Mengemudi Lebih Dari 4 Jam, Lakukan Ini Saat Mudik Lebaran Nanti

Konten Grid - Jumat, 20 Februari 2026 | 11:00 WIB

lakukan ini saat kalian mengemudi lebih dari 4 jam untuk mudik lebaran

Otomotifnet.com - Saat perjalanan mudik, acapkali banyak orang yang menyepelekan waktu istirahat. 

Tapi, kalian tahu gak sih? Waktu istirahat itu sangat penting, lho.

Banyak pengguna jalan menganggap waktu istirahat dapat dilakukan saat sampai tujuan, padahal mudik lebaran biasanya ditempuh dalam waktu yang cukup lama, bahkan bisa lebih dari 4 jam.

Tentu, itu bahaya untuk keselamatan diri pengemudi dan penumpang.

Keamanan di jalan raya bukan sekadar soal keterampilan menyetir, melainkan kepatuhan pada regulasi yang dirancang berdasarkan batas biologis manusia.

Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya Pasal 90, telah mengatur napas kerja para pengemudi demi keselamatan bersama.

1. Memahami Aturan Hukum Berkendara

Berdasarkan ayat (2) dalam pasal tersebut, waktu kerja maksimal pengemudi kendaraan umum adalah 8 jam sehari.

Namun, poin krusialnya terletak pada jeda operasional, pengemudi wajib beristirahat minimal 30 menit setelah berkendara selama 4 jam berturut-turut.

Aturan ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan standar keamanan medis yang dipayungi hukum.

2. Sains di Balik Jeda Istirahat

Mengapa harus setiap 4 jam?

Secara ilmiah, fokus dan daya refleks manusia menurun drastis setelah periode tersebut.

Tubuh memerlukan fase pemulihan (recovery) untuk mengembalikan ketajaman saraf motorik.

Tanpa jeda, pengemudi rentan mengalami:

Baca Juga: 5 Tips Meninggalkan Motor di Rumah Saat Mudik Lebaran, Ini Kata Pakar

Baca Juga: Sebelum Ditinggal Mudik Lama Teteskan Oli ke Lubang Busi Motor, Ini Fungsi Pentingnya

Baca Juga: Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Pergi Mudik Lebaran? Ini Kata Pakar

Baca Juga: 5 Tips Antisipasi Modus Maling Pecah Kaca Mobil Saat Mudik Lebaran

3. Tanggung Jawab Sosial dan Efek Domino

Ketika seorang pengemudi memaksakan diri melampaui batas lelah, risiko yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa diri sendiri atau keluarga di dalam mobil, tetapi juga pengguna jalan lain.

Kelelahan ekstrem dapat menyebabkan mobil oleng atau kehilangan kendali fatal, yang berpotensi memicu kecelakaan beruntun.

YANG LAINNYA