Test Ride Honda CRF1000L Africa Twin DCT, Main Tanah Tanpa Gigi Asyik Juga!

Parwata - Senin, 27 Februari 2017 | 19:36 WIB

(Parwata - )

Kedua silinder menganut crankshaft dengan beda 270°, karakternya unik karena punya torsi besar dan rata sejak putaran rendah, tapi redline rendah. Efek mesin jadi jarang berkitir tinggi sehingga sangat rileks kendati di kecepatan tinggi. Jalan santai di D cukup main 2.500 rpm!

Walaupun lebih enak untuk cruising santai menikmati angin dan pemandangan selama perjalanan, akselerasinya tetap tergolong cepat. Diukur pakai Racelogic 0-100 km/jam hanya 4,3 detik! Lengkapnya simak tabel.

Keistimewaan lain dari mesin ini adalah suhunya, untuk ukuran mesin hampir 1 liter tak terlalu panas, hanya hangat di area lutut.

Selain karena rasio kompresi hanya 10:1, manajemen pembuangan panas juga bagus, di belakang kipas radiator ada sekat sehingga panas di buang ke samping agar tak mengenai kaki. Radiatornya sendiri ada 2 di kanan dan kiri seperti motor trail.

 

Fitur & Teknologi

Berbagai fitur disematkan Honda pada CRF1000L Africa Twin ini untuk memberi kenyaman selama menaklukkan berbagai kondisi medan.

Mari kita lihat dari kaki-kakinya, depan pakai upside down 45 mm dengan travel 230 mm, sedang belakang monosok pro-link dengan jarak main 220 mm. Keduanya punya setelan preload dan compression, khusus belakang juga ada setelan rebound.

Ban pakai Dunlop Trailmax, depan ukuran 90/90-21, tapaknya sempit ya untuk motor segini besar? Efeknya setang jadi sangat enteng, tapi rebah sedikit saja tapak ban langsung habis.

Sedang belakang ukuran 150/70-18. Keduanya masih pakai ban dalam membalut pelek aluminium. Oiya kembangan bannya cenderung lebih cocok untuk jalan aspal, paling maksimal gravel.

Kalau ketemu tanah basah licin! Dan jangan iseng lewat tanah lengket, karena tanah bisa tersangkut antara ban dan sepatbor, efeknya roda depan akan macet sehingga terpaksa harus bongkar sepatbor.

Terjebak lumpur, harus copot sepatbor
Tanpa sepatbor depan, trek tanah lebih mudah dilibas

Kedua roda dilengkapi rem ABS, yang mana ABS belakang bisa dimatikan dengan memencet tombol di sebelah kanan spidometer.

Sedang untuk traksi ada control traction 3 tingkat dan bisa dimatikan, tombolnya ada di setang kiri. Pada posisi 3 kerjanya sangat sensitif, slip sedikit seperti loncat di polisi tidur mesin langsung ‘brebet’.

Untuk mematikan pencet dan tahan tombol berlambang T ini.  Ada juga tombol G, ini untuk mode gravel yang mana akan mengatur torsi ke roda agar sesuai kondisi gravel.

Fitur lainnya ada lampu LED yang pancaran sinarnya terang banget. Dan telah tersedia dudukan top box serta pannier.

Melongok spidometer, terbagi dalam 2 layar. Atas untuk takometer, spidometer, fuelmeter. Bawah info posisi gigi dan DCT, odometer, tripmeter, konsumsi bensin, jam, traction control, waktu pemakaian dan suhu mesin. Sedang di kanan kiri ada info lampu-lampu.

Setangnya berbahan aluminium model fatbar, karakternya rigid dan mantap. Raisernya dikasih peredam karet, sehingga getaran tak terasa. Footstep pengendara pun dikasih karet, hasilnya juga minim vibrasi.

Jok depan ada 2 posisi, tinggi dan rendah dengan beda ketinggian 2 cm. Mengaturnya tinggal posisikan dudukan belakang dan depan, mau pakai yang atas atau bawah. Simpel!

 

Konsumsi Bensin

Dipakai untuk melibas berbagai kondisi jalan, termasuk kemacetan, semi off-road dan luar kota yang lancar sekitar 250 km di layar tercantum angka 13,3 km/liter.

Data Tes :
0-60 km/j: 2,5 detik
0-80 km/j: 3,3 detik
0-100 km/j: 4,3 detik
0-100 m: 5,6 detik (@123,5 km/j)
0-201 m: 8,3 detik (@147,4 km/j)
0-402 m: 12,8 detik (@168,6 km/j)
Konsumsi bensin: 13,3 km/lt