Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Mobil Esemka, Jangan cuma jadi Headline Saja!

billy - Jumat, 20 Januari 2012 | 14:04 WIB
No caption
No credit
No caption

No caption
No credit
No caption
 
JAKARTA - Istilah mobil nasional (mobnas) marak jadi bahan pembicaraan seiring dengan gencarnya pemberitaan mobil Esemka. Layakkah mobil Esemka disebut mobnas? Apa kriteria mobnas itu? Apakah kita semua sudah menginginkan akan hadirnya mobil merek nasional? Lantas mau dikemanakan mobil Esemka?

Soebronto Laras, yang pernah membuat Mobil Rakyat (MR)di tahun 1990 angkat bicara. “Saya pribadi sangat menghargai munculnya mobil Esemka itu. Kita patut acungkan jempol. Tapi apakah ini hanya sekadar eforia atau sudah dipikirkan langkah selanjutnya. Ini perlu political will dari pemerintah namun juga tidak mudah sebab sekarang sudah liberalisasi.”

Ia justru mewanti-wanti agar kemunculan Esemka ini tidak kejeblos. Ini ada potensi anak bangsa yang harus ditangkap dengan jelas. “Jangan cuma jadi headline saja,” tandas Soebronto Laras.

Menperin MS Hidayat pun senada, “Mobil Esemka itu seolah memicu momentum kita melahirkan mobil karya anak bangsa. Namun untuk masuk ke dalam skala industri perjalanannnya masih panjang.”

Dibeberkan lebih lanjut oleh pak Bronto, “Kalau mau masuk pasar, ya harus jadi industri. Sementara anak-anak itu kan sekolah. Lalu diajarkan membuat mobil.” Saat ini mobil Esemka tengah menjalani serangkaian ‘ujian’ untuk bisa mendapatkan sertifikasi laik jalan.

Temuan yang didapatkan saat berkunjung langsung ke Solo, bisa menjelaskan secara terang benderang mulai dari nol hingga terbentuknya mobil. Bahwa mereknya sudah lokal, iya. Tapi selebihnya Anda bisa menilai dengan bijaksana.

Model Esemka Rajawali yang jadi mobil dinas Walikota Solo lebih tepat disebut prototype hasil program pembelajaran berbasis industri kreatif para siswa SMKN 2 Solo, jurusan otomotif. Setelah belajar ya itulah hasilnya. Soal kompetensi ini, kami pun angkat topi.

Mungkin opini kami bisa saja salah, namun proyek mobil kreasi teman-teman SMK dimanapun berada tak lebih sebagai hasil prinsip belajar, bukan ditujukan untuk menjadi sebuah industri berskala ekonomi besar.

“Sebab sesudahnya anak-anak Esemka itu nanti dengan keterampilannya akan terserap oleh industri,” sahut Sudirman MR, presdir PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) yang juga ketua umum GAIKINDO. Daihatsu sendiri memiliki sejumlah SMK binaan yang sesudah lulus akan ditampung di pabrik Daihatsu.

Jika ujung-ujungnya akan memasuki skala industri tentu itu pilihan. Namun diingatkan Soebronto, buat sebagian besar konsumen, mobil itu adalah aset mahal. Artinya, jika resale value-nya jeblok tentu konsumen tidak mau beli. Belum lagi soal brand minded. Apakah betul saat sekarang konsumen sudah menginginkan mobil merek lokal?

Bikin Mobnas Itu Tidak Gampang!
Pada 1996 keluar Inpres Nomor 2 yang ditandatangani presiden Soeharto, bertujuan untuk mewujudkan pembangunan industri mobil nasional yang memenuhi unsur-unsur: menggunakan merek yang diciptakan sendiri; diproduksi di dalam negeri; sebanyak mungkin menggunakan komponen buatan dalam negeri dan dapat mengekspor mobil hasil produksinya.

