Test Ride Ducati Scrambler Sixty2, Enjoy Buat Harian

Minggu, 23 Oktober 2016 | 21:52 WIB

Test Ride Ducati Scrambler Sixty2

Jakarta - Ducati sangat beruntung melahirkan kembali Scrambler di era modern, setelah sukses di tahun 60 sampai 70-an, motor bergenre retro modern ini ternyata booming lagi. Penjualan pabrikan asal Borgo Panigalle, Italia ini pun melonjak tajam.

Agar makin banyak yang bisa merasakan kenikmatan sang Scrambler, Ducati merilis varian bermesin paling kecil, Sixty2 yang cuma 400 cc, setelah sebelumnya ada varian 800 cc. Penasaran dong dengan impresi dan performanya kala dipakai harian?

Langsung saja simak ulasan motor yang dibanderol Rp 241 juta off the road oleh PT Garansindo Euro Sports. Yuk! • (Tim otomotifnet.com)

Salim/otomotifnet
Test Ride Ducati Scrambler Sixty2
 

Desain
Tampilan motor ini sudah scrambler banget seperti namanya, siap diajak ‘nakal’. Scrambler yang baru ini masih menyisakan sedikit memori kejayaan lamanya. Contohnya area tangki yang bentuknya masih mirip-mirip.

Karakter scrambler makin dikuatkan dengan setang tinggi dan lebar, juga penggunaan ban dual purpose. Sepatbor depan yang kecil memang bikin keren karena berkesan simpel, namun kotoran jadi mudah terlempar bebas ketika melewati jalanan off road.

Fitur & Teknologi
Dengan harga Rp 200 jutaan, fiturnya tidak ada yang terlalu istimewa, semua dibuat sesuai kebutuhan, sederhana saja. Mulai dari depan lampu utamanya yang membulat dikelilingi LED untuk mempermanis tampilannya.

Lihat sedikit ke belakang, suspensi depan teleskopik biasa berdiameter as 41 mm, sedang versi 800 cc-nya pakai upside down. Lihat ke bawah, ada pelek berdiameter 18 inci di depan dan 17 inci untuk bagian belakang.

Lengan ayunnya bergaya ala banana berbahan baja dengan suspensi belakang tepat berada di sisi kiri. Sedang dari sisi pengereman, yang depan cakram berdiameter 320 mm dengan kaliper Brembo 2 piston, belakang 245 mm dijepit kaliper Brembo 1 piston. Untuk safety dibekali ABS (Antilock Brake System), menariknya fitur ini bisa dimatikan melalui menu yang ada di spidometer.

Salim/otomotifnet
Test Ride Ducati Scrambler Sixty2
 

Spidometernya full digital punya tampilan yang sederhana namun mudah dipantau, karena angka dan hurufnya punya ukuran besar. Isinya informasi kecepatan, odometer, trip A & B, suhu udara, side stand status, jam, rpm, voltase aki, dan jadwal servis. Kecerahan cahaya bisa diatur dalam 3 pilihan yaitu high, medium, dan low. Ada juga shift light yang akan berkedip di 12.000 rpm.

Uniknya tombol untuk menyalakan hazard menjadi satu dengan sein, cara menghidupkannya dengan cara menahan sein ke arah kiri selama 3 detik, untuk mematikan cukup seperti mematikan sein. Awalnya sempat bingung nih, ada logo hazard tapi enggak ada tombolnya hehe..

Bagian bawah jok terdapat sedikit tempat untuk membawa barang bawaan dalam bentuk kecil, misal lap camois atau sarung tangan. Tool kit yang diberikan lengkap, dengan kunci L dan penyetel suspensi belakang selain obeng.

Salim/otomotifnet
Test Ride Ducati Scrambler Sixty2
 

Riding Position & Handling
Rider berpostur 168 cm merasa sangat bersahabat dengan motor ini. Yap karena tinggi joknya hanya 790 mm, namun sayang busa jok terasa keras sehingga membuat bokong cepat panas, sedang untuk pembonceng lebih tebal.

Saat berhenti, kaki masih menekuk ketika menyentuh aspal, sehingga memberikan rasa pede ketika mengendarainya. Selain itu footstep juga berada di depan, sehingga posisi berkendara santai.

