Otomotifnet.com - Menjaga visibilitas berkendara sering kali terhambat oleh masalah klasik, yaitu kotoran membandel dan jamur kaca.
Meski cairan pembersih jamur menjadi solusi instan yang populer, kamu perlu ekstra waspada.
Penggunaan yang sembarangan justru berisiko merusak struktur kaca secara permanen.
Ini 3 Akibat dari Salah Pilih Pembersih Jamur untuk Kaca Mobil
Setidaknya, ada tiga akibat di mana penggunaan cairan pembersih jamur sangat dilarang:
1. Kaca Mobil Eropa dan Jepang Kelas Premium
Mobil-mobil mewah asal Eropa maupun Jepang umumnya menggunakan kaca dengan teknologi laminasi (laminated glass) khusus.
Lapisan ini sangat sensitif terhadap zat kimia keras yang terkandung dalam obat jamur.
Jika dipaksakan, reaksi kimia tersebut akan menimbulkan bercak putih (flek) yang tidak bisa hilang, sehingga merusak estetika dan kejernihan kaca.
2. Kaca yang Memiliki Baret Halus (Swirl Marks)
Banyak pemilik mobil ingin menghilangkan jamur sekaligus menyamarkan baret akibat sapuan wiper yang sudah mengeras (getas).
Namun, cairan pembersih jamur justru bekerja sebaliknya.
Zat kimianya akan masuk ke dalam celah baret dan mempertegas garis-garis baret tersebut, sehingga permukaan kaca terlihat jauh lebih buruk dan silau saat terkena lampu dari arah depan.
Baca Juga: Cegah Helm Bau dan Berjamur! Tips Praktis Merawat Helm di Musim Hujan
Baca Juga: Ini Bahaya Kaca Mobil Bekas Yang Berjamur di Musim Hujan, Cek Faktanya
Baca Juga: Cara Efektif Menghilangkan Bercak Jamur di Cat Mobil
Baca Juga: Beginilah Cara Menghilangkan Bercak Jamur di Cat Mobil Bekas
3. Kaca yang Pernah Menjalani Proses Poles
Proses poles dilakukan untuk meratakan permukaan kaca dari goresan, namun prosedur ini secara otomatis membuat lapisan kaca menjadi lebih tipis.
Dalam kondisi yang sudah menipis, ketahanan kaca terhadap kimia keras akan menurun drastis.
Jika terkena obat jamur, bagian yang dipoles tersebut berisiko mengalami oksidasi parah hingga berubah warna menjadi putih susu, yang secara permanen akan mengganggu pandangan pengemudi.