Test Ride Honda CRF1000L Africa Twin DCT, Main Tanah Tanpa Gigi Asyik Juga!

Senin, 27 Februari 2017 | 19:36 WIB

Jakarta - Hobi berkelana jauh menggunakan motor besar? Yang terbaru ada Honda CRF1000L Africa Twin, dipasarkan PT Astra Honda Motor 3 Februari 2017 lalu.

Tersedia versi DCT (Dual Clutch Transmission) yang dijual Rp 499 juta seperti yang dites OTOMOTIFNET.COM kali ini, sedang yang manual dibanderol Rp 464 juta.

Dengan DCT, tangan dan kaki kiri lebih rileks karena enggak ada tuas pemindah gigi dan kopling. Seperti apa rasa mengendarainya? Apakah beda dengan versi manual yang pernah OTOMOTIFNET.COM coba di Malaysia dan apa saja fitur unggulan lainnya?  Yuk baca terus!  (Tim OTOMOTIF)

 

Desain

Khas besutan adventure, tongkrongannya tinggi besar. Tampang depan cukup sangar dengan lampu LED yang didesain agresif bak mata melotot.

Windshield tinggi yang mirip besutan rally Dakar makin menguatkan kesan penjelajah. Apalagi dilengkapi kaki-kaki dengan suspensi berlangkah panjang dan ban ukuran 21 dan 18 inci, adventure bike banget!

Simak foto-fotonya di sini

Riding Position & Handling

Sebelum naik motor ini, wajib ukur tinggi badan dulu, kalau di bawah 170 cm harus pikir-pikir dulu. Karena Tester OTOMOTIF yang berpostur 173 cm saja masih jinjit!

Apalagi jika jok disetel tinggi yang jarak dari tanah mencapai 870 mm, kalau disetel rendah yang hanya 850 mm sih lumayan masih menapak. Untuk cara penyetelan jok simak di kolom fitur ya.

Posisi duduk tentu khas motor penjelajah. Setangnya tinggi dipadu jok rendah dan footstep agak ke depan, sehingga segitiga berkendaranya santai biar nyaman. Posisi ini juga memudahkan juga ketika mesti berdiri di jalan gravel.

 

Handlingnya khas Honda, motor bersasis semi double cradle terasa sangat ringan dan lincah, padahal bobotnya 242 kg.

Sudut belok setangnya juga besar, jadi lincah berkelit di jalan sempit. Kerepotan hanya saat di parkiran atau berhenti di trek yang tak rata, karena tinggi dan jinjit tadi.

Karakter suspensinya empuk banget dan punya jarak main panjang, depan 230 mm dan belakang 220 mm. Alhasil melibas jalan rusak jadi tetap nyaman karena enggak terasa, motor tetap diam yang gerak naik turun rodanya.

Namun konsekuensinya ketika melaju dalam kecepatan tinggi dan melibas jalan bergelombang jadi mengayun. Rasanya butuh sedikit seting suspensi nih. Untung adjustable! Tinggal putar kenob untuk suspensi belakang dan ada setelan di atas sokbreker depannya.

 

Performa

Membahas performa, paling penasaran tentu kinerja DCT kan? Bagaimana sih rasanya naik motor sport tapi tanpa tuas gigi dan handel kopling. Saat awal pemakaian memang cukup kagok, tangan kiri reflek cari tuas kopling dan kaki kiri maunya menekan dan mencongkel gigi.

Eits kedua kebiasaan tadi harus dihilangkan ketika naik motor bertransmisi DCT, seperti yang ada juga di Honda NM4 Vultus. Karena yang main cukup jari tangan!

Jadi setelah mesin hidup, tunggu sekitar 1 detik maka indikator gigi di spidometer menyala N (netral), lalu pencet tombol DCT di setang kanan yang bertuliskan D-S N ke kiri.

 

Pencet sekali masuk D (drive), tekan sekali lagi masuk S (sport), sebaliknya pencet ke kanan kembali ke netral.

Sebagai catatan jika standar samping belum dilipat enggak bisa ya! Jika masuk D dan ngegasnya santai, maka transmisi bekerja untuk mengejar efisiensi, secepatnya otomatis masuk ke gigi tinggi agar putaran mesin jadi rendah, tentu biar irit.

Tapi jika digeber, perpindahan gigi terjadi di rpm yang lebih tinggi. Lalu saat gas ditutup dan kecepatan menurun, maka gigi otomatis diturunkan juga tapi kalem.

Nah bila pakai mode S, karakternya langsung berubah jadi agresif, perpindahan gigi terjadi di putaran tinggi, bahkan kalau gas putar mentok baru pindah sesaat sebelum redline di 7.500 rpm.

Begitu juga saat kecepatan turun, otomatis langsung turun gigi dengan cepat sehingga engine brake sangat terasa.
 
Mode S ini sendiri ada 3 tingkat, memilihnya tekan tombol DCT ke kiri dan tahan. Dalam posisi 3 bar, maka power paling galak, 2 sedang dan 1 paling smooth.

 

 
Enggak suka transmisi pindah otomatis? Pencet saja tombol A/M di bawah tombol DCT, maka perpindahan gigi jadi manual.

Untuk menaikkan dan menurunkan gigi, tombolnya ada di setang kiri. Responnya persis motor manual, termasuk sensasi suara ‘ceklek’ ketika tombol dipencet. Bedanya perpindahan berlangsung sangat halus tanpa entakan, seperti kalau kita lepas kopling perlahan.

Maklum sesuai namanya, DCT ini kopling untuk rasio genap dan ganjil ada masing-masing, sehingga ketika masuk gigi 1, gigi 2 sudah siap, demikian seterusnya sampai gigi 6.
 
Oiya ketika pada posisi D atau S, ternyata gigi tetap bisa dipindah manual. Misal di D yang karakternya serasa malas turun gigi, maka pencet saja tombol berlambang – (minus).

Begitu juga dalam mode manual, jika kita telat turun gigi padahal putaran mesin sudah terlalu rendah, maka gigi otomatis diturunkan. Canggih ya?

Transmisi DCT ini menyalurkan tenaga dari mesin 2 silinder segaris dengan konstruksi noken as Uni-cam khas keluarga special engine CRF, kelebihannya konstruksi kepala silinder jadi ringkas.

 

Tenaga yang dihasilkan dari mesin berkapasitas 998 cc berpasokan bensin injeksi PGM-FI ini, mencapai 93,8 dk di 7.500 rpm dan torsi 98 Nm di 6.000 rpm.

Kedua silinder menganut crankshaft dengan beda 270°, karakternya unik karena punya torsi besar dan rata sejak putaran rendah, tapi redline rendah. Efek mesin jadi jarang berkitir tinggi sehingga sangat rileks kendati di kecepatan tinggi. Jalan santai di D cukup main 2.500 rpm!

Walaupun lebih enak untuk cruising santai menikmati angin dan pemandangan selama perjalanan, akselerasinya tetap tergolong cepat. Diukur pakai Racelogic 0-100 km/jam hanya 4,3 detik! Lengkapnya simak tabel.

Keistimewaan lain dari mesin ini adalah suhunya, untuk ukuran mesin hampir 1 liter tak terlalu panas, hanya hangat di area lutut.

Selain karena rasio kompresi hanya 10:1, manajemen pembuangan panas juga bagus, di belakang kipas radiator ada sekat sehingga panas di buang ke samping agar tak mengenai kaki. Radiatornya sendiri ada 2 di kanan dan kiri seperti motor trail.

 

Fitur & Teknologi

Berbagai fitur disematkan Honda pada CRF1000L Africa Twin ini untuk memberi kenyaman selama menaklukkan berbagai kondisi medan.

Mari kita lihat dari kaki-kakinya, depan pakai upside down 45 mm dengan travel 230 mm, sedang belakang monosok pro-link dengan jarak main 220 mm. Keduanya punya setelan preload dan compression, khusus belakang juga ada setelan rebound.

Ban pakai Dunlop Trailmax, depan ukuran 90/90-21, tapaknya sempit ya untuk motor segini besar? Efeknya setang jadi sangat enteng, tapi rebah sedikit saja tapak ban langsung habis.

Sedang belakang ukuran 150/70-18. Keduanya masih pakai ban dalam membalut pelek aluminium. Oiya kembangan bannya cenderung lebih cocok untuk jalan aspal, paling maksimal gravel.

Kalau ketemu tanah basah licin! Dan jangan iseng lewat tanah lengket, karena tanah bisa tersangkut antara ban dan sepatbor, efeknya roda depan akan macet sehingga terpaksa harus bongkar sepatbor.

Terjebak lumpur, harus copot sepatbor
Tanpa sepatbor depan, trek tanah lebih mudah dilibas

Kedua roda dilengkapi rem ABS, yang mana ABS belakang bisa dimatikan dengan memencet tombol di sebelah kanan spidometer.

Sedang untuk traksi ada control traction 3 tingkat dan bisa dimatikan, tombolnya ada di setang kiri. Pada posisi 3 kerjanya sangat sensitif, slip sedikit seperti loncat di polisi tidur mesin langsung ‘brebet’.

Untuk mematikan pencet dan tahan tombol berlambang T ini.  Ada juga tombol G, ini untuk mode gravel yang mana akan mengatur torsi ke roda agar sesuai kondisi gravel.

Fitur lainnya ada lampu LED yang pancaran sinarnya terang banget. Dan telah tersedia dudukan top box serta pannier.

Melongok spidometer, terbagi dalam 2 layar. Atas untuk takometer, spidometer, fuelmeter. Bawah info posisi gigi dan DCT, odometer, tripmeter, konsumsi bensin, jam, traction control, waktu pemakaian dan suhu mesin. Sedang di kanan kiri ada info lampu-lampu.

Setangnya berbahan aluminium model fatbar, karakternya rigid dan mantap. Raisernya dikasih peredam karet, sehingga getaran tak terasa. Footstep pengendara pun dikasih karet, hasilnya juga minim vibrasi.

Jok depan ada 2 posisi, tinggi dan rendah dengan beda ketinggian 2 cm. Mengaturnya tinggal posisikan dudukan belakang dan depan, mau pakai yang atas atau bawah. Simpel!

 

Konsumsi Bensin

Dipakai untuk melibas berbagai kondisi jalan, termasuk kemacetan, semi off-road dan luar kota yang lancar sekitar 250 km di layar tercantum angka 13,3 km/liter.

Data Tes :
0-60 km/j: 2,5 detik
0-80 km/j: 3,3 detik
0-100 km/j: 4,3 detik
0-100 m: 5,6 detik (@123,5 km/j)
0-201 m: 8,3 detik (@147,4 km/j)
0-402 m: 12,8 detik (@168,6 km/j)
Konsumsi bensin: 13,3 km/lt

Editor : Parwata

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X