Lahirlah kemudian mobil merek Timor. Dan kita semua tahu jalan ceritanya, mobil Timor gugur di tengah jalan akibat kalah di sidang WTO (World Trade Organisation). Jauh sebelum itu, Soebronto Laras pernah melahirkan hatchback Mobil Rakyat dikenal dengan nama MR90.

“Kita ingin bikin mobil yang memanusiakan manusia.” Ketika itu kendaraan niaga diubah jadi mobil penumpang. Sayang, pemerintah tak menggubris permintaannya agar pajak barang mewahnya di nolkan. Karena basisnya sedan tetap kena pajak 30%. Harga jual MR90 lebih mahal dari Kijang.

Inpres No.2 tahun 1996 itu juga sempat melahirkan mobil merek Bimantara. Pada akhir 1997 mobil Bakrie siap diluncurkan. Menristek ketika itu Habibie, berencana melepas mobil Maleo akhir 1998 yang memakai mesin Orbital Australia.

Awal 1999 pebisnis tekstil dan garmen, Texmaco, memproduksi truk Perkasa. Pabriknya di Kaliwungu, Semarang, malah sudah mampu membuat rekayasa mesin Kijang 7K 1.800 cc. OTOMOTIF sempat uji coba mesin ini yang dicangkokkan di Kijang. Selain truk, juga sudah siap memasarkan MPV-nya.

Tahun 2000 dibuka keran impor mobil utuh. Industri otomotif nasional memasuki era liberalisasi. Namun mimpi membuat mobnas tak surut. Poeng W. Lubis, mantan petinggi mobil Bimantara mendirikan PT. Amazon Automobile Industry pada 2004. Cetak birunya dari Cina dan menyatakan siap masuk ke pasar akhir 2005.

Bagaimana ending-nya ‘mobnas-mobnas’ tersebut? Semua Gagal! Semoga Esemka tak ikut layu sebelum berkembang.


 Industri besar menuntut pekerjaan yang lebih presisi dan massal
Program Mobnas 2014
Saat ini pemerintah sedang mengembangkan program Low Cost and Green Car (LCGC) serta Angkutan Umum Murah Pro Rakyat (sebagaimana Keppres No.10 tahun 2011). Segmentasi LCGC adalah jenis MPV 1.000-1.200 cc dengan konsumsi BBM (Pertamax?) 20-22 km/liter.

Sedang program Angkutan Umum Murah Pro Rakyat ditujukan untuk mengembangkan kendaraan bermerek lokal dengan kapasitas maksimum 700 cc. Usulan insentif perpajakan keduanya belum final hingga sekarang. Dan bisa dipastikan mobil-mobil LCGC dipastikan bukan mobnas – meski komponen lokalnya didorong hingga 90% - karena masih menggandeng merek prinsipal.

Mana yang Anda pilih: mobil merek nasional dengan kandungan lokal tinggi atau berkandungan lokal tinggi tapi bermerek prinsipal?

MENPERIN: Saya Akan Ajak Pemodal
Akan dibawa kemanakah mobil Esemka? Setitik harapan mencuat dari Menperin MS Hidayat. “Saya akan mengundang perhatian pengusaha nasional.” Disebutkan nama-nama seperti Aburizal Bakrie, Chairul Tanjung, Teddy P. Rahmat. Menperin akan mengajak mereka memikirkan investasi kebanggaan nasional tersebut. “Tanpa investor besar, tak mungkin bisa masuk ke dalam skala industri.”

Kata Hidayat, hanya mereka yang punya R&D kuat yang industri (otomotifnya, Red) maju. Dan umumnya R&D itu disokong biaya tak sedikit oleh pemerintah dan pelakunya. “Mungkin kita akan membuat pusat riset nasional, sebuah institusi yang nanti menjadi legalitas bagi pembiayaan yang diberikan oleh pemerintah dan swasta. Tidak diberi pajak sebab untuk keperluan riset.”

Pihaknya juga belajar dari Proton yang kini jadi perusahaan terbuka karena butuh modal cukup besar untuk pengembangan rancang bangun.  (mobil.otomotifnet.com)

Editor : billy

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa