Industri Bus di Indonesia Dihajar Pandemi Covid-19, Kemenperin Sebut Masih Ada Hasil Positif

Ignatius Ferdian,Harun Rasyid - Jumat, 5 Februari 2021 | 22:40 WIB

Ilustrasi Bus (Ignatius Ferdian,Harun Rasyid - )

Otomotifnet.com - Industri bus kena dampak besar saat pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia di tahun 2020 lalu.

Selain itu, kebijakan pemerintah dalam transportasi umum di masa pandemi seperti penyetopan operasi bus sementara, imbauan larangan mudik hingga penerapan protokol kesehatan, membuat minat para pengguna bus sempat menurun.

Namun menurut Taufiek Bawazier selaku Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri bus dalam negeri dianggap masih mampu bertahan di saat Pandemi Covid-19.

"Penjualan bus di Indonesia mampu bertahan di dalam persaingan global. Untuk jumlah produksi bus di Indonesia tahun 2018 mencapai 3.460 unit, 2019 sebanyak 3.275 unit dan saat pandemi tahun 2020 kita masih mampu memproduksi bus sebanyak 2.075 unit," ujarnya dalam webinar Busworld Southeast Asia (2/1/2021).

Baca Juga: Curhat Pengusaha Bus Dihantam Pandemi Covid-19, Tak Tinggal Diam, Pilih Lakukan Ini

Taufiek menyebut, masih ada sisi positif dari jumlah produksi kendaraan komersial lainnya di tahun 2020.

"Produksi Kendaraan komersial seperti pikap di 2019 itu mencapai 146 ribu unit lebih, tahun 2020 produksi pikap mencapai 95.285 unit. Produksi truk di 2019 tercatat 91.757 unit, di tahun 2020 mencapai 41.379 unit," sebutnya.

"Yang menarik jika melihat datanya, total kendaraan niaga dibanding penumpang tahun 2019 persentasenya hanya 17 persen. Sedangkan di era Covid-19, meningkat jadi 20 persen. Artinya market kendaraan niaga menguat dibanding total produksi otomotif nasional," sambung Taufiek.

Ia mengatakan, perubahan struktur pasar kendaraan niaga di Indonesia akan terus didukung oleh pihaknya lewat kebijakan dan asosiasi.

Baca Juga: Bus PO AKAS ASRI Bobok di Jurang, Gagal Nyalip Injak Rem, Ban Melintir

Kompas.com/ Dio
Fasilitas perakitan bus Karoseri Laksana di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah

"Saya harap asosiasi ASKARINDO dan IPOMI agar terus mendorong anggotanya untuk terus berinovasi terutama melalui saluran digital. Apalagi saat ini Indonesia telah menerapkan Making Indonesia 4.0 dengan 7 prioritas sektor di antaranya transportasi sebagai penghela ekonomi nasional," kata Taufiek.

Ia menyampaikan, industri bus dalam negeri juga dianggap terus maju dan mampu menjawab keperluan para penikmatnya di Tanah Air.

"Dengan data tersebut, ada peluang besar di industri otomotif nasional dalam negeri. Baik dari segi perakitan, Gaikindo, karoseri. Semuanya memiliki kemampuan pemenuhan kebutuhan kendaraan Komersial dari segi tipe dan jumlah kendaraannya," ungkap Taufiek.

Lebih lanjut, ia menambahkan jika kebutuhan bus akan tetap naik seiring dengan kebijakan yang ditetapkan pemerintah soal transportasi.

"Potensi kebutuhan bus cukup tinggi mengingat pemerintah terus meningkatkan sistem transportasi umum dalam aktivitas sehari-hari dalam kota hingga pariwisata. Selain itu ada program peremajaan transportasi yang sudah berusia 25 tahun," tutupnya.