Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Fenomena Stok Mobil di Dealer Sempat Numpuk, Booking Tapi Batal Beli

Harryt MR - Rabu, 28 Oktober 2020 | 22:20 WIB
Imbas dari wacana penghapusan sementara pajak mobil yang tak kunjung jadi, cukup berdampak pada menumpuknya stok di dealer
Dok. Otomotif
Imbas dari wacana penghapusan sementara pajak mobil yang tak kunjung jadi, cukup berdampak pada menumpuknya stok di dealer

Otomotifnet.com - Seperti diketahui, kegalauan nasional sempat melanda pasar kendaraan baru, akibat menunggu-nunggu kebijakan relaksasi pajak kendaraan baru 0%.

Ujung-ujungnya diakhiri dengan penolakan dari Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati. Setidaknya dalam waktu dekat, pihaknya belum berencana dan membahas lebih lanjut mengenai relaksasi pajak mobil baru.

Imbas wacana yang tak kunjung jadi tersebut, berdampak pada timpangnya stok di dealer dengan realitas penjualan di tingkat retail atau konsumen.

Data Gaikindo terkait laporan penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) dibanding retail sales (dari dealer ke konsumen) pada September 2020, berselisih 5.192 unit. 

Baca Juga: Gaikindo Tetap Menungggu Relaksasi Pajak Mobil, Masih Belum Final

Artinya terjadi penumpukan stok di dealer lantaran banyak konsumen yang menunggu ‘gong’ relaksasi pajak kendaraan.

Yaitu dengan menyetor uang tanda jadi alias booking fee, sambil berharap ketika di-sahkan kebijakannya, maka dilanjut transaksi pembelian. Namun nyatanya, konsumen seolah termakan ‘harapan palsu’.

“Terus terang, dari booking (kemudian dilanjut ke pembelian) trennya mulai melambat. Mereka (konsumen) booking tapi belum merealisasikannya,”

“Kami diskusi ke tim sales, banyak konsumen melakukan pending, melihat aturan,” papar Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM).

Indikasi penundaan pembelian akibat kegalauan konsumen, dirasakan cukup bikin deg-degan, mengingat semua brand sedang menggenjot penjualan di akhir tahun.

Lantas seberapa besar persentase konsumen yang menunggu atau bahkan tak jadi beli?

“Konsumen ada juga yang booking dulu tapi tidak mau me-retailkan. Nah untuk tipe kedua ini, gap-nya besar. Bisa 30-40%, dibanding tren sebelumnya,”

“Kalau digantung terus orang bakal menunggu terus,” sambung Billy, pada kesempatan virtual press conference HPM.

Meski begitu, HPM mengapresiasi keputusan pemerintah yang saat ini memilih untuk tidak membahas relaksasi pajak kendaraan.

Billy mengatakan, relaksasi pajak tentunya bisa meningkatkan penjualan otomotif. Tentunya jika benar-benar terealisasi.

Baca Juga: Penjualan Kendaraan Niaga Tertolong Segmen Logistik, Simak Rinciannya

“Kabarnya tidak jadi, kebijakan pemerintah tentunya untuk kebaikan ekonomi. Menkeu kali ini tampaknya memilih untuk memberikan insentif kepada global, tidak hanya industri otomotif,”

“Apa yang diputuskan Pemerintah tentunya untuk kebaikan ekonomi, apapun kebijakan pemerintah kita akan ikuti,” sambung Billy.

Editor : Toncil

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa