Mengenal Bagian-bagian dan Istilah Dalam Kem Atau Noken As

Editor - Senin, 27 April 2015 | 12:47 WIB

(Editor - )


 
Jakarta - Sebelumnya sudah dijelaskan salah kaprah saat memilih kem atau noken as, kebanyakan orang hanya melihat angka durassi sebagai patokan , ternyata ada banyak yang lebih penting, mulai dari profil hingga lift-nya. Agar enggak bingung, yuk kita kupas lebih mendalam tentang bagian-bagian dan istilah dalam kem.

Secara fisik, kem dibagi jadi 2 bagian, yaitu journal dan lobe. Journal merupakan bagian batang kem yang berhubungan dengan gigi sentrik dan dudukan laher. Sementara itu, lobe ialah tonjolan yang berfungsi sebagai pengatur buka tutup klep.

Lobe sendiri terdiri dari beberapa bagian, yang menentukan profil kem. Pertama ada base circle atau lingkaran pinggang. Kedua ada flank atau bagian sayap. Ketiga ada nose, atau bagian paling atas yang mirip hidung.
 
Ada juga ramp atau lereng, yaitu bagian antara base circle dan flank, ramp ini bagian awalan saat kem mendorong pelatuk. Satu lagi ada heel, bagian bawah lobe yang biasanya bebas dari sentuhan pelatuk.
Saat bicara tentang kem, banyak istilah yang sering muncul. Apa saja? Pertama ada durasi, apa sih? Sesuai namanya, data ini menunjukkan waktu kapan kem mulai membuka sampai menutup klep (cam timing). Pengukuran durasi menggunakan derajat. Misal kem ex membuka 60° sebelum TMB dan menutup 30° setelah TMA, dan untuk mendapatkan durasi harus ditambah 180°.

Dari mana angka itu? Jelas saja karena dari TMB menuju TMA klep terus membuka, dan pada langkah itu didapat langkah sepanjang 180°.
 
Maka durasinya jadi 60° + 180° + 30° = 270°. Durasi makin lebar, klep akan membuka lebih lama. Tapi lamanya klep membuka juga dipengaruhi oleh profil kem.

Kemudian lift, yang bahasa mudahnya seberapa tinggi angkatan kem pada klep. Besarnya lift dipengaruhi profil lobe dan rasio pelatuk. Makin tinggi lobe, dan makin besar rasio pelatuk, maka lift-nya semakin tinggi. Makin tinggi lift maka suplai bahan bakar yang masuk makin besar.

Lalu ada overlap. Data overlap menunjukkan posisi dimana klep in dan ex membuka secara bersama. “Overlap menentukan karakter mesin, makin besar overlap, power didapat lebih di atas,” terang Tomy Huang, dari Bintang Racing Team (BRT) yang sedang getol riset kem.

Satu lagi yang sering dibahas adalah LSA (lobe separation angle), istilah ini untuk menunjukkan jarak antar dua puncak kem in dan ex. “Data ini juga mempengaruhi karakter mesin, makin sempit mesin lebih teriak di rpm atas,” ujar Kupret, sapaan Suhartanto. Angkanya kisaran 100-105°.

Selain istilah di atas, ada pula yang jarang dibahas. Pertama velocity atau kecepatan perpindahan saat kem bekerja. Kedua ada acceleration atau percepatan dari velocity, “Yang bagus velocity sama dan acceleration simetris, yang akan berpengaruh pada jerk,” ujar Tomy yang asli Tanjungbalai, Sumatera Utara ini.

Nah terakhir yang mesti diketahui adalah jerk atau entakan. Jerk terjadi ketika kem mulai mendorong dan sesaat sebelum melepaskan pelatuk di bagian ramp. Jerk ini yang berperan timbulnya bunyi berisik. “Di balap maksimal angkanya 0,01, kalau 0,1 pasti berisik,” lanjut pria berkaca mata ini. (otomotifnet.com)