak cornering rasanya grip ban kurang baik dan sedikit melawan saat diajak belok.

Untungnya karakter suspensi depan yang menggunakan teleskopik berdiameter as 32 mm dan belakang single shock absorber kombinasi spring dengan hydraulic-damped pada tabung mungilnya terbilang mantap.

Stabil saat melahap tikungan, terasa ‘anteng’ dan nurut ketika diajak berbelok.

Tapi untuk pengendara berbobot 57 kg, bantingan suspensi depannya terasa cukup keras, terutama saat melewati speed trap atau melahap jalan beton yang tidak rata.

Kerasnya bantingan ini sepertinya juga pengaruh dari dinding ban berprofil tipis.

Kalau suspensi belakangnya pas, terasa nyaman karena redamannya lembut tidak membuat motor limbung. Untuk berboncengan pun tidak bottoming.

Fitur & Teknologi

Pada setangnya terdapat spidometer yang compact membuat pandangan pengendara seakan lebih luas.

USB Charger di kompartemen setang sangat kecil, repot kalau tidak punya mounting smartphone
Rian / OTOMOTIF
USB Charger di kompartemen setang sangat kecil, repot kalau tidak punya mounting smartphone

Spidometer berlatar biru dengan isi informasi speed meter, fuel meter, trip meter, dan odometer ini nyatanya masih jelas dipantau.

Hanya fuel meter yang bar-nya terlihat begitu kecil.

Di bawah spidometernya terdapat kompartemen kecil berisi USB Charger, tutupnya bisa dibalik sebagai mounting GPS atau smartphone.

Di sudut kiri dan kanan penutupnya terdapat celah untuk lewat kabel, sehingga tidak terjepit saat mengecas.

Masih di area setang, spionnya cukup besar sehingga pandangan ke belakang jadi jelas.

Sayang lebarnya melebihi setang, akibatnya perlu hati-hati agar tidak menyenggol kendaraan lain.

Anehnya lagi, spion ini hanya bisa diatur kiri dan kanan saja, tidak bisa atas dan bawah, kok gitu ya?

Yang disayangkan lagi di bawah setang tak ada konsol untuk botol minum.

Biasa, fitur berguna untuk pengendara sini.

Untungnya di bawah jok terdapat bagasi cukup luas yang bisa menampung helm dan beragam keperluan lain.

Luasnya ini akibat tangki bensin yang berada di dekat kaki pengendara.

Bagasi cukup besar mampu menampung helm full face
Rian / OTOMOTIF
Bagasi cukup besar mampu menampung helm full face

Terdapat juga power outlet 12 volt di ujung depan bagasi.

Geser ke bagian pengereman yang terbilang jempolan.

Depan pakai cakram wavy 215 mm dengan kaliper 3 piston dan belakang 196 mm menggunakan kaliper 1 piston.

Kaliper depan 3 piston karena fitur SBC, memungkinkan tuas rem kiri untuk menjepit cakram depan
Rian / OTOMOTIF
Kaliper depan 3 piston karena fitur SBC, memungkinkan tuas rem kiri untuk menjepit cakram depan

Remnya dibekali fitur Synchro Braking Control (SBC) makanya kaliper depan 3 piston.

Dengan fitur ini, ketika tuas rem kiri ditarik, rem depan turut bekerja. Yup mirip combi brake model hydraulic di Honda PCX.

Fitur SBC ini sangat berguna bagi pengendara pemula dan di kondisi macet.

Tangan kanan bisa fokus pada bukaan gas, pengereman cukup tangan kiri.

Tapi untuk pengereman yang lebih maksimal, tentu tuas rem kanan juga dibutuhkan ya!

Berbicara soal penerangan di malam hari, kedua lampu LED projector-nya juara bro! Terutama untuk lampu jauhnya yang memiliki pancara cahaya tajam, terang, dan fokus.

Kedua lampu utamanya terang banget! Sayang titik cahayanya nanggung
Rian / OTOMOTIF
Kedua lampu utamanya terang banget! Sayang titik cahayanya nanggung

Dijamin menembus gelapnya malam jadi lebih pede.

Tapi sayang lampu dekatnya terlalu menyorot ke bawah dan tak bisa disetel.

Akhirnya bingung karena kalau terus pakai lampu jauh akan menyilaukan pengendara dari arah berlawanan, sedangkan lampu dekatnya punya pancaran yang terlalu rendah.

Keempat lampu seinnya sudah LED.

Uniknya flasher-nya berbunyi ‘bip-bip’ seperti bebek 90-an.

Suaranya tidak terlalu lantang, tapi cukup untuk mengingatkan pengendara kalau sein menyala.

PERFORMA

Mesinnya 125 cc dilengkapi teknologi Smart Motion dan Synergect AGC yang minim vibrasi
Rian / OTOMOTIF
Mesinnya 125 cc dilengkapi teknologi Smart Motion dan Synergect AGC yang minim vibrasi

Mesinnya 125 cc dengan bore 52,4 mm dan stroke 57,8 mm. Pendinginannya cairan atau radiator yang letaknya ada di sisi kanan dekat magnet.

