Humanis dan Dekat dengan Pembalap
Toddy menyebut kalau memimpin lomba bukan hanya bertanggung jawab dengan balapannya saja, tetapi secara keseluruhan. Misal pembalap, harus pakai sepatu boots yang menutupi mata kaki.
Namun, suatu ketika sempat ada pembalap yang tidak sanggup untuk membeli sepatu boots, karena harganya terbilang mahal.
Toddy akhirnya memberi masukan untuk membalut sepatu dan kaki dengan lakban sampai tebal agar aman untuk sementara. Tidak serta merta melarang pembalap itu untuk tidak balapan.
“Saya bilang, kalau kamu punya rejeki kamu beli sepatu yang benar,” ujar pria berdarah Ternate dan Perancis tersebut.
Satu lagi yang menurutnya berkesan adalah Asep Hendro. Pembalap senior ini rupanya punya cerita yang cukup menyentuh Toddy.
Baca Juga: Enggak Banyak Yang Tahu, Ini Sebabnya Valentino Rossi Senang dan Jago Reli
Sebelum menjadi seperti sekarang ini, dulu Asep Hendro membalap sekaligus sambil berdagang barang perlengkapan balap bekas.
“Itu orang tekadnya luar biasa. Saya masih ingat, itu di motornya ada boks untuk membawa sepatu dan baju balap bekas yang akan ia betulkan dan dijual lagi,” jelas Toddy yang berkata AHRS bisa menjadi besar karena tekadnya yang luar biasa.
Selain itu, kalau ada pembalap yang melakukan pelanggaran saat balapan, setelah balap diajak bertemu dan ngobrol, dijelaskan soal salah dan benar. Sehingga tidak ada kesan buruk dan tidak diambil hati.
Atensi-atensi yang Toddy beri kepada pembalap membuat orang mengenalnya tidak hanya sebatas jadi pimpinan lomba. Mereka jadi lebih respect di dalam dan di luar trek.
Toddy sendiri sudah menjadi pimpinan lomba sekitar 35 tahun, dan belum berhenti sampai sekarang.
Editor | : | Antonius Yuliyanto |
KOMENTAR