Test Drive Mini Cooper S Cabrio

Kamis, 29 Desember 2016 | 20:01 WIB

Jakarta - Sebut itu Cabrio di Indonesia, Cabriolet atau Convertible di Inggris. Apapun nama yang digunakan, semuanya menandakan atap Mini yang bisa dibuka. Untuk apa? Bila menurut kalian udara di Jakarta tidak semenarik itu untuk mengemudikan sebuah open top, sebaiknya berpikir lagi untuk hatchback yang satu ini.

Selain bentuk awalnya sudah atraktif, membuka atap soft top-nya hanya membuatnya dua kali lebih dilirik. Tidak bercanda, hampir enggak ada yang tidak menujukkan pandangannya ke unit tes berwarna Caribbean Aqua ini. Entah lirikan itu untuk rasa iri atau benci, yang jelas Mini ini menarik sangat banyak atensi.

Kini dalam generasi ketiganya dengan kode bodi F57, sejumlah refinement dan sentuhan khas BMW diberikan. Apakah kebanggan ketika mengendarai dengan atap terbukanya tergandakan lagi dengan khas fun to drive hatchback Inggris ini? Atau adakah yang dikorbankan demi gaya yang dikuadratkan tersebut? • Tim OTOMOTIF

Atap Convetible

Pilihan bahan soft top untuk atap convertible punya efek positif dan negatif. The good parts, pengoperasian mekanisme pembukaan atap benar-benar tenang, tidak mengganggu seisi kabin ketika dilakukan.

Andai saja ada pilihan agar tombol pembukanya tidak perlu ditahan agar pengemudi tidak terlihat canggung melakukannya di jalan raya.

Bahan fabric bermotif bendera Inggris untuk Cooper S ini juga membuat hampir tidak ada penambahan beban keseluruhan, sama-sama di bawah 1,3 ton meski bagian bawah meski mendapat reinforcement tambahan agar tetap serigid Mini F56 standar.

Bisa dibuka setengah, tanpa mengangkat pilar ala-ala panoramic sunroof juga jadi salah satu kelebihannya, yang juga bisa dilakukan dalam kecepatan berapapun.

Sayang akan muncul notifikasi untuk mengurangi kecepatan dan mekanisme berhenti, bila mencoba membuka atap full atau menutupnya di atas 30 km/jam.

Editor : Parwata

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA