Otomotifnet.com - Pernahkah Anda memperhatikan kerikil yang terselip di sela-sela kembangan ban?
Meski terlihat sepele, produsen ban sebenarnya telah menyematkan teknologi khusus untuk mengatasi hal ini.
Namun, teknologi tersebut memiliki batasan yang wajib dipahami oleh setiap pemilik kendaraan.
Ban modern kini dilengkapi dengan fitur Stone Ejector atau pelontar batu.
Teknologi ini bekerja pada celah ban yang umumnya berbentuk "U" (U-shape).
Desain ini memungkinkan kerikil yang terjepit untuk terpental keluar secara otomatis berkat gaya sentrifugal saat roda berputar.
Namun, fitur ini memiliki kelemahan:
-
Kesesuaian Bentuk: Stone ejector sangat efektif jika bentuk kerikil berbeda dengan profil celah ban.
-
Risiko Batu "Kembar": Masalah muncul jika kerikil memiliki bentuk yang presisi dengan celah kembangan ban.
Batu tersebut akan terjepit kuat, bertahan lama, dan tidak bisa terpental keluar dengan sendirinya.
Jika kerikil tetap bersarang di sana selama berhari-hari, ia akan berubah menjadi bom waktu.
Baca Juga: Bahaya Jangan Biarkan Batu Kerikil Mendekam Di Kembang Ban
Baca Juga: 7 Penyebab Utama Kenapa Ban Mobil Kempes, Kenali Sebelum Jadi Masalah
Baca Juga: Jangan Anggap Remeh, Ini Fungsi Bulatan Kuning dan Merah di Ban Mobil
Baca Juga: Bisa Sebabkan Bahaya, Perhatikan 3 Bagian Ban Mobil Saat Musim Hujan
Tekanan yang terjadi terus-menerus saat ban bergesekan dengan aspal akan menciptakan efek drilling (pengeboran).
Secara perlahan namun pasti, kerikil tajam tersebut akan menusuk lapisan karet hingga mencapai konstruksi kawat baja di dalam ban.
Inilah titik bahayanya:
-
Korosi Kawat Baja: Begitu lapisan karet tembus, air akan masuk dan menyebabkan kawat baja berkarat.
-
Kerusakan Struktur: Kawat yang berkarat akan rapuh dan merusak integritas struktur ban secara keseluruhan.
-
Risiko Ban Pecah: Struktur yang melemah akibat karat dan tusukan inilah yang sering menjadi penyebab utama ban pecah secara tiba-tiba saat kendaraan melaju.
Sangat disarankan untuk rutin memeriksa kondisi ban dan mencungkil keluar kerikil yang terjepit menggunakan obeng minus atau alat khusus.
Meskipun fenomena ini lebih sering berakibat fatal pada kendaraan angkutan bermuatan berat, pengguna mobil penumpang tetap tidak boleh abai demi menjaga umur pakai ban dan keselamatan berkendara.