Hasil Lengkap Test Ride Kawasaki Versys-X 250 Tourer, Enggak Terlalu Kencang Tapi Nyaman dan Lincah

Parwata - Kamis, 14 September 2017 | 12:42 WIB

(Parwata - )

JAKARTA - Diperkenalkan akhir 2016 silam, lalu sempat first ride di kawasan Bromo Februari 2017, dan baru Agustus ini bisa test ride Kawasaki Versys-X 250.

Jedanya lama ya? Banget! Terhambat susahnya dapat unit pinjaman dari PT Kawasaki Motor Indonesia.

Dan setelah melakukan test ride Versys-X 250 tipe Tourer hampir 1.000 km untuk harian maupun turing, OTOMOTIF merasa menyesal!
 
Kenapa? Simak terus yuk ulasan motor yang dijual Rp 73,1 juta (OTR) ini. Tim OTOMOTIF
 
Desain 
 
Tampangnya harus diakui agak aneh ya? Terutama mukanya yang berkesan pesek dipadu windshield tegak banget, makanya banyak yang menambah aksesori moncong bebek tepat di bawah lampu utama. Heran kenapa Kawasaki tidak menerapkan desain Versys 650 atau 1000 saja?
 
Spidometernya punya menu yang lengkap banget dan tentunya mudah dipantau
 
Fitur & Teknologi
 
Yang dites tipe Tourer dilengkapi berbagai aksesori tambahan yang ternyata terpakai banget di perjalanan.
 
Pertama ada hand guard, yang efektif menahan angin, saat jalan malam terasa banget tangan enggak dingin. Cuma bahannya memang plastik tipis banget.
 
Masih soal angin, keberadaan windshield walaupun kelihatan pendek, tapi ternyata sakti membelah angin dan diarahkan ke atas dan samping. Jalan malam pakai jaket tipis pun jadi enggak terasa dingin loh!
 
Fog lamp sangat membantu penerangan saat perjalanan malam, bisa mengisi area gelap tepat 
di depan motor
 
Lalu yang kepakai banget ketika jalan malam tentu saja fog lamp yang nempel di engine guard. Pancaran sinar putihnya bisa memenuhi area gelap tepat di depan motor, yang tak bisa disinari lampu utama yang nyalanya redup.
 
Side box alias pannier pastinya kepakai banget buat bawa perlengkapan perjalanan, minimal jas hujan dan baju ganti. Cuma kapasitasnya memang tergolong kecil, karena sisi tengahnya menyempit dan bahan plastiknya tipis. 
 
Side box cukup membantu bawa perbekalan selama perjalanan
 
Dari sisi teknologi, di versi Tourer ini tentu saja ABS kepakai banget saat melibas jalan tanah yang licin, mengerem jadi enggak khawatir mengunci.
 
Satu lagi adanya assist & slipper clucth bikin nyaman!
 
Pertama handel kopling jadi ringan banget, main satu jari juga bisa loh. Dan jangan khawatir penyaluran tenaga jadi selip, buktinya tetap mudah diajak wheelie. Nah yang kedua tentu saat engine brake roda belakang jadi enggak mudah mengunci. 
 
 
Riding Position & Handling
 
Posisi duduk pastilah mendukung untuk perjalanan jauh, nyaman! Didapat dari kombinasi joknya yang rendah, dipadu setang tinggi dan posisi footstep pas lurus jok, jadi ketika kaki turun tulang kering menyenggol foostep. 
 
Oiya tinggi joknya 815 mm, saat berhenti untuk rider 173 cm ngepas banget. Joknya punya penampang yang lebar tapi busanya agak kaku.
 
Bagaimana handling-nya? Nah ini yang bikin menyesal baru test ride sekarang, ternyata enak banget!
 
Joknya lebar tapi busanya agak kaku, masih cukup nyaman sih
 
Karakternya sasis dan kaki-kakinya kaku, sehingga laju motor tergolong nurut banget, enak ditekuk ke kanan kiri dalam kecepatan rendah maupun tinggi sesuai kemauan pengendara. 
 
Lirik juga rake suspensi depan, ternyata cuma 24,3°, itu rapet banget loh! Pantas kalau lincah kendati bobotnya 184 kg.
 
Suspensinya punya karakter yang lebih condong untuk jalan aspal, tapi untuk melibas jalan semi off-road juga asyik. 
 
Depan yang pakai teleskopik 41 mm tergolong cukup lembut, sehingga melibas jalan tak rata atau polisi tidur bisa sikat tanpa ragu, apalagi ukuran bannya pakai ring 19 inci. 
 