Mesin ini memiliki klaim tenaga maksimum 11 dk di 7.400 rpm dan torsi 10,8 Nm pada 5.600 rpm.

Starternya masih dinamo biasa sehingga saat dihidupkan masih ada suara.

Suara mesinnya halus, begitu pula knalpotnya.

Dilengkapi dengan teknologi Smart Motion dan Synerject AGC yang memutus arus spull ke aki ketika akselerasi dan deselerasi, pengisian ketika cruising saja.

Fitur AGC memungkinkan beban mesin berkurang sehingga meningkatkan akselerasi, dan klaimnya dapat menghemat bensin sebanyak 5%.

Hanya sayangnya akselerasi awal perlu membuka gas agak dalam alias butuh putaran cukup tinggi.

Rasanya seperti per kampas kopling terlalu keras, atau jarak antara kampas kopling dengan mangkok kopling yang terpaut jauh.

Kondisi ini jadi merepotkan ketika merayap di kemacetan.

Mesin jadi terus menggerung, gak nyaman dan bikin pegal! Untungnya sih tiap motor melaju bagian CVT halus tanpa ada ‘gredek’.

Kendati akselerasi awal lambat, tapi tengah ke atasnya cukup responsif, jadi kalau ketemu jalan kosong baru enak. Untuk menguji lajunya, tentu juga dites menggunakan Racelogic.

Kecepatan 0-60 km/jam dapat ditempuh 5,8 detik dan 0-100 km/jam 23,3 detik.

Sedangkan jarak 0-210 meter dicapai dalam waktu 12,7 detik.

Catatan itu enggak terlalu buruk sih, karena Honda Vario 0-60 km/jam 6,2 detik. Bicara top speed, di spidometer tertera mentok 111 km/jam dan di Racelogic 108,3 km/jam. Deviasinya sedikit ya!
Data lengkapnya bisa lihat di tabel.

KONSUMSI BENSIN

Dengan perbandingan kompresi 10,6:1 maka cocok menggunakan bensin RON 92.

Metode pengetesan secara full to full karena tidak ada fitur average fuel consumption di spidometernya.

Lubang pengisian bensin ada di tengah dek
Rian / OTOMOTIF
Lubang pengisian bensin ada di tengah dek

Setelah dipakai di beragam kondisi jalan tercatat konsumsi bensin rata-ratanya hanya 35,1 km/liter.

Itu terbilang boros untuk ukuran skutik 125 cc, bandingkan dengan Honda Vario 125 yang sekitar 45 km/liter.

Seandainya CVT diperbaiki agar akselerasi lebih responsif, melaju tak perlu putaran mesin menggerung tinggi, pasti lebih irit tuh!

Kesimpulan:
Peugeot Speedfight 4 ini menawarkan sebuah skutik khas Eropa yang menarik perhatian.

Punya posisi duduk yang nyaman, handling yang cukup baik dan berbagai fitur unggulan seperti SBC di bagian pengereman.

 Sok belakang dilengkapi tabung punya redaman pas untuk postur 57 kg, untuk boncengan aman tanpa bottoming
Rian / OTOMOTIF
Sok belakang dilengkapi tabung punya redaman pas untuk postur 57 kg, untuk boncengan aman tanpa bottoming

Hanya saja perlu ditebus dengan harga tinggi dan area CVT perlu penyempurnaan.

Data tes:
0-60 km/jam: 5,8 detik
0-80km/jam: 11 detik
0-100 km/jam: 23,3 detik
0-100 meter: 8,1 detik (@70,4 km/jam)
0-201 meter: 12,7 detik (@84,1 km/jam)
0-402 meter: 20,6 detik (@98 km/jam)
Top speed di spidometer: 111 km/jam
Top speed di Racelogic: 108,3 km/jam
Konsumsi bensin: 35,1 km/liter

Data spesifikasi
Tipe mesin: Satu silinder
Emisi: Euro 4
Pendinginan: Cairan
Bore x stroke: 52,4 mm x 57,8 mm
Tenaga maksimum: 11 dk/7.400 rpm
Torsi maksimum: 10,8 Nm/5.600 rpm
Perbandingan kompresi: 10,6:1
Tipe pengereman: SBC (Synchro Braking Control)
P x L x T: 1.895 x 700 x 1.120 mm
Jarak sumbu roda: 1.290 mm
Tinggi jok: 780 mm
Berat kosong: 113 kg
Berat isi: 121 kg
Tangki bensin: 7,4 L
Suspensi depan: Teleskopik
Suspensi belakang: Shock absorbers
Ban depan: 130/60-13
Ban belakang: 130/60-13
Cakram depan: 215 mm
Cakram belakang: 196 mm

 

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id

Editor : Iday
Sumber : Tabloid OTOMOTIF

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa