calon Gubernur DKI Adu Konsep Atas Macet Jakarta, Siapa Unggul?

billy - Kamis, 1 Maret 2012 | 07:04 WIB

(billy - )


Dua orang kandidat Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, Ir Alex Noerdin dan Faisal Basri adu konsep untuk mengatasi kemacetan. Alex yang bakal digadang Partai Golkar bersama kandidat lain seperti Tantowi Yahya, Azis Syamsuddin dan Priya Ramadhani bahkan telah menyiapkan tagline “Atasi Macet dan Banjir dalam 3 tahun.”

"Kalau dalam 3 tahun tidak berhasil, saya akan mundur. Dan saya akan ‘tangan besi' dalam mengambil keputusan soal transportasi. Saya berani berbeda kalau pemerintah pusat tidak mengizinkan. Saya akan mencontoh Bangkok yang 10 tahun lalu dikenal kota paling macet tetapi sekarang relatif lancar," ujar Alex yang sukses menyiapkan venue SEA Games dalam 8 bulan dan masih menjabat sebagai Gubernur Sumatra Selatan.

Sedangkan Faisal Basri yang merupakan pakar ekonomi dari Universitas Indonesia lebih suka memberdayakan angkutan umum . "Pemberdayaan angkutan umum itu yang paling utama. Kalau angkutan umum dibikin nyaman, busway armadanya ditambah sesuai kebutuhan, itu akan sangat membantu mengatasi macet," ungkap kandidat dari jalur independen itu.

Faisal yang akan berpasangan dengan Bien Benyamin (sebagai wakil gubernur), putra tokoh legendaris Betawi, Benyamin S, menilai sektor transportasi dikuasai bandar. Jadi bukan lagi mengutamakan kepentingan rakyat melainkan keuntungan Bandar.

"Nanti saya jadi gubernur akan saya benahi soal transportasi ini dengan traffic management, ada program 100 hari hingga setahun. Saya paling menentang keras rencana pembangunan 6 ruas tol dalam kota karena hanya akan memindahkan kemacetan," tambahnya.

Alex dan Faisal ditemui OTOMOTIF secara terpisah di Jakarta, pekan lalu, memaparkan konsepnya mengatasi kemacetan Jakarta. Berikut petikannya.

ALEX NOERDIN : KE JAKARTA AKU KAN KEMBALI

Meski merajut birokrasi di Pemda Sumatera Selatan, pernah menjadi Bupati Musi Banyuasin dan kini Gubernur Sumsel, Alex Noerdin besar di Jakarta. Pasalnya, kuliah diselesaikannya di jurusan teknik Universitas Trisakti, Jakarta. Kedua orang tuanya juga dimakamkan di Jakarta. "Jadi kalau saya dibilang tidak tahu Jakarta itu salah besar. Saya telah mempelajari akar persoalan macet di Jakarta, dan yakin dalam 2,5 tahun Jakarta bisa bebas dari macet dan banjir," yakin Alex.

Memang Jakarta berbeda dengan Palembang. Maka itu Alex perlu waktu hingga hampir 3 tahun untuk membenahi macet dan banjir. Dengan pengalamannya, ia yakin bakal bisa mengatasi masalah laten di Jakarta itu. "Sudah ada konsepnya. Tapi tentu tidak bisa saya buka semuanya. Tapi sedikit bocoran bolehlah. Kira-kira meniru pembangunan transportasi kota Bangkok (Thailand). Lalu, kalau konsep atasi macet bagus dan benar, pemerintah pusat tidak mendukung, saya berani berbeda dan jalan terus," ungkap ketua forum Gubernur se-Sumatra itu.

Istilah Alex, memimpin Jakarta harus dengan tangan besi seperti halnya Bang Ali Sadikin. Namun membangun Jakarta saat ini juga harus memahami konsep dan gaya yang dilakukan Sutiyoso. Harus siap tidak popular, tapi hasilnya bisa kelihatan. "Seperti proyek monorail yang teronggok itu, saya sudah gemas melanjutkan pembangunannya. Tapi ini nanti dulu, takut banyak yang tersinggung. Namun intinya, harus diteruskan setelah diselesaikan persoalan yang menghambatnya," lanjutnya.

Selain modal pengalaman dan terbukti bertangan dingin, Alex maju sebagai calon gubernur DKI atas permintaan itu harus memenuhi beberapa syarat. Diantaranya telah mendapat restu dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku atasannya. "Pada saat acara Parlemen Negara Islam di Palembang lalu, Pak SBY memberi restu. Kalau yakin menang, silakan maju. Saya setuju," tutur Alex.

Selain itu, harus bisa berbuat lebih baik dari yang sebelumnya. Harus yakin selesai mengatasi macet, banjir dan masalah lainnya sesuai target waktu.

Menurut Alex, yang membuat Jakarta macet itu bukan warga Jakarta. Melainkan ada 3 juta warga pinggiran dari Bekasi, Depok dan Tangerang yang setiap hari menyerbu ibukota untuk mencari nafkah. "Bagaimana yang 3 juta ini tidak membuat macet. Harus diatasi, kereta api komuter dimaksimalkan, angkutan umum diperbaiki, MRT segera dibangun menghubungkan seluruh kawasan di Jakarta, dan masih banyak lagi konsep yang masih saya simpan di kantong," ungkap pria kalem ini.

Secara otomatis, Alex juga akan menerapkan sekolah dan berobat gratis. Bahkan sampai sekarang namanya tercatat di MURI dengan realisasi 81 hari di Sumatra Selatan dari janji 1 tahun. Meski dianggap pendatang baru, Alex tidak kalah populer. "Saya sudah menguasai masalah di Jakarta. Dengan bekerja sangat keras, saya optimis bisa membereskan masalah macet dan banjir dalam 3 tahun saja," senyum Alex Noerdin.

FAISAL BASRI : SINERGI MODA TRANSPORTASI IBUKOTA

Tidak seradikal Alex, mantan sekjen PAN (Partai Amanat Nasional) yang sekarang emoh masuk partai politik ini telah menyiapkan program untuk 100 hari hingga setahun. "Dalam waktu pendek itu kan tidak bisa melakukan pembangunan yang bersifat fisik. Saya akan lebih concern ke traffic management," ujar Faisal Basri.

Kandidat yang berpembawaan sederhana ini akan fokus ke pengaturan u turn, penataan akses jalur cepat dan lambat, yang menjadi simpul kemacetan di ibukota. "Saya akan bangun jalur putar balik layang seperti halnya di Malaysia dan Thailand. Ini sebenarnya yang menjadi titik kemacetan di Jakarta. Lalu lintas yang mengatur pemilik gedung di dekatnya," tuturnya.

Penegakkan disiplin akan ditanamkan kepada petugas dan warga Jakarta secara konsisten. Amdal untuk bangunan gedung wajib hukumnya. Gandaria City itu patut dicontoh, dengan membangun jalur sendiri untuk masuk mal. Lalu, kandidat yang memasang tagline "Berdaya Bareng Bareng" ini mengkritik konsep lalu lintas yang semua berpusat ke Semanggi. Akibatnya, kawasan itu menjadi crowded tak ada habisnya.

Pihaknya juga akan mendorong secara masif infrastruktur transportasi publik. Selama ini, rakyat tidak punya pilihan untuk transportasi. Tapi yang ada sekarang, jalan raya hanya milik orang kaya. Kalau punya uang, bisa membayar jasa polisi untuk memandu jalan bebas kemacetan.

Faisal juga akan menertibkan parkir yang makan jalan dan trotoar, penggunaan bahu jalan, pola kegiatan ekonomi dan pemukiman dengan feeder gratis. "Intinya, kami akan membangun gerakan baru secara bersama sama dengan disiplin, peduli, antre, tidak menyogok polisi karena itu merugikan orang lain. Kita harus berbuat bareng-bareng, tidak boleh lagi ada penumpang di atas kereta api karena tidak manusiawi," ujarnya.

Menurut mantan Rektor STIE Perbanas ini, Jakarta tidak spesifik dan bisa diperhitungkan. Selain monorail harus dilanjutkan pembangunan­nya, fungsinya juga bisa diperluas. Karena bisa menghubungkan antarkawasan, juga disambungkan dengan halte busway. "Jadi seluruh ruas Jakarta harus bisa sinergi antara busway, monorail, MRT dan kereta api komuter," lanjut Faisal yang menyarankan e-toll bisa dipakai untuk pembayaran seluruh moda transportasi.

Pria kalem ini secara khusus menyoroti kereta api komuter yang jumlah gerbongnya sangat tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang ada. "Ada satu hal yang publik belum tahu, bahwa untuk menyambung seluruh ruas Jakarta, masih perlu 9 kilometer di kawasan Pluit - Tanjung Priok. Itu dulu yang dibangun, hanya 9 km doang, sehingga komuter benar-benar bisa mengitari Jakarta. Tetap harus melibatkan pengusaha untuk berpartispasi, dengan konsesi boleh membuka supermarket di lantai atasnya misalnya," tutur Faisal.

Namun satu hal yang Faisal tidak setuju, pembangunan ruas 6 tol dalam kota. Alasannya, hanya memindahkan kemacetan. Menurutnya, pembangunan jangan dilakukan semata permintaan, karena tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan. "Tidak perlu penambahan jalan. Kalau disiplin dilakukan bareng-bareng, angkutan umum diberdayakan, Jakarta akan bebas macet. Kalau 6 ruas tol dalam kota dibangun, hanya akan menyenangkan kelas atas," tegasnya. (mobil.otomotifnet.com)