Kesan mendalam juga disebutkan Rendison Joesno.
“Om Darto itu tidak neko-neko orangnya, sederhana. Jujur saja, skripsi gue yang tertunda 2 tahun bisa selesai karena dorongan dia. Menurut gue, he is my father in motorsport,” jelas Rendison.
Darto pernah punya bengkel namanya Dart Racing.
Selain itu, dirinya juga pernah berkiprah sebagai kepala bengkel Nissan Halim.
Meski sebagai pelaku otomotif senior, tapi tidak memperlihatkan kalau dirinya punya ilmu yang banyak.
Otomotifnet sering bincang-bincang dan ngobrol balap dengan Darto.
Pribadinya selalu ramah, canda tawa dan senyum jadi ciri khasnya.
Bahkan ketika proyek mobil balapnya terhenti karena tercium oleh Otomotifnet beberapa tahun lalu.
“Gara-gara elu nih, proyek mobil balap gue berhenti. Enggak jadi deh mobil itu untuk balap, padahal sudah jadi dan sudah test,” sebutnya sambil tertawa saat Otomotifnet berkunjung ke bengkelnya di samping Nissan Halim beberapa tahun silam.
Ketika itu, dirinya mempersiapkan Nissan Grand Livina untuk balap. Sayang harus terhenti.
Oleh almarhum, penulis dipanggil pakai merek minuman bersoda.
Karena sangat sering bertemu dengan dirinya. “Elu kayak Coca Cola ya. Di mana saja ada.”
Selamat jalan Om Darto. Engkau telah membuat motorsport Indonesia jauh lebih berwarna.