Suspensinya lebih condong untuk jalan aspal, lebih mengejar stabil
 
Suspensi monosok uni-track belakang dalam setelan standar cenderung kaku. Tentu menunjang kestabilan apalagi ketika menikung di kecepatan tinggi, tapi melipas jalur bumpy pantat tetap mudah dikontrol. 
 
Oiya tapi ada catatan terutama saat dipakai di dalam kota yang padat, adanya 2 buah boks di belakang tentu mengurangi kelincahan. Jika tak hati-hati boks bisa nyangkut atau minimal menyenggol kendaraan lain!
 
Satu lagi, bagian tangki yang diapit paha terasa hangat, suhu mesin memang cenderung tinggi, di spidometer sering sampai 5 bar dari maksimal 6 bar. 
 
Ban IRC Trail Winner punya cengkeraman yang bagus di aspal maupun gravel
 
Performa 
 
Basis mesin dari Ninja 250, tapi ternyata karakternya sangat berbeda, Versys-X 250 ini penyaluran tenaganya cenderung lebih lembut dari bawah sampai limiter di 13.200 rpm. Di bawah 5.000 rpm bahkan bisa dibilang lemot banget.
 
Karakter penyaluran tenaga yang lembut buat perjalanan jauh yang santai memang cocok, tapi buat rider agresif pasti geregetan, apalagi ketika akan menyalip. Terpaksa tuh selain turun gigi, jurus sedikit selip kopling harus dilakukan.
 
Lembutnya penyaluran tenaga bisa dilihat dari data akselerasi pakai Racelogic, ambil contoh pencapaian 100 km/jam yang butuh 8,3 detik.
 
Bandingkan dengan Ninja 250 yang hanya 7,5 detik. Data lengkap akselerasi silakan simak tabel.
 
Karakter mesin lembut, jadi jalan santai saja
 
Konsumsi Bensin
 
Pakai bensin bervariasi, maklum ketika perjalanan keluar kota kadang hanya ketemu Pertalite dan kadang Pertamax, konsumsi bensin Versys-X 250 Tourer ini ternyata tergolong irit. Tertera di spidometernya rata-rata 26 km/L.
 
Pencapaian segitu juga dalam kecepatan bervariasi tergantung kondisi jalan yang dilalui. Jadi kadang bermacet-macetan, kadang gas pol sampai mentok.
 
 
Data Tes
0-60 km/j: 3,2 detik
0-80 km/j: 5,3 detik
0-100 km/j: 8,3 detik
0-100 m: 6,5 detik (@89,2 km/j)
0-201 m: 10,2 detik (@107,4 km/j)
0-402 m: 16,4 detik (@121,7  km/j)
Konsumsi bensin: 26 km/L
 
Data spesifikasi
Tipe mesin: Liquid-cooled, 4-stroke Parallel Twin
Kapasitas mesin: 249 cc
Bore x stroke: 62 x 41,2 mm
Rasio kompresi: 11,3:1
Sistem katup: DOHC, 8 klep
Sistem bahan bakar: Fuel injection ø28 mm x 2 with dual throttle valves
Pengapian: Digital
Starting: Electric
Pelumasan: Forced lubrication, wet sump
Tenaga maksimal: 33,3 dk @ 11.000 rpm
Torsi maksimal: 21,7 Nm @ 10.000 rpm
Transmisi: 6 percepatan
Final drive: rantai
Primary reduction ratio: 3,087 (71/23)
Gear ratio: 1st: 2,600 (39/15)
2nd: 1,789 (34/19)
3rd: 1,409 (31/22)
4th: 1,160 (29/25)
5th: 1,000 (27/27)
6th: 0,893 (25/28)
Final reduction ratio: 3,286 (46/14)
Kopling: wet multi-disc, manual
Tipe sasis: backbone, high-tensile steel
Ban depan: 100/90-19M/C 57S
Ban belakang: 130/80-17M/C 65S
Caster (rake): 24,3°
Trail: 108 mm
Sudut belok kanan-kiri: 40°/40° 
Suspensi depan: 41 mm telescopic fork
Suspensi belakang: Bottom-Link Uni-Trak, gas-charged shock
Jarak main roda depan: 130 mm
Jarak main roda belakang: 145 mm
Rem depan: Single 290 mm petal disc
Kaliper: single balanced actuation dual-piston
Rem belakang: Single 220 mm petal disc
Kaliper: dual-piston
P x L x T: 2.170 x 860 (Tourer 940) x 1.390 mm 
Jarak sumbu roda: 1.450 mm
Jarak terendah: 180 mm
Tinggi jok: 815 mm
Bobot basah: 173 kg (Std) 184 kg (Tourer)
Kapasitas bensin: 17 liter