Pamor Avanza Terbayangi Xenia

billy - Senin, 7 Maret 2011 | 07:15 WIB
Pamor Avanza Terbayangi Xenia
Pamor Avanza Terbayangi Xenia

Jakarta - Belum genap diberlakukannya aturan pembatasan BBM bersubsidi, pasar mobil bekas (mobkas) di Jakarta dan sekitarnya sudah mulai resah.

Pedagang mobkas mengaku kalau imbas wacana pemerintah untuk membatasi pemakaian bensin premium, sangat memengaruhi income per bulan mereka.

Setelah survei langsung ke lapangan, ternyata peta perdagangan mobkas di Jakarta dan sekitarnya mulai bergeser dari pakem sebelumnya.

Beberapa varian yang sebelumnya menjadi best seller, pamornya agak menurun seiring rencana pembatasan BBM bersubsidi yang belum ditentukan kapan pastinya oleh pemerintah.

Mobkas penenggak solar yang menjadi 'kuncian' para pedagang mobkas selama ini, sempat turun peminatnya akibat isu yang merebak di kalangan konsumen, bahwa pembatasan BBM bersubsidi juga mencakup solar.

Robert Gozali dari gerai Mustika Jaya Mobil di Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat, menyebutkan bahwa permintaan terhadap varian diesel di showroom-nya mulai menurun sejak November 2010 lalu. Beberapa teman pedagang yang lain juga mengakui kalau wacana pembatasan BBM subsidi, sangat menampar penjualan baik untuk mobil bensin maupun solar," ungkap pria berparas dingin ini.

Robert menyebut harga pasaran mobkas diesel seperti Isuzu Panther kapsul atau Toyota Kijang Innova, tidak mengalami koreksi signifikan.
 
Permasalahannya, lanjut Robert, demand terhadap varian diesel yang tadinya (Januari-Oktober 2010) normal, sejak November 2010 hingga saat ini (Februari 2011) menurun sekitar 30%.

Namun kondisi berbeda mencuat di wilayah Jaksel, yang mengindikasikan kalau varian diesel masih berpotensi buat dijadikan komoditas bisnis jual-beli mobkas.  Salah satunya Iman Sukarta, pedagang rumahan di daerah Cipete, Jaksel, yang masih menyimpan Isuzu Panther LV sebanyak 3 unit.

"Semuanya saya tawarkan dengan harga sesuai pasaran saat ini, dan kemarin sudah terjual 1 unit tipe LV tahun 2002 dengan harga Rp 85 juta," beber Iman.

Sama halnya dengan yang terjadi di daerah Pondok Pinang, Jaksel. Salah satunya seperti Bangun, penggawang Jack Racing Mobilindo, yang berani menawarkan harga pembukaan cukup tinggi. 

"Panther LS tahun 2000, sebelumnya (2010) saya jual Rp 92 juta. Sekarang berani saya tawarkan Rp 110 juta. Konsumen sudah ada yang berani nawar Rp 105 juta," jelas Bangun.

Sementara Kijang Innova diesel maupun Kijang kapsul versi solar, tidak begitu banyak mengalami koreksi harga. "Meskipun begitu, permintaannya tidak mengalami penurunan atau peningkatan," ulas Iman.
Pamor Avanza Terbayangi Xenia
Pamor Avanza Terbayangi Xenia

 Transaksi mulai sepi memasuki awal 2011(kiri). Isuzu Panther masih melenggang aman di pasaran mobkas (kanan).

Pembatasan BBM bersubsidi yang menyasar bensin Premium, ternyata sangat berdampak pada penjualan unit mobkas berbahan bakar bensin. Konkretnya seperti terjadi di wilayah Pondok Kopi dan Kalimalang, Jaktim.

Varian mobkas bensin dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc, paling terpukul atas dampak wacana pembatasan BBM bersubsidi ini. Misal Kijang Innova G 2008 yang sebelumnya bisa ditawarkan sekitar Rp 180 juta, saat ini justru sulit terjual meski harga pembukaannya sudah ditekan sampai Rp 170 juta!

Paling bikin heboh terutama di wilayah selatan Jakarta termasuk Tangerang. Toyota Avanza yang selama ini menjadi komoditas kategori best seller, peminatnya mulai menurun sejak akhir Januari 2011 sampai berita ini diturunkan.

Kondisi ini tercermin dari pengakuan Bangun dan Iman, yang menyebutkan kalau permintaan low MPV lansiran Toyota ini mulai menurun. "Di showroom saya yang tadinya bisa menjual 30 unit Avanza dalam sebulan, memasuki Januari (2011) sampai sekarang hanya bisa terjual 10 unit," keluh Bangun.

Rupanya di kalangan konsumen menengah yang notabene menjadi pangsa pasar terbesar Avanza, mulai beralih ke mobkas berkapasitas lebih mungil. Daihatsu Xenia lah yang digadang-gadang bakal mengangkangi Avanza, menjelang dan setelah pemberlakukan  pembatasan BBM bersubsidi.

Menurut Robert, Iman maupun Bangun, Xenia punya pilihan kapasitas mesin 1.000 cc. Sementara Avanza hanya bermain di level 1.300-1.500 cc. Fakta itulah yang membuat sebagian besar peminat Avanza di level second hand, beralih mencari Xenia 1.000 cc lantaran diyakini konsumsi bensinnya lebih efisien ketimbang mesin 1.300 cc dan 1.500 cc.

 "Gelagat ke depannya, pasaran Avanza bakal terbayangi Xenia 1.000 cc. Apalagi model bodi dan interiornya enggak beda jauh, makanya konsumen enggak takut membeli Xenia," argumen Bangun.

Dibuktikan dari banderol bekas Avanza G 1.3 tahun 2007. Sebelum wacana pembatasan BBM bersubsidi merebak, harga pasarannya bisa tembus Rp 129 juta. Sekarang terdepresiasi menjadi Rp 123-124 juta, yang berarti terjadi penurunan Rp 5-6 juta.

Sebagai patokan depresiasi normal untuk Avanza selama ini, per tahunnya terjadi penurunan harga akibat depresiasi barang sebesar Rp 3 juta. Artinya saat ini, tingkat depresiasi Avanza bertambah Rp 2-3 juta.

Level penurunan harga ini, menurut Santoso dari Serayu Motor di bilangan Rempoa, Jaksel, masih dalam ambang kewajaran. "Kecuali kalau penurunan harga akibat depresiasi per tahun sudah menukik sampai melebihi Rp 10 juta," imbuh pria asal Boyolali, Jateng.

Untuk pembanding rival Avanza, banderol seken Xenia 1.0 Li-Deluxe 2009 yang sebelumnya Rp 97 juta, saat ini pedagang berani menawarkan harga pembukaan hingga mencapai Rp 110 juta.

Sementara Xenia 1.0 Li-Family 2007, sebelumnya hanya ditawarkan sekitar Rp 100 juta, namun sampai berita ini diturunkan ada yang berani melego dengan banderol Rp 109 juta.  Angka yang cukup fantastis dalam bisnis jual-beli mobkas.
Pamor Avanza Terbayangi Xenia
Pamor Avanza Terbayangi Xenia

 Toyota Great Corolla diyakini banyak kalangan bakal naik daun lagi (kiri). Toyota Avanza mengalami fase stagnan (kanan).

Banyak kalangan memprediksi kalau besutan yang sempat berjaya di era '90-an, bakal naik daun menjelang pemberlakuan pembatasan BBM bersubsidi.

Seperti diutarakan Dwinanto, pemilik biro jasa pengurusan STNK kendaraan di daerah Kayu Manis, Jaktim. "Mobil-mobil tahun '90-an kemungkinan besar bakal dilirik kembali oleh para pencintanya. Pemicunya seperti diberlakukannya pajak progresif, ditambah dengan bakal diberlakukannya pembatasan BBM bersubsidi," analisa Dwi.

Senada dengan Dwi, Bangun juga menegaskan kalau varian yang sempat laris di era '90-an, dengan harga pasaran di rentang Rp 70 juta ke bawah, bakal semakin diincar.  Beberapa varian tersebut seperti Honda City 1.300 cc tahun '97, City 1.500 tahun '99, Suzuki Baleno generasi awal, Toyota Great Corolla, Absolute Corona dan Starlet.

Sedangkan di kelas minibus seharga Rp 70 juta ke bawah, varian yang masih berpotensi buat dijadikan komoditas utama seperti Suzuki Carry Futura 1.3 serta Toyota Kijang Grand 1.5.  (mobil.otomotifnet.com)

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id

Editor : billy

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa