Beredar, Kisah Masa Depan AIS, Anak Kecil Selamat Dari Bom Saat Dibonceng Naik Motor

Joni Lono Mulia - Kamis, 17 Mei 2018 | 03:00 WIB

Bocah mencoba bangun setelah bom meledak di Mapolresta Surabaya (Joni Lono Mulia - )

Otomotifnet.com - Aksi heroik penyelamatan AKBP Roni Faisal Saiful Faton mengevakuasi anak perempuan di gerbang Mapolrestabes Surabaya, (14/5/2018), banyak mendapat pujian.

Namun juga tersimpan harapan bila korban memiliki masa depan yang lebih baik.

Beredar cuplikan kisah kejadian pengeboman di gerbang Polrestabes Surabaya via pesan Whatsapp.

Menceritakan kronologi peristiwa yang berlangsung usai meledaknya bom di gerbang Mapolrestabes Surabaya dan kisah anak perempuan itu di masa mendatang.

(BACA JUGA: Mewah... Kemenhub Sediakan Bus Double Decker Buat Mudik Gratis)

Menariknya selain cuplikan kisah anak kecil yang selamat saat dibonceng motor saat pengeboman Mapolrestabes Surabaya ini menggambarkan harapan masa depan anak perempuan bernama AIS. 

Juga polisi yang menyelamatkannya dengan membopong dari lokasi kejadian kelak di masa depan ketika ia telah pensiun.

Tak diketahui sumbernya, namun tulisan menyentuh ini menyebar lewat jejaring sosial.

Berikut tulisannya:

Bocah perempuan berkaos kuning berkerudung putih lusuh diselamatkan Tuhan.

Dia diapit ibu bapaknya mengendarai motor menuju Polres Surabaya.

Beriringan dua abangnya naik motor bersiap menuju ke surga khayalan mereka.

Sampai di gerbang Polres, ayah, ibu dan dua abangnya meledakkan diri.

Harusnya tubuhnya hancur. Tapi Allah SWT punya kuasa. Dia turunkan mukjizat.

Bocah perempuan itu selamat karena terhimpit badan dua orang tuanya.

Mungkin dia terpental oleh daya dorong bom yang saling berlawanan. Atau sang ibu secara refleks karena naluri keibuan mendorongnya menjauh dari ledakan.

Dia terjatuh dan tersangkut di jasad ibunya. Sekujur tubuhnya berlumuran darah.

"Bangun Nak!," Teriak AKBP Rony Faisal yang berlari ke arah bocah yang mencoba bangkit merangkak sambil menangis dalam kondisi setengah pingsan.

Detektif itu bergegas mendekati sang bocah, mengesampingkan parameter yang wajib dilakukan polisi seusai ledakan bom bunuh diri.

Dalam SOP, polisi tidak boleh mendekati lokasi bom bunuh diri karena ada kemungkinan sisa bom yang akan meledak setelah tertimpa bangkai teroris yang mati seketika.

Bahkan polisi dilarang mendekati orang yang hidup di lokasi kejadian karena mungkin saja ada bom ditubuh mereka.

Termasuk ditubuh mungil yang kemudian dibopong oleh AKBP Rony Faisal menjauhi lokasi dengan berlari.