Selama Mudik, Kenali Gaya Pengendara Setempat!

billy - Kamis, 25 Agustus 2011 | 07:27 WIB

(billy - )


Waspada kejadian seperti ini
Sejatinya aturan lalu lintas itu berlaku sama di mana saja. Baik itu pengertian safety riding  sampai kepatuhan terhadap aturan lalu lintas dan rambu yang berlaku. Tapi fakta di lapangan sungguh berbeda. Ada hal yang tidak berlaku sama di setiap daerah dan itu bisa disebut kebiasaan setempat dalam berkendara.   

Hal itu diakui sendiri oleh Kapolres Indramayu, AKBP Rudi Setiawan. "Khusus untuk para pemudik, kita himbau untuk berhati-hati di daerah yang baru mereka lintasi. Atau jalur yang akan dilewati, sebab banyak perilaku berkendara setempat yang mungkin berbeda dengan kebiasaan di kota tempat tinggalnya," pesan Rudi Setiawan mengingatkan.

Tentu saja ucapan pak Kapolres bukan tanpa dasar atau tidak didukung data yang komplet. Menurut Rudi, dia berani berkesimpulan seperti itu berdasarkan data kecelakaan mudik tahun lalu, khususnya di wilayah Indramayu.

Dari data yang dipegangnya, maka kecelakaan melibatkan roda dua pada arus mudik dan balik tahun lalu lebih banyak terjadi antar pemudik dengan warga setempat. Bukan antar sesama pemudik. lho! Detailnya, sekitar 70% dari 15 kejadian selama mudik.

"Sebab banyak cara atau kelakuan warga setempat yang memang tidak memperhatikan kaidah safety riding. Jadi meski pemudik sudah berusaha tertib dan taat sesuai aturan, karena bertemu warga yang seperti itu maka tetap terjadi kecelakaan," tegas pria ramah ini.

Rudi memberikan beberapa contoh. Misalnya saja di jalan yang ada U turn atau putar baliknya. "Jika di Jakarta mungkin sudah biasa mau putar balik lihat dulu kanan, kiri, depan dan belakang. Nah di wilayah saya beda. Biasanya warga seenaknya putar balik tanpa memperhatikan dari arah lainnya," heran Rudi.

Karena itu bagi para pemudik, hati-hati jika berkendara di jalur yang banyak jalan putar balik atau U turn tadi. Sebab bisa saja tiba-tiba ada motor yang memotong jalur sehingga tabrakan jadi tidak terhindarkan. Solusinya tetap di jalur kiri atau kurangi kecepatan.

Selain itu ada lagi kebiasaan warga setempat yang berbahaya. "Biasanya penduduk sepanjang Pantura ini paling males menyalakan lampu di malam hari, sehingga sering juga terjadi kecelakaan akibat kelakukan seperti itu," beber Rudi panjang lebar.

Kelakuan seperti ini sudah pasti sangat berbahaya. Ini sudah kebiasaan sehari-hari sehingga warga memang susah untuk ditertibkan. "Padahal kita selalu mengimbau dan memberikan pengarah tentang bahaya di jalan raya, tapi memang seperti itu tabiat mereka di sini," ungkap Rudi lagi.

Selain itu, warga seputaran Pantura biasanya juga suka nongkrong di pinggir jalan sambil menunggu waktu berbuka tiba alias ngabuburit. Mereka yang mayoritas anak muda ini kadang parkir motor sampai ke bibir jalan. Tidak hanya bikin macet, kegiatan ini juga berbahaya bagi para pemudik.

"Jika kurang hati-hati, bisa saja motor pemudik senggolan dengan mereka yang tengah ngabuburit tadi," cerita Rudi langsung dari ruang kerjanya yang nyaman.

Karena itulah makanya Rudi memberikan tips bagi para pemudik untuk tidak terlalu bernafsu ngegas motornya di daerah baru atau di tempat yang belum dikenal. Sebab banyak sekali kelakuan yang mungkin unik yang tidak ditemui sebelumnya di tempat asal.

"Jadi persiapan mudik aman itu tidak hanya memeriksa kesiapan motor dan diri sendiri, tapi juga akan lebih lengkap jika sudah punya data atau pengetahuan tentang kebiasan dan perilaku berkendara di daerah yang akan dilalui," pesannya lagi.

So buat yang mau mudik diharapkan untuk tetap hati-hati. Meski kita sudah tertib tapi kecelakaan bisa juga diakibatkan kelalaian orang lain. Waspadalah!    (motorplus-online.com)