Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental Sejak 1991

Otomotifnet - Selasa, 21 April 2015 | 19:04 WIB

(Otomotifnet - )

eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental
 
Jakarta - Bicara MPV, harus bicara juga soal Isuzu Panther. Karena Panther adalah ‘saksi hidup’ yang masih eksis dalam sejarah MPV di Tanah Air.
 
Muncul perdana tahun 1991 di mana rekan ‘seangkatannya, Mitsubishi Kuda dan Toyota Kijang, sudah discontinued maupun berganti identitas.

eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental


Mesin Panther memang 'lawas', tapi soal endurance masih mumpuni 

Kehadirannya selama 24 tahun memang spesial dibuat untuk pasar Indonesia. Tak heran kalau popularitasnya terbilang legendaris.
 
Meskipun sudah memasuki generasi kedua dengan versi facelift, modelnya masih terlihat boxy.

eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental


Head unit multimedia Kenwood, bikin kabin lebih segar dan membuat Panther jadi 'bertambah' fitur

Berdasarkan data Gaikindo 2014, penjualan Isuzu Panther tercatat sebanyak 3.948 unit. Memang angka itu turun dari tahun 2013 yang sebanyak 4.990 unit.
 
Namun kalau melihat keberadaannya yang satu segmen dengan Nissan Grand Livina, Honda Freed, dan Toyota Kijang Innova, jelas Isuzu Panther merupakan model yang sulit diabaikan.
eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental


MOBIL PENJELAJAH


Kalau di awal dekade ’90-an ada ‘tagline’ Isuzu Panther cuma butuh Rp 44 ribu untuk bahan bakar dari Jakarta menuju pulau Bali maka identitas itulah yang masih tertanam di benak peminat loyalnya.
 
Dan itu belum berubah bagi Panther sebagai mobil dengan mesin yang hemat bahan bakar serta biaya perawatannya relatif murah, sekaligus multifungsi.

Mesin terakhir yang disematkan di Isuzu Panther Grand Touring ini kodenya 4JA1L berspek Diesel Direct Injection 2.500 cc dan sudah dilengkapi turbocharger.
 
Spek ini membuat performa mesin sedikit banyak terbantu saat berakselerasi dimana fungsi turbocharger mulai aktif di putaran 2.000-3.000 rpm.

Dibekali tenaga 80 dk (3.500 rpm) dengan torsi puncak 19.5 (1.800 rpm) menjadikan Isuzu Panther belum kehilangan identitasnya sebagai kendaraan penjelajah.
 
Menjelajahi jalur perkotaan pun tidak perlu khawatir dengan mesin dieselnya yang bandel dan ekonomis.

Saat mencoba konsumsi solar, dengan melaju konstan 60 km/jam didapati angka konsumsi 17,22 liter untuk setiap kilometernya.
 
Sementara itu, saat mengajak Panther untuk melaju lebih cepat (100 km/jam) didapat rasio konsumsi solar diangka 16,65 liter untuk setiap 1 kilometer.

Memang dengan posisi mobil yang tinggi, karakter suspensi yang terbilang empuk, dan bobot 2.170 kilogram membuat manuver tajam dengan Panther harus dilakukan secara berhati-hati. Munculnya gejala limbung membutuhkan kesigapan khusus atas kontrol setir.

Itu kalau memang dibutuhkan untuk bermanuver tajam. Nah, kalau memang dipakainya melaju normal, jujur saja, suspensinya yang ‘empuk’ itu banyak membantu menjaga kenyamanan.
 
Lebarnya kaca depan serta jarak pilar A dan B yang juga relatif lebar membuat visibiltas mengemudi menjadi lega.

Oya, satu lagi, melintasi genangan air setinggi 30 cm yang sempat muncul di beberapa titik di Jakarta juga tidak mengundang keraguan.
 
Dan ketika ada lubang yang cukup besar karena tertutup genangan air bodi Panther tidak perlu terguncang keras.

Bantingannya membuat bodi mobil yang di Phillipina bernama Isuzu Croswind ini bergoyang seperlunya saja saat melintasi permukaan jalan yang berlubang ataupun tidak rata.
(otomotifnet.com)

eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental


eRIE
Isuzu Panther Grand Touring 2.5 Turbo, MPV Monumental