Salim/otomotifnet
Test Ride Ducati Scrambler Sixty2
 

Apalagi setangnya tinggi dan lebar, efeknya pundak juga lengan enggak cepat pegal. Diajak berkendara di padatnya Ibu Kota Jakarta, ternyata Sixty2 punya handling lincah. Dengan bobot bersih hanya 165 kg, layaknya mengendarai motor 250 cc. Melewati kemacetan juga masih enjoy. Hanya harus berhati–hati karena stangnya cukup lebar.

Suspensinya nyaman baik dikendarai sendiri maupun berboncengan. Meski nyaman tapi tetap stabil karena punya karakter rebound lambat. Untuk menyesuaikan karakter serta bobot rider, suspensi belakang dibekali dengan 5 setelan spring adjuster, rider berbobot 57 kg cukup pada step 3 saja

Performa
Dibekali mesin L-twin cylinder dengan bore 72 mm dan stroke 49 mm, Desmodromic 2 klep di tiap silindernya. Karakter respon mesinnya smooth sehingga cocok untuk bikers yang baru naik kelas atau untuk riding dalam kota.

Raungan mesin kasar khas Ducati tetap terdengar jelas, meskipun knalpotnya senyap. Dan ada sedikit getaran yang terasa di area kaki sampai mesin berkitir di angka 6.000 rpm. Tapi saat menyentuh 8.000 rpm, entakan mesin langsung terasa menarik badan sampai limiter di 12.000 rpm.

Wajar saja karena motor ini punya setumpuk tenaga puncak pada rpm tersebut, klaim power maksimum 41 dk dan torsinya 34,6 Nm. Diukur menggunakan Racelogic, untuk menempuh 0–100 km/j hanya membutuhkan waktu 6,9 detik saja, sedangkan untuk melibas 0-402 meter mencatatkan waktu 15,5 detik dengan kecepatan 139 km/j. Data lengkap lihat di tabel yah!

Karakter perpindahan giginya terasa halus dan rapat, makanya rpm dropnya sedikit. Koplingnya empuk semakin menambah kenikmatan berkendara. Namun sayang gas terasa berat, mungkin karena hanya mengandalkan 1 kabel saja.

Satu lagi yang harus diingat adalah, hawa panas menyelimuti pergelangan kaki kiri karena sejajar dengan mesin, tapi kalau sudah ngegas lagi, panasnya hilang kok!

Salim/otomotifnet
Test Ride Ducati Scrambler Sixty2
 

Konsumsi BBM
Coba tebak seberapa haus motor 399 cc ini? Diajak menyusuri perjalanan sehari–hari dengan melewati berbagai kondisi jalan dan kemacetan, motor ini mencatatkan 18,2 kilometer untuk satu liter bensin RON 95. Lumayan lahhhh…

Data Spesifikasi:
Type: L-Twin cylinder, Desmodromic distribution, 2 valves per cylinder, air-cooled
Displacement: 399 cc
Bore x stroke: 72 mm x 49 mm
Compression ratio: 10,7:1
Power: 41 hp @ 8.750 rpm
Torque: 34,6 Nm @ 8.000 rpm
Fuel injection: Electronic fuel injection, throttle body diameter 50 mm
Exhaust: Exhaust system with single stainless steel muffler, aluminium tail pipe cover; catalytic converter and 2 lambda probes
Emissions: Euro 4
Clutch: Wet multiplate clutch with mechanical control
Frame: Tubular steel Trellis frame
Front suspension: Traditional Showa 41 mm fork
Front wheel: Lightweight alloy, 10-spoke, 3.00 x 18
Front tyre: Pirelli MT 60 RS 110/80-R18
Rear suspension: Kayaba rear shock with fully adjustable preload
Rear wheel: Lightweight alloy, 10-spoke, 4.50 x 17
Rear tyre: Pirelli MT 60 RS 160/60-R17
Front brake: 320 mm disc, 2-piston floating caliper with ABS as standard
Rear brake: 245 mm disc, 1-piston floating caliper with ABS as standard
Wheelbase: 1.460 mm
Fuel tank capacity: 14 liter
Dry weight: 167 kg
Wet weight: 183 kg
Seat height: 790 mm-770 mm low seat available as an accessory
Max height: 1.165 mm (brake oil tank)
Max width: 860 mm (mirrors)
Max length: 2.150 mm

Data Tes:
0–60 km/j: 3,1 detik
0–80 km/j: 4,6 detik
0–100 km/j: 6,9 detik
0–100 m: 6,4 detik (@96,5 km/j)
0–201 m: 9,9 detik (@119 km/j)
0–402 m: 15,5 detik (@139 km/j)
Konsumsi bensin: 18,2 km/lt