Gesang Martohartono : Nasionalisme Lewat Honda C70

Editor - Sabtu, 5 Juni 2010 | 09:17 WIB

(Editor - )

OTOMOTIFNET - Pencipta sekaligus pelantun tembang Bengawan Solo, Gesang Martohartono sudah tiada. Kepergian pria kelahiran Solo, 1 Oktober 1917 pada Kamis (20/5) meninggalkan kenangan yang tak pernah surut. Tak hanya tembang yang dialihbahasakan ke 13 bahasa asing (Inggris, Jepang, Mandarin dan lainnya) itu, tapi kenangan dua motor lawas miliknya.

Semasa hidupnya kedua motor itulah yang menemaninya beraktifitas. “Beliau pakai sekadar jalan-jalan termasuk ke pasar beli kroto, pakan burung peliharaannya,” bilang Muklas Sutrisno, keponakan Gesang saat dijumpai OTOMOTIF di rumah Gesang di Jl. Bedoyo No. 5, Kemlayan, Serengan, Solo (22/5).

CAT ULANG

Kedua motor peninggalan Gesang itu adalah Honda C70 lansiran 1971 (Nopol: AD 5359 A) dan 1973 (AD 3282 A) berwarna merah. Warna tersebut adalah warna favoritnya karena rasa nasionalisme tinggi. Sepintas kedua motornya tampak sama, tapi ada perbedaan signivikan yakni bentuk tangki bensin.

Tangki C70 ‘71 modelnya terpisah atau kondang disebut Honda Pispot. Kondisi kedua motor itu tampak terawat dan masih jalan. Semua panel berfungsi bahkan catnya terlihat mulus.

Menurut Yani Efendy, keponakan Gesang yang merawat motor itu, sekitar medio 2007 dicat ulang. Sayangnya beberapa bagian terlihat sudah gak orisinal lagi. Misal filter karburator sudah tak ada, tutup rantai dilepas serta beberapa part seperti sokbreker belakang dan knalpot. “Gantinya memang tak sesuai punya Astrea Star. Kalau yang 73 pakai knalpot Honda Win dan pengapian diganti CDI,” ujar pria yang pernah tergabung dalam sebuah klub motor ini.

 


Thoyib. C70 73 dibeli seharga Rp 225 ribu

Seorang adik Gesang, Thoyib bilang kalau motor itu dibeli dari dealer yang letaknya di sebelah rumah Gesang. “Belinya sekitar tahun 71 seharga Rp 165 ribu, dibantu Ali Sadikin (Gubernur DKI saat itu, red). Sebelumnya punya Lambretino (motor Italia) tapi akhirnya dijual. Yang 73 dibeli tahun 73. Harganya Rp 225 ribu, dananya dari Jepang,” kenang adik gesang yang berusia 75 tahun.

Menurutnya, banyak kenangan dirinya dengan Gesang ketika mengendarai motor itu. Termasuk kenangan jatuh berdua dengan sang kakak. “Saat itu pakai Honda 71-nya. Seingat saya jatuh di daerah Tipes. Jadi saya mbonceng dan Mas saya yang bawa. Ya kurang hati-hati saja jalannya,” lanjut pria sepuh ini.

Menurut mereka lagi, terakhir Gesang masih sanggup riding dengan motornya sekitar tahun 90-an (saat itu usianya 70 tahunan). Paling jauh hanya dari Palur ke Kemlayan, tempat tinggalnya dulu dan sekarang (jaraknya ± 6 km). Setelah itu paling hanya dibonceng keponakannya.

Konon, penggemar tempe bacem itu tak suka perilaku ugal-ugalan pengguna motor, atau tak suka ngebut dan lebih percaya dengan rem belakang. Maklum, rem depan suka mengagetkannya. Tak hanya sanggup riding, pehobi olahraga bulutangkis itu juga bisa buka busi motornya sendiri bila diperlukan ketika masa muda.

Sayangnya memang tak ada kenangan sebuah lagu yang diciptakan ketika sang Maestro sedang nyemplak di atas motornya. “Setahu saya enggak ada. Yang pasti kedua motor ini akan ikut dimuseumkan, tentunya bila museum untuk beliau itu nanti diwujudkan,” tutup mereka kompak.

Selamat jalan Mbah.

Penulis/Foto: Gombak / Gombak