Rekondisi Pelek CW Hasil Maksimal 95 Persen

Editor - Selasa, 23 Maret 2010 | 11:51 WIB

(Editor - )

OTOMOTIFNET - Bicara ngepres pelek motor model palang (CW = casting wheel), identik dengan proses rekondisi kaki-kaki sehabis mengalami tragedi kecelakaan. Lantaran banderol pelek CW per set relatif mahal, kiat mengembalikan kondisi pelek ke kondisi semula sangatlah wajar. Tapi soal kualitas dan kekuatannya, apakah dapat kembali normal?

RUJUKAN BENGKEL
Para spesialis pres pelek memang mengakui kalau hasil akhir yang ditawarkannya, enggak bisa kembali pulih seperti semula. Pasalnya proses rekondisi ini bakal mengubah konstruksi awal pelek bikinan pabrikan.

“Jenis kerusakan dan jenis motor apapun bisa kami tangani. Soal hasil akhir, maksimal memang hanya bisa kembali pulih hingga 95%,” buka Harry Kurniawan, manager Suba Moto Servis (SMS) di Jl. Raya H. Asmawi No.64, Beji, Depok.

Sama halnya dengan hasil garapan yang ditawarkan Room Precision Motorcycle (RPM) di Jl. Raya Condet No.10, Jaktim. "Hasil pengerjaan pres pelek palang memang enggak bisa sempurna dibandingkan dengan kualitas pelek palang baru. Tapi kami menjamin pelek bisa dipakai lagi untuk pemakaian harian," ungkap Dwinanto dari RPM.

Kedua bengkel spesialis pres pelek motor tadi punya kesamaan soal alat yang dipakai. Gerai SMS dilengkapi mesin JBB Pressindo tipe MPU 55 T – 5 H, sementara workshop RPM membekali diri dengan dua jenis mesin pres andalannya, yaitu tipe R-1 All Around dan R-2 Solution.

Harry coba meyakinkan bahwa metoda pres pelek yang dilakoninya tergolong aman buat pelek kesayangan Anda. “Pengerjaannya tanpa menggunakan proses pemanasan maupun pembakaran, terutama di bagian yang bengkok maupun yang akan di pres,” ucap bapak 1 anak ini.

Dwinanto pun menimpali kalau proses perbaikan pelek palang motor buat konsumennya, tidak melalui tahapan pemanasan. "Semua dikerjakan secara mekanis pakai mesin hidraulis, dengan keakuratan sangat baik. Sehingga pelek yang semula bengkok bisa kembali normal tanpa cacat di permukaannya," promosi penyemplak Yamaha Vega ini.


Cara konvensional dianggap masih aman digunakan

Umumnya konsumen dikasih garansi sampai sebulan

Pres pelek dengan metoda mekanis tanpa pemanasan

Mesin RPM Motopres R-2 Solution bisa dipakai buat pres segitiga dan piringan cakram rem

KONVENSIONAL
Metoda konvensional dengan alat bantu seadanya juga masih diandalkan beberapa pebengkel di sektor ini. Sebutlah Nardi, pemilik bengkel Anci Motor (AM) di Jl. Raya H. Mencong No.34, Ciledug, Tangerang ini.

Sistem kerja yang Ia terapkan mengandalkan sebuah balok kayu meranti. “Sewaktu pelek digetok pada bagian yang bengkok, kayu ini tidak akan merusak lapisan kromnya," dalih pria yang sudah praktik sejak 2003 sampai sekarang.

Bagaimana jika kondisinya cukup parah seperti retak? Menurut Nardi memang perlu dilas babet hingga rata kembali. "Atau sedikit dipanaskan dengan las argon, untuk memudahkan proses pengepresan," timpal Dwinanto.

Namun kata mereka, cara ini tidak direkomendasikan, lantaran proses pemanasan atau pengelasan akan berdampak pada menurunnya kekuatan dari pelek itu sendiri.

Etos kerja yang diterapkan ketiga pebengkel ini pun diapresiasikan secara positif, lantaran tidak berniat menjerumuskan konsumennya kepada masalah berikutnya. Tak ayal jika mereka dijadikan rujukan oleh bengkel resmi maupun workshop umum.

Seperti SMS yang sudah lama dijadikan bengkel rujukan oleh bengkel motor dan masyarakat, terutama di seputaran Depok dan sekitarnya. Sedangkan RPM sudah menjadi mitra usaha dari bengkel Yamaha DDS Cempaka Putih, Jakpus, untuk menangani masalah pres pelek.

Soal biaya Harry mematoknya mulai Rp 50 ribu, sementara RPM memberi tarif antara Rp 100-125 ribu, sedangkan AM minta kompensasi Rp 40-100 ribu. Harga tersebut tergantung tingkat kerusakan dan kesulitannya, karena semakin sulit direkondisi juga semakin mahal biayanya.

Nah sebagai wujud tanggungjawabnya, ketiga bengkel pres pelek motor tadi memberi jaminan kualitas kerja antara 1 minggu hingga 1 bulan. "Untuk kerusakan di posisi yang sama," kata Dwinanto.

Penulis/Foto: Banar, Pidav, Anton / Anton, Pidav