Masih Banyak Celah Menyiasati Regulasi Balap Skutik 2010

Editor - Sabtu, 14 Desember 1901 | 03:53 WIB

(Editor - )

OTOMOTIFNET - Seri balap Motoprix 2010, tiap serinya dipastikan ada supporting race. Ada 2 kelas yang dibuka, skutik 130 cc standard dan tune-up. "Tahun ini buat sosialisasi dan baru nextnya dijadikan kejurnas," kata Eko Ryanto, sekretaris bidang olahraga PP IMI.

Masih bersifat sosialisasi, artinya dalam rangka mencari format regulasi terbaik. Makanya tak bisa dihindari adanya perdebatan soal penafsiran regulasi yang ada di buku kuning. Banyaknya pasal yang bisa dibilang masih mengambang, membuat terbukanya peluang untuk mencuri-curi regulasi.

Contoh paling jelas saat kejurnas Motoprix seri pertama di Kemayoran, Jakpus. Dalam buku kuning kelas 130 cc, tertulis "Knalpot standar bentuk luarnya akan tetapi bagian dalamnya boleh dimodifikasi dan posisi knalpot boleh diubah atau dimodifikasi dari segi safety". Sekilas memang cukup jelas, tampang luarnya harus standar.

Namun ada tim yang mengartikan lubang knalpot/end muffler itu bukan bagian luar. Melainkan satu kesatuan dengan saluran dari dalam, maka mereka ubah jadi besar. Ketika dinyatakan didiskualifikasi mereka protes, namun akhirnya menang. "Sifat aturannya masih tahap sosialisasi, maka kita berikan kelonggaran," ujar Eko Ryanto.


Piston, persepsi racing mesti dijelaskan secara detail

Knalpot, kelas standar tampang luar mesti standar, apa cover plastiknya juga mesti terpasang?

Belum lagi jika ada yang menggunakan knalpot buatan, namun tampang luarnya sama dengan asli bawaan motor. "Ini juga tidak boleh, harus pakai bawaan motor," ujar Dyan Dilato, biro olahraga roda 2 (on track) PP IMI ketika dihubungi lewat surat elektronik.

Pasal lain yang masih terlihat mengambang dan bisa diakali, mengenai piston. Disebutkan seher boleh diganti bebas dengan ketentuan bukan piston racing, alur ring 3 buah, 2 ring kompresi dan satu ring oli. Piston juga boleh di-coating.


Biar enggak banya protes, regulasinya mesti cepat dekat dekat dihati

Namun rancunya, batasan piston racing tak dijelaskan. Baik dari bahan, cara pembuatan, bentuk atau bobotnya. "Saat ini yang tidak boleh adalah menggunakan piston yang alur ringnya hanya 2 buah," lanjut Eko Ryanto.

Itu saja aturannya Bos? Berarti piston yang terbuat dari bahan eksotis (contoh magnesium atau duralium) dan yang dibuat dengan cara tempa, bisa dipakai ya.

Dengan pemakaian piston-piston tersebut, kompresi tentu bisa diatur setinggi mungkin, sehingga tenaga yang bisa dikail lebih tinggi. Apalagi rasio kompresi maupun bahan bakar juga tak diatur, makin mendukung penggunaan piston racing.

Satu lagi yang terlihat ringan namun membingungkan adalah "Ukuran disk brake 280mm", tak jelas ini minimal atau maksimal. Karena di lapangan kebanyakan masih pakai standar bawaan motor yang ukurannya di bawah angka tersebut.

Meski 2011 masih jauh di mata, namun demi perkembangan dunia balap skutik nasional, regulasi 2010 harus cepat dekat di hati. 

Penulis/Foto: Aant / Aant, Aant