Bahas Pelek Motor Aja Segini Panjang, Material, Model, Ukuran Sampai Kelebihan Dan Kekurangan

Parwata - Minggu, 1 Juli 2018 | 18:00 WIB

Ilustrasi Ragam Pelek Aftermarket (Parwata - )

“Umumnya, tekanan ban ideal untuk ban depan adalah 28 psi sedangkan 32 psi untuk belakang, bisa juga dlihat pada tabel rekomendasi yang ada di motor,” tambah Fauzy.

Ketiga, periksa kondisi kekencangan jari-jari. Seiring penggunaan, kondisi jari-jari akan berkurang kekencangannya akibat benturan dengan jalan.

Umumnya, pengecekan jari-jari ini masuk dalam prosedur pengecekan berkala di bengkel resmi atau dijasa setel pelek.

“Kalau untuk jari-jari, biasanya 6 bulan sekali dilakukan setel jari-jari untuk mengecek kekencangannya."

"Dalam kondisi dipakai atau tidak, 6 bulan itu sebenarnya dianjurkan untuk memeriksa kondisi pelek jari-jari,” kata Lerry Rahmat Rizky dari Caos Custom.

Sementara perawatan pelek racing/casting rwlatif lebih mudah. Pertama soal catnya, yang bisa kusam apabila sering dibiarkan kotor setelah kehujanan.

Jadi sebaiknya segera dibersihkan jika kotor.

(BACA JUGA: Betah Liatnya, Kawasaki Ninja 150RR Pakai Detail Mewah, Enggak Perlu Rombak Total)

Perawatan sekaligus perbaikan pelek racing ketika pelek terkena benturan, butuh penanganan khusus.

Oleh karena itu, penting sekali untuk melakukan perawatan pelek racing supaya tetap dalam keadaan baik.

Selain disetel, pelek juga perlu yang namanya balancing yang berarti menyeimbangkan, fungsinya tentu saja untuk menyeimbangkan putaran kedua roda motor. Seberapa penting sih?

“Balancing penting banget terutama untuk motor sport 150 cc ke atas, pengaruhnya sangat terasa ketika motor melaju di atas 80 km/jam biasanya akan terasa getaran pada bodi dan setang. Keuntungan lainnya jika balancing ban akan habis secara rata karena beratnya seimbang,” buka Ario Dharma Setiawan owner Rumah Ban Motor.

Kalau sudah melakukan balancing tidak boleh ditambah aksesori karena akan mengubah beban pada roda sehingga harus kembali melakukan balancing.

“Ganti cakram atau ganti pentil saja itu pasti ada perubahan bobot di roda, jadi harus kembali lakukan balancing."

"Bahkan sehabis menambal ban juga harus balancing karena ada penambahan bobot,” sahut Adiyan yudhistira salah satu mekanik di Rumah Ban Motor 2 di bilangan Pondok Kelapa, Jaktim.

(BACA JUGA: Kayak Naik Moge, Yamaha R25 Pakai Sokbreker Depan Ohlins Tabung Kecil, Pelek Honda CB1300SF)

Jari-jari VS Casting

Kedua jenis pelek ini punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kelebihan pelek jari-jari memiliki daya tahan yang lumayan cukup kuat untuk menerjang jalan yang tidak rata atau jalan yang banyak lubang.

Makanya banyak dipakai di off-road dan motocross.

“Untuk motor adventure memang dominan menggunakan pelek jari-jari, karena memang medan yang dilalui kebanyakan yaitu lumpur, bebatuan dan sebagainya, sehingga dibutuhkan pelek yang kokoh dan kuat,” ujar Lerry Rahmat Rizki dari Caos Custom.

Selain kuat, pelek jenis jari-jari juga cenderung memiliki bobot yang lebih ringan dari pelek racing. Kecuali pelek racing aftermarket berbahan eksotik.

(BACA JUGA: Edan! Kirain Monumen Kawasaki Ninja, Ternyata Ulah Anak Muda, CBR250R Juga Kena)

Di balik kelebihan, ada kekurangan pelek jari-jari. Salah satunya dalam perawatan, pembersihannya lebih rumit.

Dan jika terlambat dibersihkan, akan mudah berkarat.

Sementara pelek casting punya kelebihan tampilan yang cukup keren dan sporti, juga lebih mudah dalam perawatannya misalnya dalam mencuci peleknya.

“Juga punya kestabilan yang lebih baik karena lebih rigid sehingga pelek jenis ini banyak digunakan untuk ajang balap road race,” beber Teddy dari Jiester Motomodification.

Kekurangan pelek casting biasanya harga lebih mahal dari yang jari-jari.

Selain itu juga pelek casting juga cenderung memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan pelek jari-jari.

(BACA JUGA: Ngaku Sederhana, Taunya Honda CBR250RR Hedon, Detailnya Bikin Merinding)

Rangga/Otomotif
Ilustrasi Jari-jari VS Casting