Berawal dari reli, ia beranjak ke organisasi otomotif. Menjadi ketua pengda IMI DKI, lalu lewat Munas IMI di Jakarta 19 Mei 1991, ia terpilih sebagai ketua PB IMI.
”Dalam penyerahannya, saya perbaiki organisasi. Pembuatan kalender event secara rutin melalui rakernas. Penyempurnaan AD/ART dan logo IMI,” ujar Tommy yang juga menggagas himne dan mars IMI, serta meningkatkan level kejuaraan jadi internasional dan dunia.
Selagi masih jadi ketua pengda IMI DKI, ia sudah merencanakan sebuah sirkuit bertaraf internasional di Sentul. ”Arahnya Formula 1, desain awalnya melibatkan FIA. Tapi karena anggaran cukup mahal, sponsor belum ada yang commit, akhirnya kita batalkan (balap F1),” ujar chairman Humpuss Group ini.
Ia mengakui, pembinaan atlet saat itu kurang karena masih fokus pada pembangunan sarana. Tetapi dari sisi event, pada 1994-1997 berkat dorongannya terselenggara World Superbike. Di tahun 1996 juga terlaksana GP500.
Lainnya, kejuaraan dunia motocross (1997) dan reli (1996 dan 1997). Nama Indonesia pun dikenal dunia. ”Itu saya katakan keberhasilan karena bagi-bagi sukses di bidang masing-masing,” lanjutnya.
Ia juga menggagas Yayasan Otomotif Indonesia (YOI) pada 1993 untuk mendanai kegiatan sport. Dana sponsor dari Gudang Garam dan Bentoel yang didepositokan.
”Tidak langsung dipakai untuk kegiatan otomotif. Tapi didepositokan ke bank, dengan bunga 12 persen. Bunga ini yang dipakai membiayai kegiatan otomotif yang belum jalan, di daerah utamanya.”
Kini, lagi-lagi, visi sebagai penggerak sport otomotif mencuat lewat Humpuss Kart Series (HKS). Yakni, sebuah balap gokart untuk pemula yang melibatkan anak-anak dari masyarakat luas. Bukan hanya sirkuit dan gokart, jenjangnya pun juga dipikirkan. Setelah kelas pemula (Novice) disediakan pula kelas lebih tinggi (Formula Cadet). (mobil.otomotifnet.com)
| Editor | : | billy |
KOMENTAR