Toyota Corona T170 1990, Dragster Warisan Kakek

billy - Kamis, 29 November 2012 | 09:06 WIB
No caption
No credit
No caption

No caption
No credit
No caption

Di tengah maraknya speedgoers yang mengadu nasib dengan besutan Honda dan Mitsubishi di lintasan 402 meter, Vidi Yunesha justru memilih Toyota Corona sebagai andalan di kelas 12 detik.

Sedan dream car back to 90s yang memang dibuat untuk kenyamanan dengan segala kelengkapan luxury di zamannya, justru membuatnya semakin penasaran.

Apalagi mobil ini punya nilai history. Corona yang dibeli dari baru oleh kakeknya, kemudian diwariskan sebagai kenang-kenangan. Sayangnya, mobil premium ini sempat ngendon lama di kebon belakang rumah selama bertahun-tahun.

Daripada enggak dipakai dan menjadi besi tua, Vidi memutuskan untuk menyulapnya menjadi besutan drag race. Tentu saja Vidi tidak sendirian. Sony dari bengkel modifikasi CPNK di bilangan Cipinang diajak urun rembuk.

Bagaimana tidak, dari sisi bobot total kendaraan jelas lebih berat ketimbang varian Corolla. Ditambah lagi dengan komponen racing yang tidak sebanyak merek Honda dan Mistubishi.

Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Sony cs yang menerima tawaran Vidi. Modalnya hanya mesin Toyota 3S-GE berkapasitas 2.000 cc yang dulu memang kerap dipakai balap oleh pabrikan Toyota.

Tetapi Sony tak mau ambil resiko memakai mesin asli pabrik. Sebagai pengganti dicarikan mesin Toyota 3S-GTE di bursa limbah Singapura yang sudah mengusung perangkat turbo.

“Hanya saja cari parts racing tak semudah Honda atau Mistubishi,” jelas Sony di sela-sela ajang drag race Sentul beberapa waktu lalu.

Namun hal itu tak membuat Vidi dan Sony patah arang untuk membangun dragster berbasis Corona yang sempat dijual resmi oleh APM pada era 1988-1990 ini. Khususnya pada bagian mesin.

Sebab turbocharger bawaan pabrik bakal diganti yang lebih besar, memakai tipe Garret GT35. Tak heran bila internal engine parts harus yang tangguh dan tahan banting. Dimulai dari persiapan kepala silinder dan engine block, sepasang camshaft pakai produk Kelford stage 3 yang dibarengi cam gear adjustable HKS.

Merek yang sama dipilih juga untuk klep masuk dan buang dengan diameter yang sudah oversize sebesar 1,5 mm. Paking kepala silinder mencomot versi logam tipis dari HKS.

Turun ke blok mesin, piston memakai forged alloy buatan Wiseco dengan perbandingan kompresi rendah. Dihubungkan oleh setang piston heavy duty, piston menyatu dengan krukas super light weight yang sudah dibalans total.

Maklum saja, Sony membuka boost turbo hingga 1,78 bar agar udara bertekanan tadi bercampur dengan bensin yang disemprot injektor Dynamic berkapasitas 1.000 cc. Bisa dibayangkan beban kerja jeroan mesin saat peak performance 504 WHP (wheel horse power) dicapai.

Tak ayal, perangkat elektronik berkelas ikut mendukung kinerja mesin gahar tadi. Mulai dari ECU stand alone Haltech PS 1000, Apexi Boost Controler hingga electric fuel pump Aeromotive.

Sistem penerus tenaga dan kaki-kaki pun tak luput dari perhatian Sony cs. Namanya mesin sudah lebih dari 500 dk, transmisi dan as roda juga kudu ditengok.

As roda depan versi customized dipadu dengan limited slip differential merek Kaaz model 1,5 way. Sebagai alas kaki, pelek Weld  Racing berdiameter 15 inci dikombinasi dengan ban drag slick tyres buatan M/T.

Voila, elapsed time terbaik di angka 12,2 detik! (mobil.otomotifnet.com) 

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id

Editor : billy

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa