ICE Mengenal Audio Hi-res Berawal Dari Pita Digital

Parwata - Jumat, 6 Januari 2017 | 22:00 WIB

(Parwata - )

Jakarta - Tiga tahun lalu, mulai sering terdengar istilah high resolution pada audio mobil. Apa ya maksudnya?

“Belakangan ini memang banyak yang memasang sistem hi-res pada car audio,” ungkap Pujiyanto Suryana dari Music Art, di kawasan MGK. Sistem hi-res (high resolution) memang menawarkan suara yang lebih bersih, detail dan dinamis.

“Namun harus diikuti perangkat yang sesuai. Biasanya mengambil dari Media Player Portable dan menggunakan prosesor yang kompatibel,” terang pria yang akrab disapa Puji itu.

Sejarah bermula sekitar 1960-an, kala itu NHK dan Denon menggunakan sistem digital pada rekaman musik komersial, sehingga hampir semua musik popular pun tersedia dalam format digital.

Dari pita digital, muncul CD (Compact Digital Disc) pada Oktober 1982. Namun setelah 34 tahun lebih, CD boleh dibilang ‘mati’. Mobil baru pun sudah banyak yang tak dilengkapi CD player, melainkan player yang langsung membaca via USB.

Masalahnya kini, CD jadi tidak praktis dibanding teknologi media penyimpanan (memory card) terkini yang kapasitasnya jauh lebih besar, yang memungkinkan memainkan musik hi-res, yakni format asli saat rekaman dibuat.

Sebab format asli itu membutuhkan kapasitas memori yang jauh lebih besar, bisa 4 atau 5 kali lipat dibanding lagu yang sama pada CD. Sekarang bahas dulu apa itu audio hi-res. Pada edisi depan, kita akan melihat beberapa cara memutar file hi-res pada car audio. * (Fab /otomotifnet.com)

 
Bit Depth, Sampling Rate dan Bit Rate

Prinsipnya, proses men’digitalkan’ rekaman analog, dilakukan dengan ‘memotret’ suara untuk dikonversi menjadi kode digital. Dua hal yang memengaruhi kualitasnya adalah jumlah ‘foto’ per detik dan kualitas per foto itu sendiri.

Semakin besar kualitas fotonya, semakin bagus rekamannya.  Pun begitu bila semakin banyak jumlah foto per detik, maka rekamannya akan semakin mendekati suara aslinya.

Kualitas foto itu biasanya dinyatakan dalam bit depth. Pada CD Audio normal 16 bit atau 24 bit. Sedangkan jumlah foto per detik disebut sebagai sampling rate. Pada CD audio normal 44,1 kHz atau 44.100 kali foto per detik. Ini sudah dianggap memadai, karena frekuensi tertinggi yang dapat didengar manusia berkisar 20 kHz atau setengah dari sampling rate.

Sebagai perbandingan, yang dimaksud sebagai rekaman high resolution memiliki bit depth 24 bit sebagai standarnya, namun dengan sampling rate antara 96 kHz hingga 192 kHz, bahkan lebih. Jangan heran bila suaranya terdengar lebih jernih dari CD audio biasa.

Kecepatan file audio itu diproses (bit rate) juga menentukan kualitasnya. Sebagai contoh file MP3 yang resolusinya rendah, memiliki kecepatan tertinggi 320 kbps, sedangkan CD audio biasa 1.411 kbps, sementara file hi-res 24-bit/192 kHz diproses dengan kecepatan 9.216 kbps!  

Ragam Format

Ini yang kerap bikin bingung, sebab banyak yang mengira file audio hi-res memiliki format tertentu. Padahal ada beberapa format yang tersedia, termasuk FLAC (Free Lossless Audio Codec), ALAC (Apple Lossless Audio Codec), WAV (Windows), AIFF hingga DSD.

Tidak ada masalah dengan berbagai format tersebut, selama peranti yang digunakan mampu memutarnya.

Namun, rata-rata file audio hi-res terkini menggunakan FLAC dan WAV, dengan besar file minimal berkisar 100 MB untuk lagu standar 4 menit.   Sumber file hi-res pun banyak tersedia via online, dari Hdtracks.com yang muncul pada 2008 silam, Qobuz dan banyak lagi. Tinggal manfaatkan mesin pencari internet, beres.

Pemutar Audio Hi-res

Audison Bit 1HD
Sony RSX-GS9
Musway Hires
Helix Pro
Kenwood eXcelon
JVC KW-V820BT
AudioControl digital signal processors (DSPs)
Phoenix Gold 56-bit digital signal processor (DSP)
Clarion Full Digital Sound Components system