Brand Knalpot Lokal Berkualitas (bag.1), R9, TDR dan Nobi

billy - Selasa, 16 Oktober 2012 | 08:40 WIB

(billy - )

Pasar knalpot dalam negeri sangat menggiurkan. Walau berapa angka kebutuhan knalpot tidak ada data resminya, sedikit ilustrasi saja, tahun lalu motor anyar yang diluncurkan lebih 8 juta unit. Belum lagi motor bekas yang jumlahnya puluhan juta unit.

Sebagian kecil atau sekitar 10 persen saja dari mereka ini ingin mengganti knalpot Original Equipment Manufacture alias merek bawaan pabrik dengan after market. Sudah kebayang berapa kebutuhan komponen pelepas gas buang ini.

Makanya banyak produsen lokal yang memproduksi knalpot. Dari sekadar untuk gaya atau yang digunakan untuk kepentingan kompetisi. Harga jualnya pun juga cukup terjangkau. Apa saja knalpot lokal yang favorit. berikut ini sebagian dari knalpot itu!


R9 dari tahun 90-an
Merek R9 layak dikasih duluan, maklum sudah tua. Yang tua silakan duluan, begitu adat orang timur. Nama R9 atau Racing Generation memang baru nongol 5 tahun belakangan. Namun kalau melihat sejarahnya, Sjafrie Ganie alias Jerry yang bos R9 eksis di dunia knalpot sejak 1996 lalu.

Pembaca MOTOR Plus dari awal pasti ingat. Merek Ker Ker dan Konic, itulah cikal bakal R9. Ker Ker dan Konic menyasar pangsa pasar bawah, akhirnya terlibas merek-merek yang menyasar pasar menengah ke atas.

Ker Ker dan Konic secara desain mudah ditiru pengrajin pinggir jalan. Secara ekonomi juga low. Dari awalnya bisa pasang iklan di halaman depan akhirnya di belakang dan tutup.

Itu yang membuat Jerry berpikir terbalik. “Memproduksi knalpot yang tidak bisa dibeli. Harganya main di pasar atas,” jelas Jerry. Namun investasinya harus gede, mesin-mesin CNC dan las tingkat tinggi harus digunakan.

Material yang digunakan juga bukan pelat besi biasa. Dari awal sudah steanless steel, carbon dan sekarang titanium. Bahkan knalpot Eropa ternama juga sempat mau teken kontrak dengan R9 untuk memproduksi di Indonesia. Lebih lucu lagi, pihak Malaysia memproduksi knalpot di R9 dengan merek sana yang terkenal. “Dikirim ke Malaysia dan balik lagi dijual di Indonesia,” geli Jerry.

Untuk riset, langsung di balap dan menggunakan dinotes. Bocorannya akan meluncurkan knalpot seperti ikan hiu. Dan ke depan, pabrikan memegang moto “Memberi Bukti Bukan Janji” ini akan konsen di material titanium.

TDR Racing Sang pelopor
TDR Racing muncul 2003. Tapi, eksis di dunia motor sejak 1999 lewat bendera Mitra2000. Khusus di dunia knalpot racing, bisa dikatakan sebagai sang pelopor. Seperti inovasi pada knalpot 4-tak yang punya desain atau ukuran model panjang. Dikenalkan sejak 2004 lalu.

Ketika itu knalpot racing di Indonesia untuk balap road race modelnya masih pendek-pendek. Tapi, TDR sudah meluncurkan model panjang. Banyak yang belum berpikir kegunaan dan fungsi model panjang ini. Sekarang model ini jadi booming dan dipakai semua pabrikan knalpot.

Secara desain dan teknis, knalpot underbone panjang memang cocok di zaman sekarang yang teknologinya sudah tinggi. Tenaga motor sudah besar perlu diimbangi knalpot panjang. Supaya pembalap merasakan smooth dan powernya tidak beringas sehingga mudah dikendalikan. Knalpot model panjang juga membuat mesin jadi awet. Cocok untuk endurance atau daya tahan tinggi.

Basic produksi knalpot TDR Racing dibuat di Thailand. Selain memproduksi knalpot untuk undebone, juga beken dengan pipa buang untuk matic. Bahkan terakhir meluncurkan juga versi untuk motor 2-tak. Sebagai contoh knalpot untuk Kawasaki Ninja 150 yang dibanderol Rp 1,1 juta.

Menurut Benny Rachmawan dari bagian Pengembangan Product, knalpot 2-tak ini mudah diseting. “Powernya merata, terdongkrak dari rpm bawah sampai atas,” jelas Benny. Bagi yang mau tanya produk ini bisa langsung ke salah satu penjual resminya Tristar Motor di Jl. Kebon Jeruk III, No. 60B, Kota, Jakarta Barat. Telepon (021) 62308470.


NOBI, harga menengah
Nobi nongol mulai 2005, sebenarnya masih turunan dari R9 (Racing Generation), namun pangsa pasar yang disasar menengah ke bawah. Meski tidak satu pabrik namun pengalaman dalam meracik knalpot bisa mirip dengan R9.

Karena Nobi menyasar harga menengah, material yang digunakan dicari yang terjangkau. Seperti dari pelat besi biasa namun sisi pelapisan dan pewarnaan dibuat lebih menarik. Sehingga walaupun dasarnya hitam tapi enak dipandang.

Kunci Nobi enak dipandang juga dari sisi desain. Seperti silencer tidak melulu bulat, misalnya dibuat three oval. Selain secara seni bisa didapat, juga susah ditiru. Apalagi dalam pembuatannya menggunakan sistem press alias tidak menggunakan sistem ketok.

Bukan hanya itu, untuk melindungi konsumen dari pemalsuan juga ada cara lain. “Setiap desain Nobi, selalu didaftar dalam hak paten,” jelas Marcel dari Nobi.

Sesuai konsepnya yang menyasar kelas menengah, harga yang dirilis hanya Rp 300 sampai 500 ribu. Rumus dalam mendesain volume knalpot juga dirancang untuk pemakai motor harian. Untuk meningkatkan power namun punya nilai endurance tinggi dan memperhatikan sisi safety.

Sisi safety atau kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan dengan merancang knalpot khusus tipe terbaru yang dijuluki Nobi Neo Silent Sport. Tidak berisik namun bertenaga. Sehingga aman dari tilangan petugas yang tidak menggunakan alat ukur kebisingan suara.   (motorplus-online.com)