Berawal Terlalu Sering Main di Sirkuit, Akhirnya Jadi Terjerumus

Toncil - Senin, 4 Mei 2020 | 18:15 WIB

Honda Genio 1995 yang saat itu digeber Muhammad Ichsan (Toncil - )

Ketika itu, Ichsan mempercayakan ke bengkel R Speed di bawah komandan Heron serta Toto.

Modalnya jelas tak cukup hanya doa saja, tapi persiapan yang sangat mumpuni.

Awal keikutsertaannya menggunakan mesin kawinan, antara B20 dan atasnya pakai B18.

Akhir musim kompetisi 2013, mesin upgrade. Salah satu caranya blok bawah tetap pakai B20, namun aftermarket keluaran S90.

toncil/Otomotifnet.com
Mesin kolaborasi antara B18 dan B20.

Keunggulannya, desain blok lebih tebal sehingga lebih kuat. Serta mampu menampung piston dengan maksimal diameter 87 mm, sedangkan B20 standar hanya 84 mm.

Berbeda dibanding blok bawah, isi kepala silinder dipilih dari satu merek, yaitu Toda.

Mulai camshaft, per klep, klep, serta cam gear.

Menurut tuner yang banyak menangani mobil balap (reli, drag race, slalom, dan turing), sudah sejak lama dirinya jika meracik mesin Honda menggunakan keluaran Toda.

Sementara itu, untuk suspensi dipilih keluaran K'Sport untuk Honda dengan kode DC2, padahal Honda Genio memiliki kode bodi EG.

toncil/Otomotifnet.com
Lampu dilepas, gantinya sebagai corong untuk udara masuk.

Menurut pembalap tim Nusantara Speed Racing tersebut, hal ini karena perangkat mesin juga diambil dari DC2, bukan EG.

Sehingga, secara spesifikasi suspensi disesuaikan dengan mesin.

Asumsinya, dengan kesesuaian tersebut, maka kinerja suspensi coilover tersebut tak terlalu berat.