OTOMOTIFNET - Selama tampil di Indonesia, tantangan yang dihadapi enggak cuma berkaitan hal-hal teknis balap atau mobil, tapi juga makanan. Baru seminggu di Jakarta, timbangan pembalap tim PTT Achilles Drift Team asal Thailand ini sudah naik 3 kilogram! Wow, pesat banget yaa...
“Di Indonesia no diet, di sini susah. Saya makan banyak sekali karbohidrat, mie, nasi. Biasanya saya sama sekali enggak makan karbohidrat, saya cuma makan protein. Tiap hari tim kita dikirimi 30 kotak nasi. Mau gak mau dimakan, gak ada pilihan lain. Saya baru seminggu disini, udah naik 3 kilogram,” bilang drifter yang berpengalaman tampil dan memperkenalkan drifting di Inggris, Jerman, Irlandia, Belanda, Prancis, Thailand dan Indonesia ini.
Sebagai pembalap, Kiki dituntut untuk selalu fit. Selain olahraga, drifter yang di Inggris disebut ‘Drift Guru’ ini harus selalu menjaga pola makannya. “Di dalam mobil itu panas sekali, suhunya bisa sampai 85 derajat celcius. Jadi perlu stamina yang bagus. Saya lari 15 km sehari, 3-4 kali seminggu,” lanjut orang Thailand pertama yang bikin event drifting di Sirkuit Silverstone, Inggris ini.
Tak hanya soal teknik drifting di sirkuit, anggota sub-komite Royal Thai Police ini juga sangat paham dan disiplin soal makanan sehat. Prinsipnya, ‘good food makes you young, bad food makes you old’ (makanan sehat bikin muda, makanan buruk bikin tua).
Selain gula dan karbohidrat, ia juga pantang mengonsumsi kafein seperti teh atau kopi. “Tiap olahraga perlu tubuh fit. Apalagi balap, ini olahraga yang enggak sehat. Ada banyak polusi, asap, stres,” papar pemilik gelar MBA dari Oxford Brookes University Business School ini. Wah, komplet banget.
Belajar dari mana sih? “Keluarga saya sebagian besar profesinya dokter. Dari 8 orang, cuma saya yang jadi pembalap,” jawabnya sambil terkekeh.
Penulis/Foto: Nawita / F.Yosi
| Editor | : | Editor |
KOMENTAR