Menyongsong Peralihan Era Kendaraan Listrik, Gaikindo Berharap Begini

Harryt MR - Minggu, 17 Oktober 2021 | 23:10 WIB

(ilustrasi) Mobil listrik Toyota COMS memiliki kapasitas satu penumpang. Jarak tempuhnya kurang dari 50 kilometer (Harryt MR - )

Otomotifnet.com - Disrupsi teknologi kendaraan listrik makin santer digaungkan sebagai upaya menekan emisi karbon, serta lepas dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Peta jalan pengembangan kendaraan listrik (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) di Indonesia sudah ditetapkan pemerintah dan akan segera diterapkan.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong industri otomotif Indonesia menuju era elektrifikasi.

Ketua V Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Shodiq Wicaksono berharap peralihan penggunaan kendaraan listrik bisa berlangsung secara alami.

Baik dari sisi masyarakat, maupun industri. Ia menilai lantaran banyak faktor yang mempengaruhi.

 

Baca Juga: Cetak Rekor! Penjualan Mobil Listrik Toyota Melejit Saat Pandemi

“Contohnya dahulu masyarakat Indonesia menggunakan mobil bertransmisi manual, namun untuk mengenalkannya ke transmisi otomatis dilakukan edukasi oleh APM secara alamiah sampai akhirnya mereka beralih sendiri,”

“Begitu juga dengan EV ini mungkin bisa dilakukan dengan pendekatan transisi secara alamiah,” papar Shodiq, lewat webinar bertajuk Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi (15/10/2021).

Ia pun menilai strategi peralihan secara alamiah terbukti berhasil diterapkan pemerintah, yakni dalam upaya menurunkan emisi karbon melalui produksi Low Cost Green Car (LCGC) yang dilakukan pada 2013 lalu.

“Sampai saat ini kontribusi penjualan LCGC terhadap total penjualan kendaraan nasional bisa bertahan di angka 20%. Jadi memang stepping menuju pure EV itu perlu dilakukan secara alamiah,” imbuhnya, melalui perhelatan Forum Wartawan Industri (Forwin) tersebut.

Seperti diketahui sebelum industri nasional bisa memproduksi baterai kendaraan listrik sendiri, ada dua teknologi lain yang bisa dijadikan tahapan menuju kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV).

Yaitu HEV (Hybrid Electric Vehicle) dan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).

“Seberapa cepat kita bisa menuju BEV tergantung kesiapan para stakeholder. Kalau baterai kendaraan listrik yang murah bisa tersedia dengan cepat,”

“Dan insentif pembelian atau penjualan BEV bisa diberikan dengan baik, maka prosesnya bisa lebih cepat. Artinya ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum mencapai ke BEV,” kata Shodiq.

Gaikindo menurutnya juga mencatat ada beberapa tantangan yang akan terjadi apabila Indonesia tidak melalui tahapan alamiah menuju BEV.

 

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Hyundai Pilih Karawang Jadi Lokasi Pabrik Baterai

Tantangan utama adalah harga jual BEV yang tersedia di Indonesia saat ini masih tergolong mahal alias masih di angka Rp 600 juta lebih.

“Sementara daya beli masyarakat Indonesia untuk kendaraan itu masih sekitar di bawah Rp 300 juta. Ada gap Rp 300 juta yang perlu diperhatikan,”

“Kalau ada teknologi baterai yang bisa cepat diproduksi di dalam negeri dengan lebih murah dan efisien, maka harga EV akan lebih murah karena sekitar 40-60% harga mobil listrik itu berasal dari baterai,” sambungnya lagi.