Ketemu Pengendara Arogan, Jangan Emosi! Lakukan Hal Ini Agar Aman

F Yosi - Rabu, 21 Agustus 2024 | 16:40 WIB

Ilustrasi berkendara di kemacetan (F Yosi - )

Otomotifnet.com - PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) beberapa waktu yang lalu mengadakan sharing coaching clinic bersama pembalap nasional Rifat Sungkar.

Rifat yang merupakan brand ambassador Mitsubishi, juga menjabat sebagai duta Safety Driving Indonesia.

Saat sesi tanya jawab ada pertanyaan menarik dari peserta yaitu mengenai pengendara agresif atau arogan dijalan raya.

Seperti kita ketahui tahu jalan raya tak ubahnya seperti rimba belantara. Semua model kendaraan dan pengguna jalan tumpa ruah, lengkap dengan perilakunya masing-masing. Mulai yang tertib hingga arogan layaknya penguasa jalanan. 

Belakangan ini, begitu banyak pengendara bertindak arogan terhadap sesama pengguna lalu lintas.

Melakukan perusakkan kendaraan, menunjukkan senjata tajam atau senjata api, menutup atau menghalangi jalur ambulans dan lainnya.  

Baca Juga: Menarik! Guru di Medan Edukasi Keselamatan Bermotor dengan Cara Ini

Kalau sudah begini, kerap kali menyulut emosi kita sendiri atau pengguna jalan lainnya.

Yang mudah emosi juga, biasanya akan berakhir dengan bentrokkan. Lantas, apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan pengendara arogan di jalan raya?

“Yang perlu kita catat tingkat kecelakaan lalu-lintas paling tinggi itu di usia produktif bukan diusia tua. Karena pada usia produktif tersebut biasanya tinggkat adrenalin ingin tahu batas limitednya seperti apa,” buka Rifat.

Wartakotalive.com/Henry Lopulalan
Kemacetan lalu lintas di Jl Sudirman, Setiabudi, Jakarta Selatan

Rifat melanjutkan, “Kalau bertemu dengan pengendara agresif atau arogan, dalam pikiran kita yang utama yaitu untuk menyelamatkan orang lain kita harus menyelamatkan diri sendiri.”

Artinya, lanjut Rifat, kita tidak terlibat kontak dengan berlalu-lintas yang agresif, dan cerminan berkendara yang baik, bahwa kita siap menghadapi pressure atau tekanan.

"Sedangkan orang-orang yang terpancing sama pressure adalah belum mempunyai jiwa yang besar. Untuk mendapatkan jiwa yang besar ini, hanya bisa kita latih kalau kita mau,” tambahnya.

Nah, biasanya pengemudi yang agresif atau arogan dijalan raya punya alasan. Mulai dari buru-buru, merasa hebat, bahkan punya rasa aman karena memiliki skill.

“Hal yang harus dilakukan adalah mengalah dan segera menghindar. Sebab kalau diladeni, nanti bukannya menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Oleh sebab itu pastikan kita juga tidak berbuat hal yang sama dan kita bisa menjadi contoh bagi pengendara yang lain,” wanti Rifat.

Dan yang perlu diingat, lanjutny, menilai pengguna jalan lain benar atau salah bukan tugas pengemudi.

"Urusan penindakan serahkan kepada instansi yang bertanggangung jawab atas hal tersebut. Yang penting kita selamat dahulu baru membantu orang,” pungkasnya.